Kamis, 17 Desember 2015

Kesepakatan indah di pekatnya kabut malam

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang kisah ini, tapi seperti biasanya aku lebih suka mengkhayal dan membuat cerita semakin liar sebatas di dalam pikiran saja, untuk menuangkannya, butuh seribu kejadian lucu yang menumpuk berdesak-desakan di dalam otak kecilku, sehingga malam ini aku mulai melentikkan jemariku menuangkan kisah lucu malam ini.
SAMBIL TERBATUK-BATUK, aku berbelok dari ujung jalan gedung apartemen anak dampinganku. Malam ini merupakan malam yang ke sekian kali aku menjagainya hingga tertidur saat kedua orangtuanya pergi makan malam di luar atau menonton konser band kesayangan mereka manggung. Pukul sembilan lewat 15 malam waktu Lausanne, saat kabut tebal yang sedari pagi masih setia menutupi langit-langit kota ini, aku berharap tidak tersandung bangku taman SMA, di  depanku. Oh malam ini betul-betul dingin, bisikku dalam hati. Benar saja, batukku yang hampir saja hilang setelah satu minggu menggerogoti tenggorokanku, kembali bersenandung. "Uhuhkkk uhukkkk...uhukkkkk..."
Tiga kali terbatuk, samar-samar kudengar senandung lagu India "tum a chaneee...tummm a chaneee...tummm...tummm" dilagukan oleh suara yang jelas-jelas berat namun merdu...Apa Shahrukh Khan pindah ke kota Lausanne, pikirku. 

Langkah kakiku tertahan saat samar-sama kulihat sesosok manusia berambut panjang sepunggung, dengan gaun hitam ketat sepaha dipadukan dengan "stocking" hitam transparan membalut kaki mungilnya, kulayangkan mataku ke wajahnya untuk memastikan apakah dia betul hidup atau jelmaan bidadari yang turun dari langit berkabut malam ini. Dia melirikku dan kusapa dia dengan sapaan selamat malam, seakan tidak mendengar diapun meliuk-liukkan tubuhnya di depan kaca jendela gedung sambil kembali berdendang "tummm a chaneee..tummm a chaneee...tumm..tumm". Ohhh, liukannya melebihi kemampuan Dewi Persik si ratu gergaji dari negaraku. Aku kembali terbatuk, kali ini aku ngga yakin aku terbatuk karena tenggorokanku yang gatal lagi, atau aku terbatuk karena keselek air ludah akibat aksi liukannya :P
Sambil kupegang telepon genggamku, aku berpura-pura sibuk menyukai foto-foto indah seorang teman di Instagram. Sesekali mataku melirik ke kiri dan ke kanan, kulihat dua sosok manusia dengan penampilan yang tidak kalah dari sosok penari yang kutinggalkan di belakang. Aku tidak mengucapkan selamat malam lagi, bukan karena malas tidak dibalas, namun karena batukku tak berhenti berdehemmmm...Mobil-mobil yang dikendarai lelaki berbagai bentuk wajah berlewatan melakukan pengamatan situasi. Inilah episode yang kutakutkan. Jika di bulan-bulan lalu aku berjalan dengan gaya slenge`an, dengan memasangkan tas punggungku di depan dada, dan mengayun-ayunkan payung cantikku dengan kasar, sambil membuka lebar kedua lenganku, seolah-olah aku baru selesai fitness dengan hasil lengan yang masih kaku, kali ini aku rapatkan kedua lenganku ke dada, sambil membetulkan posisi topi dinginku, aku terbatuk-batuk sambil berpikir semoga mereka kasihan sama nenek tua satu ini. TIDAK INGIN terulang lagi, di tempat ini juga beberapa bulan lalu, setelah pulang dari rumah anak dampinganku. Aku ketakutan karena disapa selamat malam oleh seorang lelaki dari balik setir mobilnya. Pengalaman yang sama sudah pernah terjadi juga beberapa tahun lalu di Jakarta saat saya menunggu teman di pojokan persimpangan menuju jalan jaksa, seorang lelaki dengan suara sok akrab dari kursi penumpang sebuah taksi menawarkan tumpangan untuk masuk ke dalam taksi, aku berpura-pura tidak kenal tapi karena dia bertahan sok mengenalku, aku sahut dengan sedikit berteriak "kamu tidak dengar, aku tidak butuh tumpangan". Kadang aku pikir, ada baiknya juga aku tercipta jadi orang yang sedikit kasar ;)


Kembali ke remangnya kabut malam ini, tidak jauh di hadapanku kulihat sepasang kaki yang berdiri tegak membentuk sudut 90° dengan badan, tanpa kepala, apa?????iya tanpa kepala, karena kepala dan setengah badannya berada di dalam mobil sedang merundingkan kesepakatan dengan lelaki yang berada di balik setir, tidak sampai satu menit aku lihat badan dan kepalanya tertarik keluar dan sosok itu melangkah ke pintu mobil di sebelah mas supir. Selamat ya, atas kesepakatannya! Saat itu juga, aku sepakat dengan diriku sendiri untuk tidak melirik ke kiri atau ke kanan lagi, selain saat menyeberang jalan. Aku ingin cepat-cepat tiba di rumah...namun sepanjang jalan menuju angkutan metro, sepanjang berada di dalam metro, sepanjang jalan dari pemberhentian metro menuju rumah, senandung tum a chaneee.....menari-nari di pikiranku. Aku tersenyum dan berharap dalam hati semoga sosok penari dengan liukan indah dan suara merdu itu berhasil membuat kesepakatan malam ini, paling ngga satu kesepakatan menjelang kabut malam berganti cahaya terang mentari besok pagi.

Nb:rumah anak dampinganku memang sangat dekat dengan jalan dimana para sosok-sosok penari dan pesenandung malam nongkrong menikmati udara malam di sepanjang empat musim setiap tahunnya.

Senin, 14 Desember 2015

Arung jeram, olah raga pilihanku, dulu!


Arung jeram adalah satu olah raga yang dilakukan di sungai. Kegiatan olah raga ini merupakan satu tantangan. Tetapi banyak pecinta alam di Indonesia yang meggemari olah raga ini. Di Indonesia, olah raga ini mulai digemari pada tahun 1990 an. Alasan yang mendorong orang-orang untuk menggemari olah raga ini memang beragam. Ada yang melakukan karena kesenangan, ada yang melakukannya sebagai kegiatan kelompok, ada juga yang melakukannya dengan cara profesional. Secara umum, para penggiat ini dibagi dalam kelompok pemula dan kelompok ahli. Kelompok pemula adalah orang-orang yang melakukan arung jeram untuk kesenangan selama akhir pekan atau selama liburan tetapi tidak menggiatinya secara terus-menerus. Biasanya, mereka didampingi oleh seorang pemandu dari salah satu agen wisata arung jeram. Kelompok ahli adalah orang-orang yang mempelajari olah raga ini secara mendalam dan berkelanjutan. Sering dilakukan oleh para pelajar dari kampus, diatur per fakultas dalam kelompok pecinta alam. Arung jeram menjadi salah satu kegiatan yang wajib dipelajari oleh anggota pecinta alam dan ada dalam program kegiatan organisasi.
                                     
Dulu,waktu saya mahasiswa, saya bergabung dalam kelompok pecinta alam di fakultas Filsafat UGM dan saya menjadi ketua divisi arung jeram. Saya juga menjadi anggota dari kelompok Forum Arung Jeram Yogyakarta (FAJY). Bersama anggota FAJY, kami melakukan berbagai ekspedisi sungai-sungai di berbagai daerah di Indonesia. Biasanya, kami melakukan arung jeram di sungai berarus deras. Tingkat kesulitan dibagi menjadi 6 tingkat: dari tingkat 1 hingga tingkat 6. Untuk para pemula disarankan untuk melakukan arung jeram di sungai dengan tingkat kesulitan 1 hingga 3. Untuk kelompok ahi dan profesional bisa melakukan arung jeram di sungai dengan tingkat kesulitan 3 hingga 5. Sungai dengan tingkat kesulitan sangat berbahaya dan tidak ditujukan untuk kegiatan arung jeram. Tingkat kesulitan bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan ketinggian air, tekanan arus deras atau dipengaruhi oleh musim. Selama pengarungan di sungai, sering harus berhenti  berkali-kali untuk melakukan pemantauan (scouting) kondisi sungai. Ini dilakukan dari perahu atau dari tepi sungai untuk mengetahui sisi berbahaya dan memutuskan jalur mana yang akan dilalui.
Peralatan penting untuk melakukan olah raga ini terdiri dari perahu karet, dayung, pelindung kepala, pelampung, tas tahan air, dan pompa. Jumlah penumpang dalam satu perahu biasanya 6 orang: 5 pendayung dan 1 pemandu (skipper) yang berfungsi sebagai kapten perahu. Olah raga ini adalah olah raga tim karena seluruh anggota tim harus bekerja sama dan mendengarkan arahan dari sang kapten. Singkatnya, sang kaptenlah yang mengatur jalannya perahu. Itulah mengapa dia ditempatkan di bagian belakang dengan posisi sedikit lebih tinggi dari yang lain supaya bisa melihat dengan jelas arus sungai. Tiga pendayung yang duduk di sisi kanan perahu dan dua di sisi kiri. Tugas para pendayung ini adalah untuk membuat perahu semakin bergerak maju. Saya bisa gunakan peribahasa berikut: kapten adalah kemudinya dan para pendayung adalah baling-balingnya.
Arung jeram adalah salah satu olah raga yang beresiko. Selama lima tahun saya menggeluti olah raga ini, sudah lima orang meninggal karena kecelakaan selama kegiatan. Mereka jatuh ke dalam jeram dengan arus yang deras dan terjebak dalam putaran air seperti dalam mesin cuci pakaian. Mereka tenggelam dalam air keruh. Ketika seseorang meninggal dalam salah satu jeram, biasanya nama mereka dijadikan sebagai nama jeram tersebut sebagai kenang-kenangan. 
Pada akhirnya arung jeram bagiku adalah pelajaran nyata dalam hidup. Perjalanan menyusuri sungai dari titik keberangkatan hingga titik akhir, dipenuhi dengan masa bahagia tetapi juga masa sulit: saat terjatuh, harus naik lagi ke perahu, lelah mendayung, tetapi kita belajar bagaimana berkomunikasi dengan anggota tim, saling bekerja sama, mengikuti arahan kapten supya tidak terbalik. Semua orang harus bekerja bersama-sama dan saling berkoordinasi supaya perahu tetap berada di arah yang pas. Arung jeram mengajarkanku bagaimana hidup bersama dengan orang lain.




Merayakan cinta (lagi) di Gletser Trient

Setelah berhasil merayakan ulang tahun pertama pernikahan kami di Gletser Aletsch pertengahan bulan September tahun lalu, tahun ini lagi-lagi Patrick memunculkan ide untuk pergi mendaki ke pegunungan Alpen. Memang pertengahan bulan September sangat ideal untuk melakukan pendakian ke gunung, karena tepat akhir musim panas cuaca sangat bagus dan pemandangan pegunungan Alpen akan sangat indah. Ide kali ini adalah mendaki ke gletser Trient di barisan pegunungan "Mont Blanc" tepatnya di kabupaten Valais. Asal nama gletser ini diambil dari nama desa yang berada di di bawah lembah pegunungan ini. Untuk menuju ke sana kami menggunakan mobil kira-kira satu jam perjalanan dari kota Lausanne. Setelah memarkir mobil di parkiran umum, kami membeli tiket angkutan "mobil kabel" (yang biasanya dipakai para penggiat olah raga ski) untuk naik hingga awal pendakian kami menuju puncak Trient. Sebenarnya kami bisa mengawali pendakian dari parkiran hingga ke puncak namun akan membutuhkan waktu satu hari hingga tiba di puncak. Niat itu kami simpan untuk perjalanan pulang nanti.
Seperti biasanya, awan kabut menutupi pegunungan saat kami tiba di titik awal pendakian. Saat itu sudah pukul 12 siang, kemana matahari? Kami coba bertanya kepada orang yang sudah turun dari puncak mengenai keadaan cuaca di puncak, mereka bilang memang kabut, namun keadaan mungkin akan berubah. Kami akhirnya putuskan makan piknik yang sudah kami siapkan dari rumah. Sambil memperhatikan gerakan awan yang semakin naik dan naik, dan...setelah selesai kami putuskan memulai perjalanan.

Udara masih terasa dingin, namun matahari perlahan menampakkan wujudnya. Sepertinya dia malu-malu kucing melihat kami :P. Hal unik yang kami temukan adalah bebatuan yang berwarna hijau karena dilapisi oleh lumut. Mungkin karena ini daerah lembah dan lembab sehingga lumut suka hidup. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan banyak orang termasuk anak-anak yang suka mendaki bersama orangtua mereka. Ini memberikan semangat bagiku saat jalur mulai agak sulit dan melelahkan. Hal lain yang membuattku tercengang adalah ketika berpapasan dengan seeorang lelaki dengan tongkat penyanggah, karena dia hanya memiliki satu kaki. Dia dengan timnya melakukan perjalanan turun. Aku memperhatikan gerakannya, dasar mataku ini ga bisa beralih (soalnya baru pertama kali melihat orang seperti itu). Aku takjub dengan semangatnya dan usahanya. Dia sangat menginspirasiku!
Setelah tiga jam mendaki dan melewati lembah, kami akhinya menemukan ujung sungai gletser, tandanya sebentar lagi kami akan tiba. Gletser di Trient ini berbeda dengan gletser Aletsch, tempat dimana tahun lalu kami pergi juga. Kuantitas gletser sudah berkurang, yang kami lihat hanya genangan es yang mencair dan mengalir menuju lembah curam. Sejauh mata memandang, kami akhirnya berhasil melihat awal sungai gletser, terhampar putih memukau. Samar-samar juga kulihat satu rumah gunung di sisi tebing kanan dan berhadapan tepat dengan sungai gletser. Itulah tujuan kami? Ternyata benar, kami akan menginap di rumah itu, namanya Cabane d'Orny. Rumah ini adalah salah satu rumah gunung tujuan para pendaki dan pemanjat.                      

Tiba di penginapan kami manfaatkan untuk menikmati sinar matahari di teras dengan pemandangan danau kecil di sebelah kanan dan hamparan sungai gletser dan puncak cadasnya. Tidak disangka kami bertemu dengan teman kuliah Patrick dan teman pendakiannya, yang sudah tiba di tempat ini satu hari sebelumnya. Karena dia adalah pecinta panjat, dia mengajak kami untuk melakukan latihan panjat di tebing belakang penginapan. Aku sangat semangat tapi juga takut karena sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan panjat di tebing. Kami memilih jalur yang tidak terlalu sulit karena aku dan Patrick bukanlah pemanjat yang handal. Hingga matahari hampir terbenam, kami selesaikan kegiatan panjat dan kembali ke penginapan untuk makan malam. Ga pake mandi karena airnya sangat dingin persis kayak air es batu yang baru mencair. Maklum di gunung ini tidak ada aliran listrik dari negara, pemilik penginapan hanya menggunakan mesin untuk mengaliran listrik. Ccuci muka dan sikat gigi aja rasanya menderita karena menyentuh dinginnya air es,brrrrrr......
Kami melewati malam yang ga terlalu nyaman, dua-duanya tidak tidur pulas. Sampe-sampe berspekulasi jangan-jangan karena kita berada di ketinggian jadi tidak terbiasa. Oh ya rumah gunung Cabane d'Orny ini sudah berada di ketinggian 2831 mdpl, dan merupakan satu-satunya penginapan yang masih beroperasi di akhir musim panas ini. Kata pemiliknya, minggu itu adalah minggu terakhir aktivitas di sini, karena setelah menjelang musim gugur, udara akan sangat dingin. Setelah sarapan pagi dengan baik, kami bersiap untuk melanjutkan pendakian ke rumah gunung yang lebih tinggi yaitu Cabane de Trient di ketinggian 3170 mdpl. Jalur yang harus kami lewati lebih sulit dengan jenis bebatuan kristal yang sangat indah. Kami sempatkan mencari batu kristal selama 30 menit dan kami menyembunyikannya di satu tempat dan mengambilnya saat perjalanan turun. 


Pemandangan hamparan gletser semakin indah didukung dengan sinarmatahari pagi itu sangat bersahabat. Pukul 11 siang kami tiba di rumah gunung Trient yang tidak berpenghuni lagi Tepat di belakang rumah ini ada bukit yang memungkinkan untuk didaki lagi untuk melihat pemandangan gletser dengan leluasa. 

Kami menghabiskan waktu selama tiga puluh menit di sana dan karena angin sudah mulai kencang, kami putuskan untuk turun. Perjalanan turun kali ini akan sangat panjang, karena kami akan berjalan kaki menyusuri pegunungan gingga tempat parkiran mobil. Seperti anggapan pada umumnya, perjalanan naik memang melelahkan tapi lebih menyebalkan lagi perjalanan turun karena harus menahan lutut agak kaki tidak terpeleset. Kami mengambil jalur yang berbeda dengan perjalanan saat kami naik kemarin. Sedikit memotong jalur namun tingkat kecuraman tebingnya sangat tinggi. Sehingga akusempat pusing karena darah rendah yang kambuh. Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan panjang menuruni tebing bebatuan hijau. Sambil bercerita dan menahan lutut yang sakit semakin terasa, kamipun tibda di parkiran mobil pukul 6 sore. Ohhh, akhrnya kami tiba dengan senyuman indah mengingat jejak langkah yang sudah kami lewati di hari bersejarah kami. Alam selalu memeberikan keindahan bagi pasangan yang mencintainya.

  

Minggu, 13 Desember 2015

Merayakan cinta di Gletser Aletsch

Aku adalah tipe perempuan melankolis dan nostalgis tapi tidak menyukai keromatisan. Suka mengingat tanggal-tanggal bersejarah yang berhubungan dengan pasangan. Misalnya, tanggal pertama bertemu, tanggal jadian sebagai kekasih, tanggal dilamar, tanggal menikah (pastinya), dan tanggal lahir (wajib). Tapi tidak suka membuat kejutan kepada pasangan, karena saya bukan tipe orang romatis. Kontradiktif memang, harusnya ya orang yang suka mengingat-ingat tanggal bersejarah pastinya suka membuat kejutan atau rencana-rencana romantis untuk pasangan. Entahlah, yang jelas aku lebih suka mengucapkan selamat tanggal jadian atau selamat ulang tahun pernikahan, tanpa embel-embel. Nah, sebaliknya Patrick adalah orang yang sama sekali tidak mengingat tanggal-tanggal penting dalam hubungan, namun suka merencanakan sesuatu yang menarik saat dia tau bocoran tanggal dariku. Jadi klop kan, aku yang ingat tanggal, dia yang buat rencana. Soalnya dia suka beraktivitas di alam. Sebenarnya kami sama, tapi tingkat kesukaan dia lebih banyak dibanding saya yang sering punya masalah malas dan sakit.
Cerita soal aktivitas di alam, kami berdua memiliki ritual yang bisa dibilang tidak disengaja karena setiap merayakan ualng tahun pernikahan, Patrick akan mengajakku untuk pergi mendaki ke pegunungan alpen yang dipenuhi dengan gletser. Aku sih oke-oke saja karena kami berdua suka mendaki tapi selalu membayangkan dinginnya gletser, langsung menyerah duluan. Namun dia selalu meyakinkan, di puncak sana matahari akan terik jadi dinginnya tidak terasa. Dan juga pendakian ini kami lakukan setiap pertengahan bulan September. Dengan persiapan peralatan mendaki seperti pakaian hangat, sepatu yang kuat dan niat yang bulat akupun mencoba menikmati perayaan ini.
Ulang tahun pertama pernikahan pada pertengahan bulan September 2014, kami rayakan dengan mendaki hingga ke Gletser Aletsch, di kabupaten Valais, Swiss. Dibutuhkan 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari kota Lausanne menuju desa Bettmeralp. Saat kami tiba, cuaca agak mendung. Kami ambil angkutan "mobil kabel" menuju titik awal pendakian. Sambil menunggu cuaca cerah, kami makan siang di restoran yaang berada tepat di tepi tebing. Seandainya cuaca cerah, pasti pemandangan dari restoran ini akan menakjubkan.
Setelah cuaca semakin terang, kamipun memulai perjalanan menuju lokasi gletser. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang melakukan perjalanan berlawanan arah. Karena untuk menuju lokasi gletser ini bisa juga diawali dari desa Fiescheralp, tempat dimana kami akan mengakhiri pendakian ini. Kami menyusuri tepian bukit dan di sebelah kiri kami sudah terhampar gletser yang berbentuk aliran sungai. Sangat indah!
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya, mengiringi pendakian kami hingga lembah pertigaan, ke kiri menuju gletser dan ke kanan menuju desa Fiescheralp. Kamipun mengikuti arah menuju gletser karena memang Patrick ingin sekali menunjukkan kepadaku bagaimana bentuk gletser dari jarak dekat.


Saking terlalu larut dalam euforia kebahagiaan, sayapun beraksi bak peloncat indah di atas batu-batu. Oh ya, sebagai informasi, sangat disarankan untuk menggunakan kacamata hitam saat dekat dengan gletser, karena pantulan cahaya lewat putihnya es sangat tidak baik untuk retina mata, sangat berbahaya!Itu sebabnya kalau lihat atau nonton para penggiat ski, mereka selalu menggunakan kaca mata hitam. Jadi kacamata hitam bukan selama-lamanya untuk "gaya" saja ya :P

Setelah puas menikmati keindahan gletser, kami melanjutkan perjalanan pulang. Melewati danau-danau kecil di pegunungan, terowongan, dengan pemandangan pegunungan Alpen yang sudah dipenuhi dengan salju putih di puncaknya. Bagaimana aku tidak bersyukur dengan kehidupan di negara ini, pemandangan yang luar biasa indahnya bisa didapatkan di setiap sudut, hanya dibutuhkan keinginan untuk bergerak sedikit dari rumah. Bagaimana aku tidak bersyukur dengan ulang tahun pernikahan yang kami rayakan dengan menghabiskan waktu yang luar biasa di alam, tempat yang sama-sama kami cintai bersama dengan orang yang kami cintai, hanya dibutuhkan usaha untuk selalu berbahagia dengan pasanganmu. Selalu mencintaimu dan alam kita :*

Aku cinta olah raga kayak

Kayak adalah olah raga air yang paling aku suka. Sebagai anak yang lahir dan besar di pinggiran danau Toba, Sumatera Utara, tidaklah aneh kalau aku sangat menggilai olahraga yang satu ini. Walaupun sebenarnya kecintaanku terhadap kayak diawali dengan kejadian yang lucu dan menakutkan bagiku saat itu. Saat itu aku berumur 7 tahun. Di kampungku banyak orang yang berprofesi sebagai nelayan sehingga mereka memiliki sampan kayu untuk mencari ikan. Sedangkan bapakku adalah seorang petani yang tidak memiliki bakat mencari ikan. Temanku yang sangat cantik, Sumi adalah anak kepala desa. Kebetulan mereka memiliki sampan. Dia mengajakku untuk ikut dalam sampan yang dia kayuh. Saat itu aku penasaran bagaimana rasanya naik sampan apalagi bersama teman. Dia mengayuh sampan hingga sedikit menjauh dari tepian, aku mulai gemetar ketakutan. Aku minta Sumi untuk membawaku kembali ke tepian, namun dia tidak menghiraukanku. Aku akhirnya menangis sambil membayangkan sampan terbaik, aku yang belum bisa berenang pasti akan tenggelam dengan mudah. Mendengar tangisanku, temanku Sumipun mengayuh sampan menuju tepi. Kami sempat tidak saling menyapa beberapa waktu karena dia membuatku trauma dengan sampan. Cerita masa kecil yang lucu namun kini membuatku cinta akan olahraga ini dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Kecintaanku semakin mendalam semasa perkuliahan. Saya bergabung dalam kelompok pecinta alam fakultas filafat UGM dan mendalami divisi air. Saat itu saya sering melakukan latihan kayak di depan lembah UGM, petualangan kayak ke Imogiri dan juga kadang di selokan Mataram. Sedikit ekstrim hingga akhirnya cinta dengan olah raga arung jeram yang akan aku bahas di tulisan lain. Sabar ya :). 
Begitu pula saat aku bekerja di pulau Papua, aku sempatkan mengayuhkan dayungku di danau Sentani, Jayapura. Sangat jelas kuingat, saat itu saya, Patrick, Kika dan Reni menyewa satu sampan panjang milik nelayan di salah satu pulau di Danau Sentani. Kika yang tidak bisa berenang ikut juga dalam sampan. kami berempat mengayuh perahu ke tengah danau terkadang Kika berteriak agar kami tidak terlalu jauh dari tepian. Pengalaman itu mengingatkanku akan masa kecil. Lucu sekali, aku seperti balas dendam :P
Pengalaman kayak di Indonesia tidak terlupa begitu saja. Setelah pindah ke benua Eropa pada tahun 2013, saya juga ingin menikmati olah raga ini seperti dulu. Bagaimana tidak semangat, kami tinggal di kota Lausanne Swiss, tidak jauh dari danau Leman (danau Jenewa). Saya semakin bernostalgia dengan kehidupan saya di masa kecil, saat tinggal di tepi danau Toba. Di danau Leman ini, kegiatan olah raga air sangat diminati termasuk olah raga kayak. Namun sayangnya kegiatan ini hanya bisa dilakukan antara bulan april hingga bulan september. Tidak jauh dari kota Lausanne, terdapat juga danau Neuchatel yang menjadi tempat olah raga air semasa musimnya. 
Pada bulan Agustus 2013, saya mengawali pengalaman kayak pertama di benua Eropa tepatnya di sungai Dordogne, Perancis. Petualangan ini merupakan salah satu bagian acara pernikahan teman dari suamiku, Patrick. Jalur sungai yang kami lalui sangat panjang namun kami tidak bosan karena sepanjang tepi sungai kami lewati pemandangan bangunan tua yang luar biasa. Di jalur sungai sendiri kami sering melewati kapal-kapal turis, juga lumut-lumut sungai yang sangat artistik. Sambil sesekali kami berhenti untuk berenang bersama tim dan istirahat makan siang sambil berdiskusi. Matahari sangat terik, terkadang tangan sudah lelah untuk mengayuh dayung. 

Ditambah lagi Patrick yang menjadi teman saya di satu perahu, tidak terlalu memahami teori dayung maju, dayung mundur, dayung tarik dll. Sambil bercanda saya katakan bahwa mendayung berdua dalam perahu itu seperti halnya menjalani kehidupan pasangan, komunikasi dan kerja sama yang baik akan membawa perahu semakin maju dan lurus ke depan. Walaupun pada kenyataannya, akan mengalami banyak rintangan, seperti lumut tebal yang berbelit-belit, arus sungai yang tidak menentu, panas terik yang membuat lelah, jalur panjang yang kita tidak tau dimana ujungnya. Diapun setuju dan kami semakin semangat mengayuh dayung sambil sesekali menggangu teman yang sedang berada di perahu lain.


Selasa, 24 November 2015

Labirin Kehidupan/Labyrinthe de la vie

Musim gugur ketiga menjelang
Tanah dan rumput basah bergairah
Cacing-cacing menggeliat indah
Burung-burung berhenti berdendang

Hei, lihat dedaunan berganti warna
perlahan bergelayut manja menyambutku
berbaur mesra bersama harum mawar
air mancur masih setia menari.

Sinar mentari kembali menyapa
hangat menyeruak tulang rusukku
awan putih mencumbu langit biru
pertanda hari ini akan bersahabat.

Kurasakan derap langkah kakiku
berjalan semu dan tak berarah
aku masih terus di sini
terjebak dalam labirin kehidupan.


L`automne approche pour la troisième fois
la terre et les herbes sont mouillées
les vers de terre dansent parfaitement
les oiseaux s’arrêtent de chanter.

Regardez, les feuilles changent de couleurs
m`accueillent gentiment comme si jetais une petite fille
mélangées intimement à l`odeurs des rose
la fontaine encore danse en fidèle.

Le soleil me redit bonjour
la chaleur entre dans mes cotes
des nuages blancs embrassent le ciel bleu
signifiant qu`aujourd’hui va être radieux.

J’entends le son de mes pas
qui marchent sans connaitre leur destination
je suis encore ici
bloquée dans la labyrinthe de la vie.

Sakitnya ditinggal pesawat

Kejadian ini berlangsung pada akhir bulan juli 2013. Bulan tersebut saya sedang sibuk mengurus kebutuhan pernikahan dan agak bosan menunggu visa tinggal saya disetujui oleh pihak pemerintah Swiss. Setelah visa selesai dan saya mengambilnya di kedutaan Swiss di Jakata. Patrick (tunangan saya waktu itu) langsung membeli tiket lewat internet. Saya sampaikan kepadanya, saya ingin berangkat hari minggu sehingga saya masih bisa menyampaikan ucapan perpisahan kepada anggota gereja di Cikarang. Dengan senang hati dia memberitahu bahwa tiket sudah dibeli dan dia mengirimnya lewat e-mail. Saya cetak tiket dan melihat tanggal dan hari keberangkatan dengan antusias. Sabtu terakhir bulan itu, setelah selesai ibadah di gereja, saya dan kakak-kakak saya mengunjungi sepupu-sepupu kami di Bekasi. Kamipun memanfaatkan waktu bersama dengan makan malam dan bercerita hingga larut malam. Saya kembali ke rumah kakak di Cikarang. Tepat pukul satu malam (pukul satu pagi), Patrick mengirim pesan, menanyakan kabar, apakah siap terbang?Saya jawab dengan santai bahwa kami baru kembali dari rumah sepupu, terbang besok jadi sekarang mau istirahat. Melihat jawaban saya, dia heran dan bertanya. Belum masuk pesawat? Kenapa masih di rumah? Sayapun mulai gundah, apa ini? Cepat saya cari cetakan tiket saya dan melihat tanggal keberangkatan. Saya amati dan saya sadar bahwa saya salah melihat jam. TIDAKKKKKKK, saya ditinggal pesawat!saya tidak sanggup menahan geram. Geram atas kebodohan saya, geram karena tidak memperhatikan dengan teliti jam keberangkatan, geram karena saya selalu pikir bahwa saya berangkat hari minggu malam. Saya menangis dan minta maaf ke Patrick yang sedang marah besar terhadap kelalaian saya. Saat itu saya bingung mau melakukan apa. Saya hanya bisa tersedu-sedu sambil berusaha menelpon kantor maskapai penerbangan tersebut di bandara. Saya coba dan coba, tak seorangpun mengangkat telepon saya. Saya mulai mencari informasi tiket berangkat minggu malam (senin pagi), masih ada kursi. Saya melihat perbedaan harga dengan harga tiket saya tidak terlalu jauh. Berharap keesokan paginya ada keajaiban!Pagi sekali kakak saya datang ke kamar dan mengetahui masalah saya, dia menenangkan saya dan kami berdoa semoga ada jalan keluar. Pagi itu saya diantar oleh keluarga kecil kakak saya ke bandara. Sepanjang perjalanan, saya berusaha tenang dengan berbincang dengan keponakan-keponakan saya. Setibanya kami di bandara saya langsung melapor ke kantor maskapai penerbangan dan menjelaskan masalah saya. Oh memang saya selalu disayang Tuhan, petugas kantor yang ramah menenangkan saya dan meminta saya membayar selisih harga tiket pesawat untuk malam itu. Tiket pesawat saya tidak hangus!Akhirnya saya bisa tersenyum lega. Keluarga kakak saya kembali ke rumah dan saya menunggu sahabat saya Kika yang akan memberangkatkan saya malam itu. Pelajaran penting dari kejadian ini adalah saya harus lebih teliti dengan angka yang tertulis di kertas. Selain itu konsep jam satu malam dan jam satu pagi yang masih rancu dalam pikiran saya. Semoga ini menjadi pelajaran juga buat para pembaca ;)NB:hal yang lebih lucu bagi saya adalah mengetahui bahwa keluarga Patrick berpikir bahwa saya takut memulai hidup baru di Swiss sehingga saya dengan sengaja membiarkan pesawat meninggalkan saya. Hahahaha....ngakak beneran nih kalau ingat kejadian itu :D

Sabtu, 24 Januari 2015

Mon autobiographie

Je m’appelle Fatmawati Indah Lestari Stuby. C’est un nom qui peut paraitre long mais c’est une habitude en Indonésie. Ainsi, Fatma veut dire fleur de lotus, wati est le suffixe pour femme, indah veut dire belle et lestari veut dire éternelle. Je suis ainsi une « belle fleur de lotus éternelle ». Je suis fière de ce beau et long nom qui m’a été donné par mes parents. Je suis née le 20 janvier 1984 dans un petit village, nommé Bage, au bord du lac Toba, sur l’île de Sumatra en Indonésie. Je suis de l’ethnie traditionnelle Batak et j’ai une grande famille - un père, une mère, trois sœurs et deux frères. Une famille de cette taille était la norme jusqu’il y’a peu. Au sein de l’ethnie Batak existe un principe selon lequel faire beaucoup d’enfants est source de richesse pour la famille. Je ne suis pas tout à fait d’accord avec ce principe qui pour moi signifie que l’enfant devient un objet pour rechercher la richesse matérielle. Néanmoins, j’ai découvert qu’au sein d’une grande famille se crée une dynamique différente. Il faut partager avec les autres et il faut s’accorder a beaucoup de caractères différents.J’ai été élevée à l’intérieur d’une famille harmonieuse mais disciplinée. Ma mère était maîtresse primaire dans la petite école de mon village. Elle a enseigné durant 38 ans. Elle n’est pas originaire de ce village mais a été placée là par le gouvernement après ses études pédagogiques à l’université. Elle s’est mariée avec mon père qui est originaire de mon village. Celui-ci travaille comme paysan. Il cultive des oignons, des tomates, des oranges et d’autres légumes. Après son travail à l’école, ma mère avait l’habitude d’aider mon père au champ. Mes frères et sœurs et moi les aidions également dans cette tâche. C’était obligatoire. Tous les enfants du village font de même après l’école. C’était une vie difficile pour mes parents qui devaient subvenir aux besoins de six enfants.
Mon village est très isolé et loin de la ville. On peut y accéder en bateau par le lac ou par une route défoncée depuis la terre. Entourée de collines, le village se love dans une crique bordée par les eaux du lac. Lorsque j’étais petite, il n’y avait pas encore d’électricité et la plupart des habitants utilisaient des lampes à gaz ou à pétrole. Le village devenait sombre et assoupi dès la nuit tombée. Néanmoins, puisque mes parents avaient ouvert une petite échoppe-restaurant, mon père avait acheté une génératrice de sorte que les clients et nous autres puissions regarder les nouvelles et les émissions à la télévision. Parmi les 200 maisonnées de mon village, chaque famille a quatre à six enfants. Les infrastructures se résument à une école primaire, une église un couvert pour les rassemblements et les fêtes traditionnelles et enfin un bassin faisant office de source d’eau potable et de bains publiques pour les habitants. La communauté villageoise fonctionne selon un système d’entraide. Par exemple, les villageois se rassemblent pour travailler dans  le champ d’un paysan et sont payés à la tâche ou sont récompensés par le travail de celui-ci dans les leurs.
Mon enfance au village était très belle et joyeuse, bien qu’épargnée par la modernité. Avant de commencer l’école primaire, je jouais toujours à des jeux traditionnels avec mes amis autour de la maison. Quelques fois lors des après-midis chauds, nous courrions à la rivière pour nous baigner dans l’eau limpide. Mais dès l’âge de neuf ans, mes parents me firent déjà travailler aux champs. En tant qu’enfant de paysan je n’avais pas le choix, comme tous les autres enfants du village d’ailleurs. Normalement, après le retour de l’école à 13h00, je me dépêchais de dîner et me préparais à partir aux champs où je travaillais avec mes frères et sœurs jusqu’à 17h00. Le dimanche, jour sans école, moi et mes amis proches nous rassemblions et allions nous baigner au lac ou jouions à cache-cache, faisions nos devoirs ensemble, nous baladions dans les collines ou apprenions à cuisiner. Cet environnement a contribué à faire de moi une personne qui aime la nature et l’aventure, une personne sociale qui a de grands rêves. A part jouer, lorsque j’étais petite j’aimais lire des livres d’histoires et aussi les magazines de ma mère.  Ma mère est une personne qui aime bien lire et j’ai été influencé par elle. Je lui demandais toujours d’emprunter des livres d’histoires dans la bibliothèque de l’école et je les lisais et relisais plusieurs fois. Les histoires que je préfère depuis mon enfance sont les histoires de famille ou les histoires sur la relation entre les hommes, la nature et les animaux. Selon mes parents, j’ai commencé l’école à l’âge de cinq ans. A cet âge, je savais déjà lire car, à la maison, j’étais motivée à suivre mes grandes sœurs. Chaque fois qu’elles partaient pour l’école je pleurais et demandait d’aller moi aussi à l’école. Puisqu’il n’y avait pas de crèche dans mon village, mes parents suivirent ma volonté et me mirent à l’école. Je fus l’élève la plus jeune de ma classe durant mes six années d’école primaire. Ce ne fut jamais un problème car j’arrivais à suivre aussi bien que mes camarades.
Il y’a une chose qui m’impressionna vraiment durant cette période d’école primaire. A l’âge de neuf ans, un groupe d’étudiants de la ville vint dans mon village pour effectuer un stage de terrain. C’était un groupe de dix jeunes, cinq filles et cinq garçons, suivant diverses études d’enseignement. Leur tâche était de travailler au sein des classes, d’organiser des appuis en soirée et de suivre les paysans aux champs. A cette époque, j’étais très enthousiasmée par leur présence. A part le fait qu’ils viennent de la ville,  j’étais enchantée parce qu’ils arrivaient à rendre l’environnement d’apprentissage en classe plus vivant. Nous apprenions à jouer et à apprendre avec un système différent de notre habitude et qui était bien plus réjouissant. Le soir, moi et certains de mes amis nous rendions toujours dans leur maison afin d’y étudier et d’y faire nos devoirs. Nous étions vraiment heureux. Durant ces deux mois de leur présence dans mon village, je profitai de leur gentillesse, de leur bonté et de leur travail. Après leur départ, je me murmurai qu’un jour moi aussi je souhaite faire la même chose qu’eux. Je voulais enseigner aux enfants des villages qui sont loin de la ville, faire le même type de choses que ces étudiants m’ont appris. J’avais le sentiment que ce qu’ils avaient fait nous avait rendu heureux moi et mes amis du village. Je souhaitais que ma vie soit comme la leur, être utile aux gens qui sont dans le besoin.
L’époque de l’école primaire se termina alors que j’avais onze ans et je dus quitter mes parents pour m’installer chez ma grand-mère qui habitait à six heures de route de mon village. Je dus faire ceci car il n’y avait pas d’école secondaire dans mon village. Quitter tous mes copains de jeux me rendit triste. Tous les amis de mon âge quittèrent également leurs parents mais résidèrent en résidence, dans des chambres louées ou chez des connaissances dans d’autres villes. C’est un grand sacrifice qui doit être fait pour recevoir une meilleure éducation. Pour moi, le fait d’être séparée de mes parents à un très jeune âge constitue un évènement important qui a fortement influencé mon existence. Je vécus donc trois ans chez ma grand-mère qui était très sévère et portée sur la discipline. Quelquefois je devais garder pour moi le fait que mes parents me manquaient, même si la présence de mon grand frère et de mes grandes sœurs avec moi chez ma grand-mère rendait ma vie plus facile. Néanmoins, nous devions effectuer le même type de corvées que dans mon village. Après être rentré de l’école, moi et mes frères et sœurs étions obligés d’aller aux champs et d’aider ma grand-mère à planter et à s’occuper du maïs. Je découvris également de nouvelles choses dans cette nouvelle vie : un nouvel environnement avec chaque jour des véhicules qui passaient non loin de chez ma grand-mère, une nouvelle langue car la langue locale de mon village était différente de celle du village de ma grand-mère, de nouveaux amis, de nouveaux sports et même l’apprentissage du vélo. Ce fut également la première fois que j’appris une langue étrangère : l’anglais. En effet, j’étais très motivée à apprendre cette langue si bien que je m’inscrivis à des cours d’anglais privés après l’école. Ces cours se faisaient en ville à une heure de route de chez ma grand-mère. Je m’y fis de nouveaux amis citadins et ceci contribua à augmenter ma motivation. 
Mon intérêt pour les petits enfants débuta dans le village de ma grand-mère, où chaque week-end moi et mes frères et sœurs rendions visite à mon oncle et ma tante qui avaient cinq enfants dont deux étaient encore bébés. Mon oncle et ma tante possédaient un petit restaurant. Donc, durant leur travail, nous avions la responsabilité de garder leurs enfants, de les nourrir, de jouer avec eux et même de les bercer lorsqu’ils pleuraient. Ce fut une première expérience pour une adolescente comme moi mais j’aimai cela. Ma relation avec mes petits cousins était très bonne et je me sentais proche d’eux. J’attendais le week-end avec impatience pour pouvoir les voir et m’occuper d’eux. Ils nous appelaient même « grandes sœurs ».  Néanmoins lors des grandes vacances, nous revenions à Bage pour rendre visite à nos parents et les aider à travailler aux champs. Notre aide lors des vacances leur était très utile. Après trois ans passés chez ma grand-mère, je dus finalement déménager à nouveau et me séparer de mes amis et de mes petits cousins et cousines. Je continuai mes études en entrant au gymnase de Medan situé à cinq heures de route de mon village. Medan est la capitale de la province de Nord-Sumatra et est la troisième plus grande ville d’Indonésie. La vie là-bas est de plus en plus moderne avec une grande concentration de population. Je passai ma première année dans cette ville avec mon grand frère, mon petit frère et ma troisième grande sœur. Bien qu’habitant loin de ma région, je me sentais à l’aise car je restais avec mes frères et sœurs. Mais lors de ma deuxième année de gymnase, mon grand frère partit pour Jakarta, la capitale, pour chercher du travail. Mes parents trouvèrent que nous n’étions plus en sécurité sans la présence d’un homme plus âgé à la maison, de sorte que nous déménageâmes ensemble dans la maison d’un oncle et d’une tante habitant Medan. Mon oncle et ma tante avaient trois enfants, dont deux étaient à l’école primaire et un avait encore deux ans. Ce fut une nouvelle expérience que de vivre avec de petits enfants. Ainsi j’approfondis ma connaissance des enfants de cet âge. Je jouais et j’étudiais avec eux et durant une année j’apprenais leur caractère et  j’étais le témoin de leur développement. Finalement, ma troisième sœur continua son université dans une autre ville et moi je déménageai dans une chambre louée proche de mon gymnase. Mon petit frère, lui, habita chez des proches près de son école. Ainsi commença ma vie sans mes proches, ma vie indépendante. J’habitai avec une amie du gymnase dans une chambre d’une maison appartenant à un jeune couple. Moi et mon amie devinrent proches car nous habitions ensemble et passions beaucoup de temps ensemble en dehors de l’école. Durant ma deuxième et troisième année de gymnase, je suivis les activités du groupe des « amis de la nature » où je rencontrai de nouveaux amis partageant le même hobby. Lors des vacances et pendant les week-ends nous avions l’habitude d’aller en montagne et d’y camper. Nous étions des adolescents apprenant à connaître la nature. Lorsque je faisais l’ascension des montagnes j’appris à mieux me connaître et découvris le caractère de mes amis. Aller en montagne n’est pas habituel en Indonésie, nous étions considérés comme des ados bizarres, qui n’avaient rien d’autre à faire que de se mettre en danger. Voici l’impression que nous donnions. Néanmoins, cette activité me comblait et je trouvai mon identité en tant que villageoise proche et amoureuse de la Nature.
Une nouvelle vie s’ouvrit à moi lorsque je fus reçue à l’université publique de Medan, après avoir disputé mon ticket d’entrée avec des milliers d’autres gymnasiens. Ce fut une source de fierté pour moi mais surtout pour mes parents. En effet, en entrant dans une université publique, mes parents n’avaient pas besoin de payer cher mon  écolage et c’était là bien ce que recherchaient les élèves et leurs parents. Je rencontrai de nouveaux amis dans la faculté de sociologie et dans ma branche d’administration publique. Mais peu à peu, je me rendis compte que quelque chose manquait à ma vie. Je n’appréciais pas mes études et mes frères et sœurs qui vivaient maintenant sur l’île de Java me manquaient. Je ne pouvais que m’imaginer leur vie là-bas en regardant une carte de géographie. Un conflit intérieur commença à me ronger et je commençai à me représenter ce que serait mon futur si je continuais dans ces études d’administration publique. Voulais-je vraiment devenir un élément de l’appareil d’Etat ? Travailler pour le gouvernement ? Alors que mon rêve de petite fille était de soutenir les enfants dans le besoin dans les zones délaissées ? Finalement je décidai de suivre à nouveau des tests d’admission pour entrer dans une autre université publique, bien que ce soit là juste un essai et qu’il y ait fort peu de chances que je sois retenue. Ainsi, lorsque je vis mon nom inscrit dans la feuille d’avis officiels, je ne pus presque pas y croire. J’étais reçue à l’Université Gajah Mada, l’une des universités les plus prestigieuses d’Indonésie !  Cette université est située dans la ville de Yogyakarta, au centre de l’île de Java. Mes parents furent heureux même si ils étaient un peu dépassés par mon choix d’entrer en faculté de philosophie. Comme dans d’autres pays, en Indonésie aussi les gens ont l’impression que les personnes étudiant la philo vont devenir bizarres et sans but dans la vie. Néanmoins j’étais contente de mon choix et j’allais étudier dans la ville de mes rêves, ville qui jusque-là n’était pour moi qu’un nom sur une carte.
La ville de Yogyakarta qui a comme logo « le confort pour tous » rendit vraiment ma vie confortable. J’y appris beaucoup de choses nouvelles, je découvris une nouvelle culture, je rencontrai une grande variété de nouvelles personnes, j’appris une nouvelle langue locale, le javanais. L’atmosphère du campus m’apporta un sentiment nouveau au fond de moi. Je me rassemblais avec le groupe des amis de la nature de ma faculté, je suivais des cours de théâtre et quelques fois je m’entrainais à faire des sessions jam avec des groupes de musique ou passais mon temps à débattre avec des groupes d’étudiants. La nature sur l’île de Java est différente de celle de Sumatra. Peut-être parce que la densité de population y est plus forte, la nature y est moins sauvage et donc plus accessible qu’à Sumatra. Là-bas, je visitais souvent de beaux endroits, à commencer par les plages, les rivières, les temples jusqu’aux montagnes. La vie dans cette ville est aussi très dynamique car de nombreuses ethnies de toute l’Indonésie et même des visiteurs d’autres parties du monde y résident ou visitent cette cité culturelle.  Je trouvais cela exceptionnel, je vivais quelque chose qui n’est pas donné à tout le monde de vivre, si je pense à mes amis de l’école primaire ou secondaire restés dans leur village. Je suivais mon chemin à travers cette nouvelle vie parfois ressentant des difficultés à m’adapter et d’autre fois me sentant à nouveau confortable.
Durant mes études, j’appris à connaître les pensées de nombreux philosophes qui parfois me rendaient circonspecte mais qui la plupart du temps m’enchantaient tant il y avait de connaissance que j’avais encore à découvrir.  La pensée logique, l’éthique et la dialectique titillaient ma pensée, puis vint la pensée socialiste, la cosmologie et l’humanisme. Tout cela me paraissait intéressant mais finit par m’embrouiller l’esprit. Finalement, je trouvai ma voie dans le féminisme. Je fus comme attirée par cette pensée et m’en sentis proche. Je me rendis compte de la réalité de la condition de la femme au sein du peuple. L’égalité est souvent inexistante pour de nombreuses femmes en Indonésie, certaines étant traitées comme des esclaves dans leur vie domestique. C’est un fait que l’oppression des femmes  influence fortement la vie de leurs enfants. Si les femmes sont mises de côté, leurs enfants sont ignorés et cela finalement influence leur développement dans le futur. Par exemple, de nombreuses femmes sont devenues les victimes de l’avidité des entreprises d’extraction de ressources naturelles. J’ai lu de nombreux cas sur ce sujet dans de nombreuses régions où la nature est exploitée par de riches corporations. De nombreuses femmes et leurs enfants sont victimes de la dégradation de leur environnement et  victimes d’harcèlement sexuel par les employés des entreprises. Ceci se passe notamment dans une des îles les plus excentrée dans l’est de l’archipel indonésien : la Papouasie
Durant ma deuxième année d’université, je fus active dans un groupe de rafting et dans un groupe de sauvetage en mer. Je rencontrai à nouveau des amis partageant les mêmes hobbys. J’apprenais à dompter les flots impétueux des rivières, à lire le courant et à m’émouvoir de la mort d’amis emportés par la force de la rivière. Je commençais à apercevoir le but de ma vie : suivre ma vie comme une rivière dans laquelle on se laisse emporter par le courant. J’appris à connaître plusieurs amis originaires de l’île de Papouasie et nous échangeâmes de nombreuses histoires. Petit à petit, je devins de plus en plus intéressée par les histoires sur cette île, sur la vie de ses habitants, sur la beauté et la richesse de sa nature qui attire même l’attention de la scène internationale. Un jour je leur demandai quel était le moyen le meilleur marché pour atteindre cette île située à l’extrémité orientale de l’Indonésie, car je me sentais poussée à aller voir de mes propres yeux les conditions de vie du peuple là-bas. Un jour je souhaitais poser le pied sur cette île mythique.
Un jour de l’année 2005, exactement trois mois après le grand tsunami qui dévasta l’île de Sumatra dans la province d’Aceh, je reçus la nouvelle de mon grand frère que mon village avait été touché par un tremblement de terre dont l’épicentre se trouvait sur l’île de Nias, au large de Sumatra. Un tsunami se forma à la surface du lac et atteint le niveau des maisons. Certaines maisons en bordure du lac s’effondrèrent même dans le lac, y compris la maison de mes parents. En entendant cela, je fondis en larmes et téléphonai directement à mes parents. Je souhaitais pouvoir rentrer pour les soutenir, les serrer dans mes bras pour alléger leur fardeau et pour savoir quelle était leur condition réelle. Néanmoins, mes parents s’y opposèrent en arguant que ma rentrée gênerait le bon déroulement de mes études. Ils essayèrent même de me changer les idées, moi qui était triste et en soucis pour eux. Mes amis me conseillèrent la même chose en me disant que si je continuais à être déprimée, mes parents le seraient d’autant plus. Finalement, je sortis de ma tristesse et tentai de m’égayer. Quelques mois après ce désastre, il y eut une information sur le panneau de l’administration de mon université qui invitait les étudiants qui avaient des parents victimes du tsunami et du tremblement de terre d’Aceh et de Nias à s’inscrire afin d’obtenir une bourse spéciale d’une ONG australienne. Je réussis à obtenir cette bourse et je fis la connaissance de Pamela Davis, représentante australienne de cette organisation qui souvent venait en Indonésie. Onze étudiants finalement reçurent cette bourse. Nous nous rencontrions souvent lorsque Pamela venait à Yogyakarta. Cette bourse allégea fortement le fardeau de mes parents jusqu’en 2007 lorsque je terminai mes études. J’appris de cette expérience que des gens biens venant d’aussi loin que l’Australie souhaitaient m’aider, de sorte que dans mon esprit je commençai à souhaiter qu’un jour je puisse travailler pour aider les gens victimes de désastres et les personnes en détresse. C’était là mon nouveau rêve.
Durant la troisième année d’université, nous étions obligés de suivre un stage pratique en développement dans un village délaissé de l’île de Java. Je fus placée, avec des amis d’autres facultés dans un petit village ayant des ressources en eau limitée car situé au centre d’un massif calcaire proche des rivages de l’Océan Indien. Ces deux mois passés parmi des habitants souffrant de sous-développement mais accueillants constituèrent une autre expérience intéressante dans ma vie. Moi et mes amis mirent en place un programme pour aider la population de ce village. Je me concentrai sur les femmes et les enfants en organisant des activités éducatives pour les enfants en de nombreux endroits du village, en instituant un « heure d’étude » pour les habitants, en accompagnant les femmes faire vacciner leurs enfants, en organisant une formation en nutrition des enfants de moins de cinq ans, en assistant le gouvernement à rédiger les actes de naissance des enfants, en apprenant aux élèves des écoles à bien se laver les mains et se brosser les dents. Pendant le week-end, lorsque de nombreux visiteurs viennent à la plage pour jouer dans les grandes vagues de l’Océan Indien, j’assistais l’équipe de sauveteurs maritimes en gardant la plage. Cette époque fut l’une des plus belles de ma vie. Je me sentais utile en vivant au milieu des villageois, des femmes et de leurs enfants. J’avais ainsi déjà exaucé une petite part de mon rêve, soit d’aider les enfants d’une région délaissée. Je me retrouvais à faire le même travail que les étudiants qui étaient restés deux mois dans mon village lorsque j’étais à l’école primaire et qui m’avaient tant impressionné.
Après cinq ans, je terminai mes études et reçus mon bachelor en philosophie, mais je fus un peu perdue par rapport à mon orientation professionnelle. Je décidai de partir pour l’île de Bornéo dans la province d’Est-Kalimantan où vivaient maintenant mes deux frères et un de mes oncles. Au début, j’espérais pouvoir travailler pour la protection des orangs outans mais mes demandes ne reçurent aucune réponse. Finalement, tout en continuant à chercher du travail, j’effectuai un programme de mission volontaire de mon église dans la jungle de la région de l’Ouest-Kutai. J’habitais avec la population locale en vivant comme eux, je jouais et enseignais aux enfants et me mêlais aux femmes du village. Leur vie au milieu de la forêt m’appris que de nombreuses personnes vivent encore loin de la modernité mais possèdent néanmoins une sagesse locale qui est porteuse de sens et qu’il vaut la peine d’étudier. Après quatre mois passés là-bas, mes parents me conseillèrent de chercher un travail plus « normal » dans une grande ville. Pour eux, faire ce que je faisais n’allait pas avec mon titre de bachelor. Afin de les respecter, je déménageai finalement à Jakarta, la capitale de l’Indonésie. Jakarta est une ville pleine de gens venant des quatre coins de l’archipel indonésien, c’est une ville qui est congestionnée du matin au soir, c’est une ville emplie de la sueur des travailleurs, emplie de compétition et de vice. Bref, c’est une ville très complexe.
Le début de ma vie à Jakarta se traduisit par un travail d’administratrice d’expédition de matériel dans une entreprise vendant du matériel minier. Ce travail était bien loin du travail de mes rêves. Je continuais donc à envoyer mon dossier à quelques ONG qui travaillent dans le domaine de la femme, des enfants et de l’environnement. Tout au fond de mon cœur, j’espérais que mon rêve puisse se réaliser. J’habitais avec ma deuxième grande sœur qui était maintenant mariée et qui avait déjà deux enfants de moins de cinq ans. A quatre heures du matin, je devais me lever et partais au travail à cinq heures, j’arrivais sur mon lieu de travail à huit heures, travaillais durant huit heures et rentrait à la maison à vingt-et-une heures. Durant les vacances et les week-ends, je jouais avec mes neveux, j’aidais ma sœur à élever ses enfants, je changeais leurs couches, les baignais, les nourrissais et les faisais dormir. Vivre à nouveau entourée d’enfants m’apportait toujours une énergie positive. Mais la dynamique de la vie dans cette ville gigantesque me lassait de plus en plus chaque jour. Je travaillais uniquement pour soutenir une grande corporation minière qui détruisait la nature. J’avais honte de moi en me rappelant mon principe d’  « amour de la Nature ». Jusqu’au jour où je reçus un email m’invitant à un entretien pour une ONG spécialisée dans le bien-être des enfants. Mon cœur se mit à battre la chamade, était-ce enfin le moment de bouger ?
Après avoir passé par un très long processus de sélection, je réussis à être accepté pour un stage d’orientation de six mois sur l’île de Papouasie, dans la petite ville de Wamena située au cœur de la cordillère Jayawijaya. « Est-ce que je rêve ? Non ! C’est la réalité ! Je vais partir pendant six mois faire le travail dont j’ai toujours rêvé sur l’île de mes rêves ! N’est-ce pas exceptionnel ce que je vis ? » Je crois que l’esprit saint agit dans ma vie et que Dieu travaille à chacun de mes desseins. Avoir enfin la chance de poser le pied dans cette île isolée, exceptionnelle par la beauté de sa nature que jusque-là je ne pouvais seulement imaginer, mon sang se mit à bouillir. Je passai ainsi six mois à vivre de nombreuses expériences, à rencontrer des peuples traditionnels vivant dans les montagnes avec des enfants très chaleureux et enthousiastes avec les nouveaux arrivants ; six mois à être témoin des guerres tribales qui se produisent sans crier garde, à m’habituer à une langue indonésienne différente de l’Ouest et à la fraîcheur de l’air durant la nuit. J’appris à m’adapter à cette nouvelle et incroyable vie. Finalement le temps vint de retourner à Jakarta afin d’y subir mon évaluation et de savoir si je pouvais continuer à travailler au sein de cette ONG ou si je n’étais pas acceptée. Sur la base du résultat de mon rapport de stage et de la recommandation du staff de terrain, je fus acceptée pour travailler au sein de l’ONG internationale World Vision Indonesia avec un contrat de deux ans. Je fus placée dans la ville de Wamena en Papouasie. Vu que j’aimais vraiment vivre dans cette petite ville, cette décision me réjouit. J’étais vraiment reconnaissante envers mon ange gardien. La vision de World vision pour laquelle j’ai travaillé durant deux ans est la suivante : Notre vision pour chaque enfant, la vie dans toute son ampleur; notre prière pour chaque cœur, la volonté de l'accomplir. Toutes les activités  sont centrées sur le respect des droits de l’enfant. Les enfants que nous soutenons ont entre 0 et 18 ans. Je commençai à travailler en tant que  coordinatrice de développement communautaire dans les villages. Les projets qui étaient sous ma responsabilité étaient les projets d’éducation, de nutrition et de santé reproductive. Mes missions étaient de former les tuteurs qui enseigne dans les crèches, de conseiller les enseignants primaires afin qu’ils s’entraînent à enseigner d’une manière qui soit adaptée aux besoins des élèves, de conseiller les centres de soin locaux afin qu’ils puissent former des sages-femmes, d’organiser des workshops sur la nutrition, d’enseigner et de sensibiliser les adolescents à  la santé reproductrice, au SIDA. J’eus aussi la chance de suivre diverses formations liées à mon travail.
En travaillant comme agent de changement dans cette région, il est certain que j’ai rencontré beaucoup d’obstacles, entre autres l’accès aux villages. Celui-ci était loin d’être aisé. Il fallait suivre des pistes qui parfois avaient des trous ou coupées par des inondations ou des glissements de terrain. Il fallait même parfois traverser des rivières car les ponts étaient détruits. Il fallait ensuite monter à pied dans les montagnes  avec des maisons très éloignées les unes des autres. Une fois sur place, les activités devaient parfois être annulées parce que les participants n’étaient pas venus ou parce qu’une célébration avait lieu dans le village. De plus certains villageois refusaient la venue de l’équipe car nous n’apportions pas d’argent.  Enfin, les conflits tribaux récurrents avaient un très mauvais impact sur ma sécurité et celle de l’équipe. Néanmoins, d’un autre côté, ce qui réchauffa mon cœur fut la relation qui se créa entre moi, les villageois, les enfants et la nature et cette relation devint de plus en plus familière. Les enfants criaient « sœur Fatma » chaque fois qu’ils me voyaient arriver ou les villageois me saluaient toujours en me croisant sur la route. La chaleur de la population dans cette région m’enseigna la signification sincère du don. Le sourire sur leur visage me rendait toujours heureuse. Finalement, j’étais à nouveau utile à autrui.
Je travaillais dans cette ONG du matin jusqu’au soir et lorsque je rentrais chez moi, je continuais à enseigner aux enfants qui habitaient mon quartier. Ceci commença par deux enfants qui souvent nous saluaient moi et mes colocataires lorsque nous étions à vélo. Ils attendaient devant notre maison et semblaient vouloir faire connaissance. Nous les invitâmes à entrer et leur offrîmes des livres à lire. Dès le lendemain, le nombre d’enfants attendant devant notre porte commença à croître jusqu’à atteindre le nombre de 20 enfants de deux à onze ans. Moi et mes amies achetâmes donc du matériel scolaire, du matériel pour dessiner ainsi que des livres d’histoires pour enfants. Notre salon se transforma ainsi en un espace éducatif pour les enfants. Moi et mes amies y vîmes l’opportunité de partager et d’apprendre plein de choses directement des enfants. Nous créâmes un planning avec un thème pour chaque fin d’après-midi. Moi qui m’intéresse aux questions de santé en profitai aussi pour leur apprendre les règles d’hygiène élémentaire. Ceci commença par l’apprentissage du lavage de mains « optimal », du brossage des dents, des conseils pour la toilette, pour le changement d’habits et aussi pour la propreté des parties intimes. Notre école informelle durait généralement deux heures. Quelque fois, leurs parents amenaient leurs enfants plus petits pour qu’ils se mélangent aux autres et revenaient les chercher à la fin. Durant le processus d’apprentissage, je pus observer de nombreux changements positifs chez ces enfants. Ils devinrent plus propres, plus polis, plus intéressés à la lecture, plus sociables et plus sûrs d’eux. Ceci est vraiment un résultat que je n’aurais jamais imaginé avant qu’il se présente à mes yeux. Les enfants m’appelaient moi et mes amies « maîtresse ». Chaque soir, ils attendaient tous devant le portail de la maison et commençaient à nous poursuivre en courant lorsqu’ils voyaient nos vélos arriver, tout en demandant « Maîtresse, on peut étudier ? On peut étudier maintenant ? » D’autres me disaient : « Je me suis déjà lavée maîtresse ! ». Le fait d’être avec ces enfants me rendait à nouveau très heureuse et je me reconfirmais dans mon cœur que c’était la possibilité de me sentir utile envers les enfants dans le besoin qui me procurait ce sentiment. Après deux ans, je décidai néanmoins de terminer mon contrat dans cette ville. Il fut difficile de me séparer d’eux mais je suis fière que nous ayons vécu ensemble cette belle aventure.

Pour la première fois, je changeai de pays et m’installa à Kota Kinabalu en Malaisie. Là j’aidai mon fiancé et devins volontaire durant trois mois dans les montagnes de la région de Sabah sur l’île de Bornéo. Je partageai mes connaissances sur l’hygiène corporelle et la santé reproductive avec les enfants immigrants d’Indonésie et j’enseignai également l’anglais pour les enfants des ethnies autochtones de l’intérieur de l’île. Nous appréciâmes grandement ce travail et cette proximité. Malheureusement, après trois mois je n’eus pas le droit de prolonger mon permis de séjour et je fus contrainte de retourner en Indonésie. J’en profitai pour commencer à apprendre le français à l’Alliance française de Yogyakarta. J’étais ainsi  revenue étudier dans la ville où j’avais construit mes rêves. Après trois mois de cours, je me rendis à Jakarta et habitai chez ma troisième sœur qui avait désormais une petite fille d’un an. Tout en organisant mon départ pour la Suisse, j’aidai ma grande sœur à garder son enfant, à la changer, à la nourrir, à  la baigner, à jouer et à me promener le soir avec elle. Finalement, le moment du départ arriva. Ce fut le moment de quitter mon pays, ma famille, mes amis et tous les enfants qui restent dans mon cœur. Ce fut difficile mais il le fallait pour que je puisse commencer une nouvelle vie avec l’élu de mon cœur. Ainsi commença une nouvelle vie dans un nouveau pays avec une nouvelle culture, une nouvelle langue, un nouveau climat et de la nourriture nouvelle, Ceci nécessita un long temps d’adaptation. Bien entendu que ce n’est pas évident mais si je regarde le chemin de vie que j’ai déjà parcouru, changeant de nombreuses fois de domicile et de région, j’ai toujours réussi à bien m’adapter. Tout en continuant à apprendre le français à l’Université de Lausanne, je commençai à réfléchir au métier que je souhaite faire dans le futur. Vivre pendant trente ans est suffisant pour connaître mon for intérieur, mes intérêts, mes talents et mes souhaits. Actuellement, je suis certaine dans mon cœur et mon esprit que je veux vraiment m’investir pour les enfants, je veux seulement travailler pour les enfants en tout temps, je veux toujours être utile aux enfants, je me sens exister lorsque je suis avec des enfants, je suis heureuse entourée d’enfants. J’ai donc décidé de devenir une bonne éducatrice pour les enfants dans ce pays et peut-être pour les autres enfants dans le monde entier.