Kamis, 02 Mei 2013

Menilik nyamannya lalu lintas di Swiss

Dua bulan berkunjung ke Swiss dan tiga negara lain di benua Eropa memberi banyak pelajaran berharga bagi saya, khususnya selama saya tinggal di Swiss. Tentunya saya merasakan pelajaran penting ini setelah membandingkan situasi berlalu lintas di negara asal Indonesia. Semangat saya untuk menulis tentang hal ini sebelumnya sempat redup berhubung karena kesibukan mengurus administrasi akhir-akhir ini, namun selama dua minggu kembali lagi bergelut dengan lalu lintas ibukota negara, saya merasakan keinginan untuk berceloteh lewat tulisan semakin memuncak.Masalah macetnya lalu lintas bahkan di jalan tol, saling merebut jalur, tidak menyalakan lampu tanda bagi orang lain, berdesak-desakan di halte busway, saling dorong saat akan masuk ke dalam busway, bergelantungan sambil dihimpit oleh penumpang lain, teriakan para kondektur angkutan umum, makian bapak supir karena kesal sudah didahului oleh kendaraan lain, hingga tidak mengindahkan lampu tanda lalu lintas (biasa disebut lampu merah) sudah saya sadari semenjak dulu dan saya yakin semua orang di negara ini mengetahuinya. Saya memang pernah mengalaminya dulu ketika saya tinggal di ibukota negara ini. Dulu saya memaklumi, menerima dan pasrah dengan situasi ini….dulu ketika saya belum pindah bekerja di daerah pedalaman Wamena, Papua.
Sekarang, selama dua minggu di sini ditambah lagi setelah menikmati nyamannya lalu lintas di Swiss, dengan jujur saya katakan saya tidak kuat, tidak maklum juga tidak bisa kompromi dengan situasi ini. Terlebih lagi setelah kejadian yang saya alamiseminggu yang lalu tanggal 25 April 2013. Kejadian dimana saya merasakan horror kematian. Saat itu hujan sangat deras, ketika saya kembali dari kantor KEMENLU menuju halte busway gambir 1. Berjalan di trotoar khusus pejalan kaki tidak begitu nyaman karena sesekali saya terkena semburan air oleh roda kendaraan yang melaju cepat. Dari kejauhan saya melihat ada halte busway di sebelah kiri jalan, yang artinya saya harus menyeberang jalan yang cukup lebar. Saya cari-cari cat belang-belang tanda buat menyeberang, juga tidak ada. Saya berjalan lagi hingga tiba di sebuah lampu lalu lintas persis di depan Markas Besar TNI Gambir. Saya tekan tombol untuk mengaktifkan lampu hijau untuk pejalan kaki. Suara bip hitung mundur dari 18 detik mulai aktif, namun tak satupun kendaraan mau berhenti. Saya tidak berani menerobos ke tengah karena ketika saya coba beberapa kendaraan menyalakan klakson tanda tidak setuju dengan tindakan saya. Namun ketika satu kendaraan mencoba member jalan untuk saya, keberanian saya akhirnya muncul. Saya mengarahkan tangan kiri saya ke samping sekedar meminta tolong kendaraan lain untuk berhenti juga. Perlahan kendaraan lain berhenti namun bunyi klakson yang sangat kuat memekakkan telinga saya dan menciptakan ketakutan dalam diri saya. Dengan spontan saya berteriak stopppppp sambil berlari ketakutan! Saya sangat yakin mereka tidak mendengar teriakan saya. Saya yakin mereka kesal dengan tindakan saya menyeberang jalan yang mereka lalui, saya yakin mereka adalah orang-orang yang tidak sabar, saya yakin mereka adalah orang-orang yang terbiasa melanggar peraturan, saya yakin mereka adalah orang-orang dengan otak bebal, saya sangat yakin mereka adalah koruptor jalanan!
Bagi saya ini adalah hal gila dan mengerikan! Saya mengimpikan rasa nyaman seperti ketika menyeberang jalan di Swiss dimana pejalan kaki selalu diutamakan bahkan saat tidak ada lampu lalu lintas sama sekali. Pengemudi kendaraan akan dengan penuh rasa hormat memberikan jalan bagi penyeberang dan kemudian disambut lambaian terimakasih oleh penyeberang jalan. Tidak pernah saya melihat pengemudi ugal-ugalan juga pecinta suara klakson. Sangat jarang saya dengar orang membunyikan klakson untuk alasan apapun, yang ada hanya suara mesin kendaraan. Pertama kali menyadari hal ini saya menjadi malu sendiri mengingat suasana lalu lintas di banyak daerah di negara saya. Tidak ada saling merebut jalan sambil meneriakkan kekesalan oleh pengemudi kepada pengemudi lain. Penggunaan lampu tanda bagi orang lain dengan disiplin. Mengatur laju kendaraan sesuai dengan yang sudah tertulis di plang pinggir jalan, karena laju kendaraan berbeda di setiap tempat. Memarkir kendaraan di tempat yang sudah tersedia tanpa harus disemprit oleh petugas parkir. Pengemudi melakukan pembayaran di mesin yang sudah tersedia sesuai dengan lamanya masa parkir. Hal ini indah bukan? Setiap orang memperlakukan orang lain seperti dirinya ingin diperlakukan, karena pasti ada saatnya setiap orang akan menjadi pengemudi dan juga sebaliknya pejalan kaki. Setiap orang menciptakan dan menikmati kenyamanan bersama dalam berlalu lintas. Di negaraku kapan ya??????

Sabtu, 30 Maret 2013

Petualangan Raja Ampat Episode 3


Bertemu kembali dalam petualangan Raja Ampat Part 3 setelah dua minggu rehat dan berpetualang ke kota Madrid dan Barcelona. Saya berharap pembaca setia tidak kehilangan alur cerita yang sebenarnya. Hari selasa tanggal 20 Maret 2012 saya putuskan untuk meminjam sepeda motor seorang tukang ojek supaya saya bisa bebas mengeksplor sendiri daerah Waisai, setelah harga disetujui kunci motor sudah di tangan saya. Tanpa curiga dengan keadaan motor, dengan penuh semangat saya segera mengawali jalan-jalan bersama sepeda motor rental. Perjalanan awal saya turun ke pelabuhan ferry untuk sekedar melihat kembali tempat kapal bersandar kemarin sore.  Kemudian putar balik menuju  ke utara kota Waisai, sambil bernyanyi kecil di atas motor saya mencoba menikmati pemandangan alam semi hutan. Saya melihat banyak pembukaan lahan baru, pohon-pohon ditebang, dinding tebing berlobang karena tanah di atasnya sudah dikeruk. Hutan hijau beranjak coklat karena yang mendominasi adalah pemandangan tanah berwarna coklat akibat adanya pembangunan jalan raya, perumahan, perkantoran yang sedang berlangsung di kota ini. Hutan yang tadinya rimba akan berubah menjadi kota wisata kepulauan, pikir saya. Dari utara saya berpindah ke arah selatan, pantai!Sepanjang perjalanan tidak banyak kendaraan yang berpapasan dengan saya. Sepi dan lengang!

Saya tiba di suatu pantai yang menyerupai teluk, banyak nyiur melambai seiring hembusan angin dari arah selatan. Saya menuju satu pelabuhan tua dan kini sepertinya tidak  digunakan lagi. Saya juga bertemu sepasang kekasih yang sedang kasmaran namun malu-malu ketika mata kami saling bertatap. Saya lihat sekeliling dan jauh di depan sana ada hutan yang masih sangat hijau. Hanya sebentar saja saya tinggal, kemudian saya beranjak dan mengendarai sepeda motor dengan niat menemukan hutan yang masih sangat hijau itu. Kembali saya bernyanyi dan sesekali bersiul untuk sekedar memecah kesunyian sepanjang perjalanan. Jalan yang saya lalui semakin jauh semakin berbatu dan menanjak. Beberapa tanjakan sudah saya lalui dan di depan saya ada jalan turunan dan upss, rem motor sepertinya tidak berfungsi baik. Oke cukup sampai di sini saja, pikir saya.
Saya berhenti dalam posisi jalan yang miring dan mencoba memutar balik arah sepeda motor. Jantung saya sudah mulai berdetak kencang karena yang saya ingat bahwa tanjakan terakhir yang saya lalui tadi sangat tajam dan panjang. Dengan perlahan dan sambil berdoa agar Tuhan menyertai saya, saya hidupkan mesin sepeda motor. Sepeda motor turun dengan gigi 1 pada posisi turunan yang sangat tajam, saya coba injak rem namun sepertinya tidak berpengaruh. Sepeda motor turun semakin laju, saya semakin tegang ketika saya lihat ada belokan tajam di depan, apa yang harus saya lakukan dengan belokan itu? Laju sepeda motor membuat ban terpeleset persis di belokan tajam dan brukkkkkkkkkk brakkkkkkk, saya terjatuh ke sebelah kiri, helm di kepala saya terpental jauh, dengan cepat saya lepas pegangan pada stang dan motor pun berguling di turunan. Ouhhh  saya ngeri seketika saya melihat darah segar mengalir dari lutut dan jempol kaki kiri, gesekan kaki kiri ke jalanan kering berbatu membuat lecet parah di sepanjang kaki kiri saya. Ada rasa sakit di tulang dada saya, saya coba ingat apa yang terjadi tadi. Ya, tulang dada terbentur ke badan stang sepeda motor. Segera saya buka tas tenteng yang juga ikut tersobek, dengan gemetaran saya ambil botol air mineral dan saya siramkan air ke sepanjang lutut hingga jempol kaki kiri yang berdarah dan bercampur debu tanah kering. Air mata menetes saat saya mencoba mengingat kembali kejadian yang berlangsung begitu cepat. Saya lihat ke sekeliling, yang ada hanya sepeda motor yang tergeletak di tengah jalan, helm yang terpelanting ke selokan, sandal jepit hijauku dengan bercak darah di atasnya dan hutan rimba di jurang sebelah kanan jalan. Ingin rasanya berteriak minta tolong, namun rasa perih dan sakit di kaki kiri membuatku tidak berdaya. Oh bagaimana bisa semua ini bisa terjadi?? Saya hanya menangis sambil membersihkan luka dengan tisu.
Beberapa saat kemudian saya mendengar ada suara dari kejauhan, seorang bapak berjalan ke arah saya sambil bertanya ade kenapa? Dia mendekat dan melihat keadaan saya. Bapak berinisial S membantu saya untuk berjalan menuju ke lokasi suatu gedung yang sudah tidak digunakan lagi. Saya duduk di emperan gedung sambil menunggu bapak S yang sedang mengambil sepeda motor dari tengah jalan. Dengan segera dia pergi mengambil daun-daun mujarab di hutan. Saya kunyah daun-daunan tersebut dan meletakkannya di atas sepanjang kaki kiri saya sebagai obat P3K ala orang kampung.  Perih yang sangat menusuk, namun benar daun-daunan ini sangat membantu di kala itu.  Sambil saya mengobati luka, bapak S pun memberondong saya dengan berbagai pertanyaan, sayapun menjawab sesekali saja sambil meringis kesakitan. Kenapa bisa jatuh, kenapa ade sendiri jalan-jalan ke hutan, ade dari mana, ade bikin apa di Waisai, ade orang apa, ade sudah menikah, dan pertanyaan yang luar biasa menggelikan namun menjengkelkan bagi saya saat itu, ade maukah menikah dengan saya?Saya punya kebun banyak, saya ini belum menikah, saya orang asli di kampung ini dan blablabla..dengan kesal dan menahan tekanan suara, saya jawab: “bapak tidak taukah saya sedang kesakitan dan bapak bertanya hal yang tidak masuk akal?” Rasa takut timbul dalam diri saya, takut apabila dia tiba-tiba pergi karena kecewa dan meninggalkan saya sendirian di tengah hutan ini. Jujur, saya masih perlu dia dan saya sangat menghargai dia yang sudah datang menolong saya. Bapak S pun langsung minta maaf dan melanjutkan pertanyaan yang lebih lebih tidak masuk akal lagi:”ya sudah kalo ade tidak mau, ade punya temankah untuk saya” Ingin rasanya tertawa ngakak namun saya coba bertingkah normal agar bapak S tidak tersinggung.

Setelah berbincang sejenak akhirnya bapak S bersedia untuk mengantar saya ke rumah sakit umum daerah kota Waisai dengan sepeda motor miliknya. Saya membalut luka di kaki kiri dengan pashmina hitam pemberian seorang teman di Wamena sebagai hadiah perpisahan saat itu. Kami meninggalkan sepeda motor yang saya pinjam karena saat itu saya sama sekali tidak mungkin untuk mengendarainya turun ke kota. Setibanya kami di RS, dua orang perawat dengan kesal membersihkan luka karena mereka harus bekerja lebih banyak untuk membersihkan daun-daunan di atas luka saya. Seorang perawat lagi-lagi menanyakan beberapa pertanyaan yang menyudutkan saya sebagai pasien, kenapa lukanya ditutupi pakai daun dan kain?saya jawab sambil merintih menahan sakit, “hanya itu yang saya bisa buat untuk menghentikan darah mba”, asalnya dari mana, kerja dimana, bikin apa di Waisai, kenapa datang sendiri, berani sekali datang sendiri dan blablabla...dan telepon genggam saya berbunyi, M (kenalan dari seorang teman di Wamena) menanyakan kabar saya. Dia sangat kaget ketika saya informasikan kejadian yang saya alami dan sore itu dia berjanji akan datang menemui saya. Saat itu juga saya langsung menghubungi Pdt. Mayai di Sorong dan menginformasikan keadaan saya. Luka sudah dibersihkan saya diperbolehkan pulang. Saya menerima beberapa jenis obat untuk diminum, saya tanya apakah ada obat untuk luka, mereka hanya bilang beli di apotik kalau mau bungkus luka. Jujur saja  informasi yang saya terima sangat tidak membantu, malah membuat saya semakin bingung.
Sebelum kembali ke penginapan saya ajak bapak S untuk makan siang. Di perjalanan menuju warung makan, kami bertemu dengan abang ojek A, diapun terheran-heran melihat keadaan kaki saya. Dia mendatangi kami, bapak S dengan baik hati menceritakan kejadian yang saya alami. Abang ojek A menyayangkan kenapa saya tidak menghubungi dia untuk minta bantuan pinjam motor dan menjadi “guide” seperti usulannya kemarin saat saya baru tiba di Waisai. Sore itu kamipun sepakat bahwa saya akan diantar kembali ke penginapan, kemudian bapak S dan abang ojek A akan pulang bersama ke lokasi kejadian dimana saya jatuh. Sepeda motor yang ditinggal di lokasi kejadian akan dibawa pulang oleh abang ojek A. Saya mengucapakan terimakasih kepada mereka yang dengan baik hati menolong dan tidak lupa saya berikan imbalan kepada mereka. Tanpa menolak mereka menerimanya.
> Pembaca setia saya mohon ijin untuk kembali bernafas karena jantung saya tidak berhenti berdetak kencang saat hal yang paling saya takutkan sepanjang liburan di Waisai harus saya tuangkan dalam tulisan..saya janji episode 4 nanti adalah menjadi penutup dari cerita panjang perjalanan saya ini. Sampai jumpa lagi...

Rabu, 20 Maret 2013

Lean On Me (Live) From a 1973 Concert by Bill Withers

Sometimes in our lives 
We all have pain 
We all have sorrow 
But if we are wise 
We know that there's always tomorrow 

Lean on me, when you're not strong 
And I'll be your friend 
I'll help you carry on 
For it won't be long 
'Til I'm gonna need 
Somebody to lean on

Please swallow your pride 
If I have things you need to borrow 
For no one can fill those of your needs 
That you won't let show

You just call on me brother, when you need a hand (Chorus)
We all need somebody to lean on 
I just might have a problem that you'd understand 
We all need somebody to lean on

Second Verse
(Chorus)

If there is a load you have to bear 
That you can't carry 
I'm right up the road 
I'll share your load 
If you just call me
(Chorus)
Call me (if you need a friend)
Call me (call me)
Call me (if you need a friend)
Call me (if you ever need a friend)
Call me (call me)
Call me 
Call me (if you need A friend)

Rabu, 06 Maret 2013

Petualangan Raja Ampat Episode 2

Seperti janji saya pada pembaca setia juga pada diri sendiri bahwa coretan petualangan ini akan berlanjut dan saya yakin semakin saya mengorek kenangan itu dan menuangkannya dalam tulisan, semakin pudar pula luka yang tertinggal di dalam pikiran. Walaupun dengan jujur saya katakan, ini tidak gampang. Semoga :)
Sore itu sambil menunggu matahari terbenam, saya sempatkan berjalan kaki menyusuri jalan umum sedikit berbatu dan berdebu, ya saat itu sedang musim kemarau. Saya mampir di pinggir pantai di tempat seorang nelayan yang sedang bekerja membangun sebuah kapal, tukang memang pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan kreativitas, bisik saya dalam hati. Saya melanjutkan jalan kaki lebih jauh untuk sekedar melihat perkampungan di daerah tersebut, namun ketidaknyamanan timbul dalam hati saat sayup-sayup dari kejauhan saya mendengar suara siulan beberapa orang (saya yakin mereka laki-laki) ke arah saya. Saya putuskan untuk kembali saja ke penginapan.
Sore itu juga saya mengirim pesan lewat telepon genggam kepada seorang kenalan berinisial M, beliau adalah teman kuliah dari teman saya di Wamena. Teman saya merekomendasikan M untuk saya temui di pulau ini. Sejauh informasi yang saya dapat dari teman, M bekerja di sebuah organisasi peduli lingkungan laut di Waisai, kabupaten Raja Ampat. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya sudah tiba di Waisai. Dia menjawab akan menghubungi kembali esok hari mengenai rencana perjalanan di sekitar pulau. Sebelumnya, sewaktu di Wamena saya sudah pernah menghubungi beliau dan menanyakan banyak hal tentang daerah kepulauan ini dan saya mendapat respon baik saat itu. Sama halnya yang disampaikan oleh teman saya dia adalah teman yang baik. Saya lega karena tahu bahwa esok hari akan ada teman untuk eksplor daerah kepulauan ini.
Petangpun akhirnya hadir di kepulauan ini, hari ini sedikit lelah karena perjalanan. Sebelum memutuskan tidur, saya sempat "update" keadaan saya di facebook juga kepada orang-orang terdekat. Kantukpun menyapa dan saya tertidur lelap namun tidak bertahan lama hingga pada pukul 3 subuh tiba-tiba ada suara gedoran yang sangat kuat di pintu kamar tempat saya menginap. Detak jantung saya semakin kencang karena rasa takut yang tak terkira, saya tidak berani bergerak ataupun untuk berteriak. Sangat jelas saya mendengar suara laki-laki di balik pintu:ade, buka pintukah?". Gedoran di pintu semakin keras dan saya lihat engsel pintu bergerak sepertinya dia mencoba membuka paksa pintunya. Saya semakin kaku dan bermohon pada Tuhan agar pintu kamar ini memang cukup kuat untuk tidak berhasil didorong. Saya tidak percaya ini terjadi, ini gila di waktu subuh pintu kamar tempat anda menginap digedor oleh seorang asing yang samasekali tidak anda kenal. Sekitar 5 menit berlalu, laki-laki tersebut sepertinya pergi. Saya tidak sanggup lagi menahan tangis, saya coba tidak bersuara. Saya hubungi pacar nun jauh di Sabah, saya hubungi teman saya Evita yang ada di Keerom, Jayapura. Mungkin ini tidak masuk akal namun saya merasa punya teman walaupun sendiri. Saya tidak berani lagi untuk melanjutkan tidur yang tertunda, saya hanya menangis dan berjaga.
Pagi, 20 Maret 2013, cahaya dari ventilasi menyeruak ke dalam kamar, saya beranikan diri untuk buka pintu dan lihat ke sekeliling penginapan. Ada beberapa tamu penginapan yang memang sedang berkumpul dan kelihatannya mereka begadang semalaman. Saya tidak mau menaruh curiga, segera saya membeli sarapan pagi ke kota dengan bantuan seorang abang ojek berinisial H. Di daerah ini memang tidak ada penjual makanan sehingga harus pergi ke kota. Setelah sarapan saya menemui pemilik penginapan, bapak T dan menyampaikan apa yang terjadi subuh tadi. T hanya menyarankan agar saya mengunci pintu kamar dan berteriak apabila terjadi lagi hal yang sama di malam berikutnya.
>>Sejenak saya ingin bernafas normal, karena ketakutan kembali hadir dalam diri saya. Tangan ini gemetaran saat saya berusaha mengetik sambil mengingat kembali kejadian itu. Ini sangat tidak gampang kawan. Sampai jumpa di episode ke tiga pembaca setiaku..sayapun harus mengumpulkan kekuatan & keberanian untuk menuangkannya dalam tulisan.

Selasa, 05 Maret 2013

Petualangan Raja Ampat Episode 1

Sudah akan genap satu tahun kebersamaanku dengan bekas luka bentuk angka 7 atau keris jawa atau tongkat di kaki kiriku. Sudah berbagai macam obat penghilang bekas luka saya oleskan di atasnya, tak kunjung juga ia memudar. Bukan bekas luka ini yang saya permasalahkan, ini hanya bukti fisik saja. Jauh di dalam hati, ada trauma kasat mata yang harusnya perlahan sudah memudar. Inilah yang membuatku enggan menuliskan kejadian yang hampir satu tahun saya coba lupakan yang membuatku merinding dan ketakutan bila mengingatnya. Yah, saya manusia yang penuh dengan trauma masa lalu yang beragam sudah terjadi dalam hidupku. Namun sebelum saya memaparkan apa yang sudah terjadi dalam liburan saya di kepulauan Raja Ampat, saya berharap tulisan ini menjadi kritikan, peringatan dan tips bagi banyak pihak yang terlibat dalam dunia pariwista dan pecinta petualangan.
Pastinya banyak orang bermimpi dan menghayal berlibur ke kepulauan indah tepat di sebelah barat kepala burung  pulau Papua, Raja Ampat. Tidak sedikit juga yang berusaha menyisihkan penghasilannya untuk mewujudkan mimpi petualangan ke pulau ini. Keindahan pulau ini sering menjadi bahan perbincangan bagi kalangan pecinta petualangan. Termasuk saya dan beberapa teman petualang, dengan melihat foto di dunia maya dan mendengar pengalaman teman yang sudah pernah ke sana, hati ini tidak kuat untuk segera mewujudkannya.
Bulan desember  2011 saya dan sahabat mendiskusikan rencana liburan berantai diawali dari Raja Ampat-Labuan Bajo-Danau Kelimutu-Larantuka-Kupang. Namun di bulan februari 2012 teman memberikan informasi bahwa dia tidak bisa mengikuti rute awal liburan ke Raja Ampat. akhirnya kami sepakat untuk bertemu di Bali dan kemudian kami bersama-sama melanjutkan rute perjalanan berikutnya. Awalnya saya agak ragu dan tidak percaya diri untuk melakukan perjalanan sendiri, maklum selama ini saya sama sekali belum pernah melakukannya (tidak seperti kebanyakan wisatawan asing).Saya sempat berdiskusi dan meminta pendapat kekasih saya dan dia dengan senang hati sangat mendukung rencana saya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya putuskan untuk membeli tiket pesawat ke semua rute perjalanan saya dengan lengkap!Berhubung karena harga tiket pesawat akan menjadi lebih mahal mendekati hari-H.
Perjalanan saya awali tanggal 16 Maret 2012 dari Wamena, pegunungan tengah Papua menuju Sentani  di kabupaten Jayapura. Saat itu menjadi hari berakhirnya pelayanan saya selama 2 tahun di Wamena. Sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Sorong, Papua Barat saya putuskan untuk menginap satu malam di Sentani. Pada tanggal 17 Maret 2012 saya dengan penuh semangat berangkat kota Sorong, karena saya akan bertemu kembali dengan keluarga Pdt. Mayai yang dulu menjadi gembala jemaat di kota Wamena. Sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa bagi saya bertemu dengan keluarga ini beserta anak-anaknya yang selalu saya rindukan.
Dua hari di Sorong saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kepulauan Raja Ampat pada tanggal 19 Maret 2012. Dibutuhkan 2 jam untuk tiba di pelabuhan Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat. Kesan pertama bagi saya adalah luar biasa indah dan menawan.
Seorang abang ojek berinisial A bersedia mengantarkan saya ke penginapan yang murah dan bersih. Di perjalanan beliau banyak bertanya tentang pekerjaan dan tujuan kedatangan saya ke pulau ini. Beliau menyatakan kesediaannya apabila diminta menjadi "guide" selama saya di pulau ini. Tiba di penginapan NOVALIN yang memang murah dan bersih tersebut saya mulai memikirkan rencana untuk esok harinya.
>>> Sampai jumpa di lembaran berikutnya, pembaca setiaku ")

Minggu, 03 Februari 2013

Ini namanya keajaiban!!



Masih segar dalam ingatan saya saat pihak kedutaan Swiss di Jakarta menolak pengajuan visa kunjungan saya di bulan November 2012 tahun lalu. Saat itu dengan suara bergetar menahan sedih saya berulang kali memohon untuk diberikan alasan penolakan secara verbal, namun petugas berambut pendek dengan wajah dingin menolak untuk memberikan alasan. Sampai akhirnya seorang petugas kedutaan yang lain masuk ke dalam ruangan dan saya dengan kekuatan yang masih saya miliki, mencoba memohon alasan penolakan visa. Tetap dengan wajah yang tanpa ampun dan tatapan mata yang tidak berbelas kasih, beliau juga menyatakan tidak mengetahui alasan penolakan visa karena yang menolak visa adalah bagian imigrasi di Swiss. Saat itu airmata saya langsung jatuh tanpa aba-aba(hahah,emg ada ya?) dan rasa malu saya seketika hilang walaupun beberapa pelamar visa sudah memperhatikan perdebatan saya dengan petugas di kedutaan sejak awal. Dengan semangat yang patah, saya bergegas ke luar ruangan tersebut dan berjalan melalui pintu gerbang kedutaan yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Saya tidak sanggup lagi menyapa mereka dengan senyuman khas saya (halahhhh). Bingung memikirkan tindakan apalagi yang bisa saya lakukan, akhirnya saya beranjak pulang ke Cikarang tempat kediaman kakak saya.
Beberapa hari kemudian,saya bersama pacar mendatangi kantor kedutaan tersebut dan dia diperbolehkan masuk tanpa harus membuat janji terlebih dahulu. Di dalam kantor kedutaan dia hanya disambut oleh resepsionis yang mengatakan bahwa petugas pengurusan visa tidak melayani komplain di hari senin. Kamipun diminta untuk menelepon kantor kedutaan sekitar jam 2 siang. Sekitar jam 2 siang, pacar saya, Patrick menelepon kantor kedutaan dan yang menjawab seluruh pertanyaan yang kami ajukan adalah sang resepsionis, kami disarankan untuk melakukan naik banding di imigrasi Swiss.
Seminggu berlalu kami sudah mempersiapkan seluruh dokumen yang akan dikirim oleh orangtua pacar saya ke kantor imigrasi di Swiss. Dibutuhkan waktu kira-kira 1-2 bulan untuk mendapatkan hasil naik banding. Wowww...waktu yang tidak singkat, ini membuat kami menjadi putus asa. Harapan untuk berkumpul bersama keluarga pacar di hari natalpun sirna sudah. Saya dan pacar tidak ingin larut dalam kesedihan, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan liburan ke Bandung dan Yogyakarta. Hingga pada pertengahan bulan Desember, saat pacar saya akan kembali ke Swiss, hasil naik banding tidak kunjung datang. Apalagi setelah kami dengar bahwa tidak pernah ada sejarahnya usaha naik banding pelamar visa diterima oleh pihak imigrasi. Karena biasanya keputusan kantor kedutaan di satu negara sangat dipercayai sebagai keputusan akhir.
Setelah berdiskusi panjang, kami memutuskan untuk pasrah saja dengan hasil naik banding yang kami tidak tau pasti kapan datangnya. Sambil menunggu keputusan tersebut saya mempersiapkan dokumen yang diperlukan untuk strategi berikutnya, yaitu mengurus visa menikah. Urusan dokumen yang sangat rumit dan panjang, hingga saya harus pulang kampung untuk mendaptkannya. Satu bulan di kampung akhirnya dokumen lengkap, saatnya untuk menghadap ke pejabat di kementerian sebelum saya masukkan aplikasi ke kedutaan. Lagipula keputusan banding tak kunjung datang. Satu hari di Cikarang setelah saya kembali dari kampung, saya mendapat kabar dari pacar bahwa naik banding di imigrasi Swiss diterima!!Saya shock dan sangat tidak percay. Tiba-tiba saja saya menangis karena terharu. Ini luar biasa Tuhan, sahut saya pada Tuhan. Sedikitpun kami tidak berharap akan hasil banding, namun sebaliknya kami mendapat kabar yang luar biasa membahagiakan. Saat kami tidak berharap apapun dari usaha kami, namun Tuhan memberikan yang terbaik. Tuhan memang baik untuk selama-lamanya, God is good all the time.