Dua bulan berkunjung ke Swiss dan tiga negara lain di benua Eropa memberi banyak pelajaran berharga bagi saya, khususnya selama saya tinggal di Swiss. Tentunya saya merasakan pelajaran penting ini setelah membandingkan situasi berlalu lintas di negara asal Indonesia. Semangat saya untuk menulis tentang hal ini sebelumnya sempat redup berhubung karena kesibukan mengurus administrasi akhir-akhir ini, namun selama dua minggu kembali lagi bergelut dengan lalu lintas ibukota negara, saya merasakan keinginan untuk berceloteh lewat tulisan semakin memuncak.Masalah macetnya lalu lintas bahkan di jalan tol, saling merebut jalur, tidak menyalakan lampu tanda bagi orang lain, berdesak-desakan di halte busway, saling dorong saat akan masuk ke dalam busway, bergelantungan sambil dihimpit oleh penumpang lain, teriakan para kondektur angkutan umum, makian bapak supir karena kesal sudah didahului oleh kendaraan lain, hingga tidak mengindahkan lampu tanda lalu lintas (biasa disebut lampu merah) sudah saya sadari semenjak dulu dan saya yakin semua orang di negara ini mengetahuinya. Saya memang pernah mengalaminya dulu ketika saya tinggal di ibukota negara ini. Dulu saya memaklumi, menerima dan pasrah dengan situasi ini….dulu ketika saya belum pindah bekerja di daerah pedalaman Wamena, Papua.
Sekarang, selama dua minggu di sini ditambah lagi setelah menikmati nyamannya lalu lintas di Swiss, dengan jujur saya katakan saya tidak kuat, tidak maklum juga tidak bisa kompromi dengan situasi ini. Terlebih lagi setelah kejadian yang saya alamiseminggu yang lalu tanggal 25 April 2013. Kejadian dimana saya merasakan horror kematian. Saat itu hujan sangat deras, ketika saya kembali dari kantor KEMENLU menuju halte busway gambir 1. Berjalan di trotoar khusus pejalan kaki tidak begitu nyaman karena sesekali saya terkena semburan air oleh roda kendaraan yang melaju cepat. Dari kejauhan saya melihat ada halte busway di sebelah kiri jalan, yang artinya saya harus menyeberang jalan yang cukup lebar. Saya cari-cari cat belang-belang tanda buat menyeberang, juga tidak ada. Saya berjalan lagi hingga tiba di sebuah lampu lalu lintas persis di depan Markas Besar TNI Gambir. Saya tekan tombol untuk mengaktifkan lampu hijau untuk pejalan kaki. Suara bip hitung mundur dari 18 detik mulai aktif, namun tak satupun kendaraan mau berhenti. Saya tidak berani menerobos ke tengah karena ketika saya coba beberapa kendaraan menyalakan klakson tanda tidak setuju dengan tindakan saya. Namun ketika satu kendaraan mencoba member jalan untuk saya, keberanian saya akhirnya muncul. Saya mengarahkan tangan kiri saya ke samping sekedar meminta tolong kendaraan lain untuk berhenti juga. Perlahan kendaraan lain berhenti namun bunyi klakson yang sangat kuat memekakkan telinga saya dan menciptakan ketakutan dalam diri saya. Dengan spontan saya berteriak stopppppp sambil berlari ketakutan! Saya sangat yakin mereka tidak mendengar teriakan saya. Saya yakin mereka kesal dengan tindakan saya menyeberang jalan yang mereka lalui, saya yakin mereka adalah orang-orang yang tidak sabar, saya yakin mereka adalah orang-orang yang terbiasa melanggar peraturan, saya yakin mereka adalah orang-orang dengan otak bebal, saya sangat yakin mereka adalah koruptor jalanan!
Bagi saya ini adalah hal gila dan mengerikan! Saya mengimpikan rasa nyaman seperti ketika menyeberang jalan di Swiss dimana pejalan kaki selalu diutamakan bahkan saat tidak ada lampu lalu lintas sama sekali. Pengemudi kendaraan akan dengan penuh rasa hormat memberikan jalan bagi penyeberang dan kemudian disambut lambaian terimakasih oleh penyeberang jalan. Tidak pernah saya melihat pengemudi ugal-ugalan juga pecinta suara klakson. Sangat jarang saya dengar orang membunyikan klakson untuk alasan apapun, yang ada hanya suara mesin kendaraan. Pertama kali menyadari hal ini saya menjadi malu sendiri mengingat suasana lalu lintas di banyak daerah di negara saya. Tidak ada saling merebut jalan sambil meneriakkan kekesalan oleh pengemudi kepada pengemudi lain. Penggunaan lampu tanda bagi orang lain dengan disiplin. Mengatur laju kendaraan sesuai dengan yang sudah tertulis di plang pinggir jalan, karena laju kendaraan berbeda di setiap tempat. Memarkir kendaraan di tempat yang sudah tersedia tanpa harus disemprit oleh petugas parkir. Pengemudi melakukan pembayaran di mesin yang sudah tersedia sesuai dengan lamanya masa parkir. Hal ini indah bukan? Setiap orang memperlakukan orang lain seperti dirinya ingin diperlakukan, karena pasti ada saatnya setiap orang akan menjadi pengemudi dan juga sebaliknya pejalan kaki. Setiap orang menciptakan dan menikmati kenyamanan bersama dalam berlalu lintas. Di negaraku kapan ya??????





