Masih segar dalam ingatan saya saat pihak kedutaan Swiss di
Jakarta menolak pengajuan visa kunjungan saya di bulan November 2012 tahun lalu.
Saat itu dengan suara bergetar menahan sedih saya berulang kali memohon untuk
diberikan alasan penolakan secara verbal, namun petugas berambut pendek dengan
wajah dingin menolak untuk memberikan alasan. Sampai akhirnya seorang petugas
kedutaan yang lain masuk ke dalam ruangan dan saya dengan kekuatan yang masih
saya miliki, mencoba memohon alasan penolakan visa. Tetap dengan wajah yang
tanpa ampun dan tatapan mata yang tidak berbelas kasih, beliau juga menyatakan
tidak mengetahui alasan penolakan visa karena yang menolak visa adalah bagian
imigrasi di Swiss. Saat itu airmata saya langsung jatuh tanpa aba-aba(hahah,emg
ada ya?) dan rasa malu saya seketika hilang walaupun beberapa pelamar visa
sudah memperhatikan perdebatan saya dengan petugas di kedutaan sejak awal.
Dengan semangat yang patah, saya bergegas ke luar ruangan tersebut dan berjalan
melalui pintu gerbang kedutaan yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Saya
tidak sanggup lagi menyapa mereka dengan senyuman khas saya (halahhhh). Bingung
memikirkan tindakan apalagi yang bisa saya lakukan, akhirnya saya beranjak
pulang ke Cikarang tempat kediaman kakak saya.
Beberapa hari kemudian,saya bersama pacar mendatangi kantor
kedutaan tersebut dan dia diperbolehkan masuk tanpa harus membuat janji
terlebih dahulu. Di dalam kantor kedutaan dia hanya disambut oleh resepsionis
yang mengatakan bahwa petugas pengurusan visa tidak melayani komplain di hari
senin. Kamipun diminta untuk menelepon kantor kedutaan sekitar jam 2 siang.
Sekitar jam 2 siang, pacar saya, Patrick menelepon kantor kedutaan dan yang menjawab
seluruh pertanyaan yang kami ajukan adalah sang resepsionis, kami disarankan
untuk melakukan naik banding di imigrasi Swiss.
Seminggu berlalu kami sudah mempersiapkan seluruh dokumen
yang akan dikirim oleh orangtua pacar saya ke kantor imigrasi di Swiss.
Dibutuhkan waktu kira-kira 1-2 bulan untuk mendapatkan hasil naik banding.
Wowww...waktu yang tidak singkat, ini membuat kami menjadi putus asa. Harapan
untuk berkumpul bersama keluarga pacar di hari natalpun sirna sudah. Saya dan
pacar tidak ingin larut dalam kesedihan, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan
liburan ke Bandung dan Yogyakarta. Hingga pada pertengahan bulan Desember, saat
pacar saya akan kembali ke Swiss, hasil naik banding tidak kunjung datang.
Apalagi setelah kami dengar bahwa tidak pernah ada sejarahnya usaha naik
banding pelamar visa diterima oleh pihak imigrasi. Karena biasanya keputusan
kantor kedutaan di satu negara sangat dipercayai sebagai keputusan akhir.
Setelah berdiskusi panjang, kami memutuskan untuk pasrah
saja dengan hasil naik banding yang kami tidak tau pasti kapan datangnya.
Sambil menunggu keputusan tersebut saya mempersiapkan dokumen yang diperlukan
untuk strategi berikutnya, yaitu mengurus visa menikah. Urusan dokumen yang
sangat rumit dan panjang, hingga saya harus pulang kampung untuk mendaptkannya.
Satu bulan di kampung akhirnya dokumen lengkap, saatnya untuk menghadap ke
pejabat di kementerian sebelum saya masukkan aplikasi ke kedutaan. Lagipula
keputusan banding tak kunjung datang. Satu hari di Cikarang setelah saya
kembali dari kampung, saya mendapat kabar dari pacar bahwa naik banding di
imigrasi Swiss diterima!!Saya shock dan sangat tidak percay. Tiba-tiba saja
saya menangis karena terharu. Ini luar biasa Tuhan, sahut saya pada Tuhan.
Sedikitpun kami tidak berharap akan hasil banding, namun sebaliknya kami mendapat
kabar yang luar biasa membahagiakan. Saat kami tidak berharap apapun dari usaha
kami, namun Tuhan memberikan yang terbaik. Tuhan memang baik untuk
selama-lamanya, God is good all the time.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar