Selasa, 05 Maret 2013

Petualangan Raja Ampat Episode 1

Sudah akan genap satu tahun kebersamaanku dengan bekas luka bentuk angka 7 atau keris jawa atau tongkat di kaki kiriku. Sudah berbagai macam obat penghilang bekas luka saya oleskan di atasnya, tak kunjung juga ia memudar. Bukan bekas luka ini yang saya permasalahkan, ini hanya bukti fisik saja. Jauh di dalam hati, ada trauma kasat mata yang harusnya perlahan sudah memudar. Inilah yang membuatku enggan menuliskan kejadian yang hampir satu tahun saya coba lupakan yang membuatku merinding dan ketakutan bila mengingatnya. Yah, saya manusia yang penuh dengan trauma masa lalu yang beragam sudah terjadi dalam hidupku. Namun sebelum saya memaparkan apa yang sudah terjadi dalam liburan saya di kepulauan Raja Ampat, saya berharap tulisan ini menjadi kritikan, peringatan dan tips bagi banyak pihak yang terlibat dalam dunia pariwista dan pecinta petualangan.
Pastinya banyak orang bermimpi dan menghayal berlibur ke kepulauan indah tepat di sebelah barat kepala burung  pulau Papua, Raja Ampat. Tidak sedikit juga yang berusaha menyisihkan penghasilannya untuk mewujudkan mimpi petualangan ke pulau ini. Keindahan pulau ini sering menjadi bahan perbincangan bagi kalangan pecinta petualangan. Termasuk saya dan beberapa teman petualang, dengan melihat foto di dunia maya dan mendengar pengalaman teman yang sudah pernah ke sana, hati ini tidak kuat untuk segera mewujudkannya.
Bulan desember  2011 saya dan sahabat mendiskusikan rencana liburan berantai diawali dari Raja Ampat-Labuan Bajo-Danau Kelimutu-Larantuka-Kupang. Namun di bulan februari 2012 teman memberikan informasi bahwa dia tidak bisa mengikuti rute awal liburan ke Raja Ampat. akhirnya kami sepakat untuk bertemu di Bali dan kemudian kami bersama-sama melanjutkan rute perjalanan berikutnya. Awalnya saya agak ragu dan tidak percaya diri untuk melakukan perjalanan sendiri, maklum selama ini saya sama sekali belum pernah melakukannya (tidak seperti kebanyakan wisatawan asing).Saya sempat berdiskusi dan meminta pendapat kekasih saya dan dia dengan senang hati sangat mendukung rencana saya. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, saya putuskan untuk membeli tiket pesawat ke semua rute perjalanan saya dengan lengkap!Berhubung karena harga tiket pesawat akan menjadi lebih mahal mendekati hari-H.
Perjalanan saya awali tanggal 16 Maret 2012 dari Wamena, pegunungan tengah Papua menuju Sentani  di kabupaten Jayapura. Saat itu menjadi hari berakhirnya pelayanan saya selama 2 tahun di Wamena. Sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Sorong, Papua Barat saya putuskan untuk menginap satu malam di Sentani. Pada tanggal 17 Maret 2012 saya dengan penuh semangat berangkat kota Sorong, karena saya akan bertemu kembali dengan keluarga Pdt. Mayai yang dulu menjadi gembala jemaat di kota Wamena. Sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa bagi saya bertemu dengan keluarga ini beserta anak-anaknya yang selalu saya rindukan.
Dua hari di Sorong saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kepulauan Raja Ampat pada tanggal 19 Maret 2012. Dibutuhkan 2 jam untuk tiba di pelabuhan Waisai, ibukota kabupaten Raja Ampat. Kesan pertama bagi saya adalah luar biasa indah dan menawan.
Seorang abang ojek berinisial A bersedia mengantarkan saya ke penginapan yang murah dan bersih. Di perjalanan beliau banyak bertanya tentang pekerjaan dan tujuan kedatangan saya ke pulau ini. Beliau menyatakan kesediaannya apabila diminta menjadi "guide" selama saya di pulau ini. Tiba di penginapan NOVALIN yang memang murah dan bersih tersebut saya mulai memikirkan rencana untuk esok harinya.
>>> Sampai jumpa di lembaran berikutnya, pembaca setiaku ")

Tidak ada komentar: