Seperti janji saya pada pembaca setia juga pada diri sendiri bahwa coretan petualangan ini akan berlanjut dan saya yakin semakin saya mengorek kenangan itu dan menuangkannya dalam tulisan, semakin pudar pula luka yang tertinggal di dalam pikiran. Walaupun dengan jujur saya katakan, ini tidak gampang. Semoga :)
Sore itu sambil menunggu matahari terbenam, saya sempatkan berjalan kaki menyusuri jalan umum sedikit berbatu dan berdebu, ya saat itu sedang musim kemarau. Saya mampir di pinggir pantai di tempat seorang nelayan yang sedang bekerja membangun sebuah kapal, tukang memang pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan kreativitas, bisik saya dalam hati. Saya melanjutkan jalan kaki lebih jauh untuk sekedar melihat perkampungan di daerah tersebut, namun ketidaknyamanan timbul dalam hati saat sayup-sayup dari kejauhan saya mendengar suara siulan beberapa orang (saya yakin mereka laki-laki) ke arah saya. Saya putuskan untuk kembali saja ke penginapan.
Sore itu juga saya mengirim pesan lewat telepon genggam kepada seorang kenalan berinisial M, beliau adalah teman kuliah dari teman saya di Wamena. Teman saya merekomendasikan M untuk saya temui di pulau ini. Sejauh informasi yang saya dapat dari teman, M bekerja di sebuah organisasi peduli lingkungan laut di Waisai, kabupaten Raja Ampat. Saya sampaikan kepadanya bahwa saya sudah tiba di Waisai. Dia menjawab akan menghubungi kembali esok hari mengenai rencana perjalanan di sekitar pulau. Sebelumnya, sewaktu di Wamena saya sudah pernah menghubungi beliau dan menanyakan banyak hal tentang daerah kepulauan ini dan saya mendapat respon baik saat itu. Sama halnya yang disampaikan oleh teman saya dia adalah teman yang baik. Saya lega karena tahu bahwa esok hari akan ada teman untuk eksplor daerah kepulauan ini.
Petangpun akhirnya hadir di kepulauan ini, hari ini sedikit lelah karena perjalanan. Sebelum memutuskan tidur, saya sempat "update" keadaan saya di facebook juga kepada orang-orang terdekat. Kantukpun menyapa dan saya tertidur lelap namun tidak bertahan lama hingga pada pukul 3 subuh tiba-tiba ada suara gedoran yang sangat kuat di pintu kamar tempat saya menginap. Detak jantung saya semakin kencang karena rasa takut yang tak terkira, saya tidak berani bergerak ataupun untuk berteriak. Sangat jelas saya mendengar suara laki-laki di balik pintu:ade, buka pintukah?". Gedoran di pintu semakin keras dan saya lihat engsel pintu bergerak sepertinya dia mencoba membuka paksa pintunya. Saya semakin kaku dan bermohon pada Tuhan agar pintu kamar ini memang cukup kuat untuk tidak berhasil didorong. Saya tidak percaya ini terjadi, ini gila di waktu subuh pintu kamar tempat anda menginap digedor oleh seorang asing yang samasekali tidak anda kenal. Sekitar 5 menit berlalu, laki-laki tersebut sepertinya pergi. Saya tidak sanggup lagi menahan tangis, saya coba tidak bersuara. Saya hubungi pacar nun jauh di Sabah, saya hubungi teman saya Evita yang ada di Keerom, Jayapura. Mungkin ini tidak masuk akal namun saya merasa punya teman walaupun sendiri. Saya tidak berani lagi untuk melanjutkan tidur yang tertunda, saya hanya menangis dan berjaga.
Pagi, 20 Maret 2013, cahaya dari ventilasi menyeruak ke dalam kamar, saya beranikan diri untuk buka pintu dan lihat ke sekeliling penginapan. Ada beberapa tamu penginapan yang memang sedang berkumpul dan kelihatannya mereka begadang semalaman. Saya tidak mau menaruh curiga, segera saya membeli sarapan pagi ke kota dengan bantuan seorang abang ojek berinisial H. Di daerah ini memang tidak ada penjual makanan sehingga harus pergi ke kota. Setelah sarapan saya menemui pemilik penginapan, bapak T dan menyampaikan apa yang terjadi subuh tadi. T hanya menyarankan agar saya mengunci pintu kamar dan berteriak apabila terjadi lagi hal yang sama di malam berikutnya.
>>Sejenak saya ingin bernafas normal, karena ketakutan kembali hadir dalam diri saya. Tangan ini gemetaran saat saya berusaha mengetik sambil mengingat kembali kejadian itu. Ini sangat tidak gampang kawan. Sampai jumpa di episode ke tiga pembaca setiaku..sayapun harus mengumpulkan kekuatan & keberanian untuk menuangkannya dalam tulisan.
Pagi, 20 Maret 2013, cahaya dari ventilasi menyeruak ke dalam kamar, saya beranikan diri untuk buka pintu dan lihat ke sekeliling penginapan. Ada beberapa tamu penginapan yang memang sedang berkumpul dan kelihatannya mereka begadang semalaman. Saya tidak mau menaruh curiga, segera saya membeli sarapan pagi ke kota dengan bantuan seorang abang ojek berinisial H. Di daerah ini memang tidak ada penjual makanan sehingga harus pergi ke kota. Setelah sarapan saya menemui pemilik penginapan, bapak T dan menyampaikan apa yang terjadi subuh tadi. T hanya menyarankan agar saya mengunci pintu kamar dan berteriak apabila terjadi lagi hal yang sama di malam berikutnya.
>>Sejenak saya ingin bernafas normal, karena ketakutan kembali hadir dalam diri saya. Tangan ini gemetaran saat saya berusaha mengetik sambil mengingat kembali kejadian itu. Ini sangat tidak gampang kawan. Sampai jumpa di episode ke tiga pembaca setiaku..sayapun harus mengumpulkan kekuatan & keberanian untuk menuangkannya dalam tulisan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar