Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang kisah ini, tapi seperti biasanya aku lebih suka mengkhayal dan membuat cerita semakin liar sebatas di dalam pikiran saja, untuk menuangkannya, butuh seribu kejadian lucu yang menumpuk berdesak-desakan di dalam otak kecilku, sehingga malam ini aku mulai melentikkan jemariku menuangkan kisah lucu malam ini.
SAMBIL TERBATUK-BATUK, aku berbelok dari ujung jalan gedung apartemen anak dampinganku. Malam ini merupakan malam yang ke sekian kali aku menjagainya hingga tertidur saat kedua orangtuanya pergi makan malam di luar atau menonton konser band kesayangan mereka manggung. Pukul sembilan lewat 15 malam waktu Lausanne, saat kabut tebal yang sedari pagi masih setia menutupi langit-langit kota ini, aku berharap tidak tersandung bangku taman SMA, di depanku. Oh malam ini betul-betul dingin, bisikku dalam hati. Benar saja, batukku yang hampir saja hilang setelah satu minggu menggerogoti tenggorokanku, kembali bersenandung. "Uhuhkkk uhukkkk...uhukkkkk..."
Tiga kali terbatuk, samar-samar kudengar senandung lagu India "tum a chaneee...tummm a chaneee...tummm...tummm" dilagukan oleh suara yang jelas-jelas berat namun merdu...Apa Shahrukh Khan pindah ke kota Lausanne, pikirku.
Langkah kakiku tertahan saat samar-sama kulihat sesosok manusia berambut panjang sepunggung, dengan gaun hitam ketat sepaha dipadukan dengan "stocking" hitam transparan membalut kaki mungilnya, kulayangkan mataku ke wajahnya untuk memastikan apakah dia betul hidup atau jelmaan bidadari yang turun dari langit berkabut malam ini. Dia melirikku dan kusapa dia dengan sapaan selamat malam, seakan tidak mendengar diapun meliuk-liukkan tubuhnya di depan kaca jendela gedung sambil kembali berdendang "tummm a chaneee..tummm a chaneee...tumm..tumm". Ohhh, liukannya melebihi kemampuan Dewi Persik si ratu gergaji dari negaraku. Aku kembali terbatuk, kali ini aku ngga yakin aku terbatuk karena tenggorokanku yang gatal lagi, atau aku terbatuk karena keselek air ludah akibat aksi liukannya :P
Sambil kupegang telepon genggamku, aku berpura-pura sibuk menyukai foto-foto indah seorang teman di Instagram. Sesekali mataku melirik ke kiri dan ke kanan, kulihat dua sosok manusia dengan penampilan yang tidak kalah dari sosok penari yang kutinggalkan di belakang. Aku tidak mengucapkan selamat malam lagi, bukan karena malas tidak dibalas, namun karena batukku tak berhenti berdehemmmm...Mobil-mobil yang dikendarai lelaki berbagai bentuk wajah berlewatan melakukan pengamatan situasi. Inilah episode yang kutakutkan. Jika di bulan-bulan lalu aku berjalan dengan gaya slenge`an, dengan memasangkan tas punggungku di depan dada, dan mengayun-ayunkan payung cantikku dengan kasar, sambil membuka lebar kedua lenganku, seolah-olah aku baru selesai fitness dengan hasil lengan yang masih kaku, kali ini aku rapatkan kedua lenganku ke dada, sambil membetulkan posisi topi dinginku, aku terbatuk-batuk sambil berpikir semoga mereka kasihan sama nenek tua satu ini. TIDAK INGIN terulang lagi, di tempat ini juga beberapa bulan lalu, setelah pulang dari rumah anak dampinganku. Aku ketakutan karena disapa selamat malam oleh seorang lelaki dari balik setir mobilnya. Pengalaman yang sama sudah pernah terjadi juga beberapa tahun lalu di Jakarta saat saya menunggu teman di pojokan persimpangan menuju jalan jaksa, seorang lelaki dengan suara sok akrab dari kursi penumpang sebuah taksi menawarkan tumpangan untuk masuk ke dalam taksi, aku berpura-pura tidak kenal tapi karena dia bertahan sok mengenalku, aku sahut dengan sedikit berteriak "kamu tidak dengar, aku tidak butuh tumpangan". Kadang aku pikir, ada baiknya juga aku tercipta jadi orang yang sedikit kasar ;)
Kembali ke remangnya kabut malam ini, tidak jauh di hadapanku kulihat sepasang kaki yang berdiri tegak membentuk sudut 90° dengan badan, tanpa kepala, apa?????iya tanpa kepala, karena kepala dan setengah badannya berada di dalam mobil sedang merundingkan kesepakatan dengan lelaki yang berada di balik setir, tidak sampai satu menit aku lihat badan dan kepalanya tertarik keluar dan sosok itu melangkah ke pintu mobil di sebelah mas supir. Selamat ya, atas kesepakatannya! Saat itu juga, aku sepakat dengan diriku sendiri untuk tidak melirik ke kiri atau ke kanan lagi, selain saat menyeberang jalan. Aku ingin cepat-cepat tiba di rumah...namun sepanjang jalan menuju angkutan metro, sepanjang berada di dalam metro, sepanjang jalan dari pemberhentian metro menuju rumah, senandung tum a chaneee.....menari-nari di pikiranku. Aku tersenyum dan berharap dalam hati semoga sosok penari dengan liukan indah dan suara merdu itu berhasil membuat kesepakatan malam ini, paling ngga satu kesepakatan menjelang kabut malam berganti cahaya terang mentari besok pagi.
Nb:rumah anak dampinganku memang sangat dekat dengan jalan dimana para sosok-sosok penari dan pesenandung malam nongkrong menikmati udara malam di sepanjang empat musim setiap tahunnya.








