Kamis, 17 Desember 2015

Kesepakatan indah di pekatnya kabut malam

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang kisah ini, tapi seperti biasanya aku lebih suka mengkhayal dan membuat cerita semakin liar sebatas di dalam pikiran saja, untuk menuangkannya, butuh seribu kejadian lucu yang menumpuk berdesak-desakan di dalam otak kecilku, sehingga malam ini aku mulai melentikkan jemariku menuangkan kisah lucu malam ini.
SAMBIL TERBATUK-BATUK, aku berbelok dari ujung jalan gedung apartemen anak dampinganku. Malam ini merupakan malam yang ke sekian kali aku menjagainya hingga tertidur saat kedua orangtuanya pergi makan malam di luar atau menonton konser band kesayangan mereka manggung. Pukul sembilan lewat 15 malam waktu Lausanne, saat kabut tebal yang sedari pagi masih setia menutupi langit-langit kota ini, aku berharap tidak tersandung bangku taman SMA, di  depanku. Oh malam ini betul-betul dingin, bisikku dalam hati. Benar saja, batukku yang hampir saja hilang setelah satu minggu menggerogoti tenggorokanku, kembali bersenandung. "Uhuhkkk uhukkkk...uhukkkkk..."
Tiga kali terbatuk, samar-samar kudengar senandung lagu India "tum a chaneee...tummm a chaneee...tummm...tummm" dilagukan oleh suara yang jelas-jelas berat namun merdu...Apa Shahrukh Khan pindah ke kota Lausanne, pikirku. 

Langkah kakiku tertahan saat samar-sama kulihat sesosok manusia berambut panjang sepunggung, dengan gaun hitam ketat sepaha dipadukan dengan "stocking" hitam transparan membalut kaki mungilnya, kulayangkan mataku ke wajahnya untuk memastikan apakah dia betul hidup atau jelmaan bidadari yang turun dari langit berkabut malam ini. Dia melirikku dan kusapa dia dengan sapaan selamat malam, seakan tidak mendengar diapun meliuk-liukkan tubuhnya di depan kaca jendela gedung sambil kembali berdendang "tummm a chaneee..tummm a chaneee...tumm..tumm". Ohhh, liukannya melebihi kemampuan Dewi Persik si ratu gergaji dari negaraku. Aku kembali terbatuk, kali ini aku ngga yakin aku terbatuk karena tenggorokanku yang gatal lagi, atau aku terbatuk karena keselek air ludah akibat aksi liukannya :P
Sambil kupegang telepon genggamku, aku berpura-pura sibuk menyukai foto-foto indah seorang teman di Instagram. Sesekali mataku melirik ke kiri dan ke kanan, kulihat dua sosok manusia dengan penampilan yang tidak kalah dari sosok penari yang kutinggalkan di belakang. Aku tidak mengucapkan selamat malam lagi, bukan karena malas tidak dibalas, namun karena batukku tak berhenti berdehemmmm...Mobil-mobil yang dikendarai lelaki berbagai bentuk wajah berlewatan melakukan pengamatan situasi. Inilah episode yang kutakutkan. Jika di bulan-bulan lalu aku berjalan dengan gaya slenge`an, dengan memasangkan tas punggungku di depan dada, dan mengayun-ayunkan payung cantikku dengan kasar, sambil membuka lebar kedua lenganku, seolah-olah aku baru selesai fitness dengan hasil lengan yang masih kaku, kali ini aku rapatkan kedua lenganku ke dada, sambil membetulkan posisi topi dinginku, aku terbatuk-batuk sambil berpikir semoga mereka kasihan sama nenek tua satu ini. TIDAK INGIN terulang lagi, di tempat ini juga beberapa bulan lalu, setelah pulang dari rumah anak dampinganku. Aku ketakutan karena disapa selamat malam oleh seorang lelaki dari balik setir mobilnya. Pengalaman yang sama sudah pernah terjadi juga beberapa tahun lalu di Jakarta saat saya menunggu teman di pojokan persimpangan menuju jalan jaksa, seorang lelaki dengan suara sok akrab dari kursi penumpang sebuah taksi menawarkan tumpangan untuk masuk ke dalam taksi, aku berpura-pura tidak kenal tapi karena dia bertahan sok mengenalku, aku sahut dengan sedikit berteriak "kamu tidak dengar, aku tidak butuh tumpangan". Kadang aku pikir, ada baiknya juga aku tercipta jadi orang yang sedikit kasar ;)


Kembali ke remangnya kabut malam ini, tidak jauh di hadapanku kulihat sepasang kaki yang berdiri tegak membentuk sudut 90° dengan badan, tanpa kepala, apa?????iya tanpa kepala, karena kepala dan setengah badannya berada di dalam mobil sedang merundingkan kesepakatan dengan lelaki yang berada di balik setir, tidak sampai satu menit aku lihat badan dan kepalanya tertarik keluar dan sosok itu melangkah ke pintu mobil di sebelah mas supir. Selamat ya, atas kesepakatannya! Saat itu juga, aku sepakat dengan diriku sendiri untuk tidak melirik ke kiri atau ke kanan lagi, selain saat menyeberang jalan. Aku ingin cepat-cepat tiba di rumah...namun sepanjang jalan menuju angkutan metro, sepanjang berada di dalam metro, sepanjang jalan dari pemberhentian metro menuju rumah, senandung tum a chaneee.....menari-nari di pikiranku. Aku tersenyum dan berharap dalam hati semoga sosok penari dengan liukan indah dan suara merdu itu berhasil membuat kesepakatan malam ini, paling ngga satu kesepakatan menjelang kabut malam berganti cahaya terang mentari besok pagi.

Nb:rumah anak dampinganku memang sangat dekat dengan jalan dimana para sosok-sosok penari dan pesenandung malam nongkrong menikmati udara malam di sepanjang empat musim setiap tahunnya.

Senin, 14 Desember 2015

Arung jeram, olah raga pilihanku, dulu!


Arung jeram adalah satu olah raga yang dilakukan di sungai. Kegiatan olah raga ini merupakan satu tantangan. Tetapi banyak pecinta alam di Indonesia yang meggemari olah raga ini. Di Indonesia, olah raga ini mulai digemari pada tahun 1990 an. Alasan yang mendorong orang-orang untuk menggemari olah raga ini memang beragam. Ada yang melakukan karena kesenangan, ada yang melakukannya sebagai kegiatan kelompok, ada juga yang melakukannya dengan cara profesional. Secara umum, para penggiat ini dibagi dalam kelompok pemula dan kelompok ahli. Kelompok pemula adalah orang-orang yang melakukan arung jeram untuk kesenangan selama akhir pekan atau selama liburan tetapi tidak menggiatinya secara terus-menerus. Biasanya, mereka didampingi oleh seorang pemandu dari salah satu agen wisata arung jeram. Kelompok ahli adalah orang-orang yang mempelajari olah raga ini secara mendalam dan berkelanjutan. Sering dilakukan oleh para pelajar dari kampus, diatur per fakultas dalam kelompok pecinta alam. Arung jeram menjadi salah satu kegiatan yang wajib dipelajari oleh anggota pecinta alam dan ada dalam program kegiatan organisasi.
                                     
Dulu,waktu saya mahasiswa, saya bergabung dalam kelompok pecinta alam di fakultas Filsafat UGM dan saya menjadi ketua divisi arung jeram. Saya juga menjadi anggota dari kelompok Forum Arung Jeram Yogyakarta (FAJY). Bersama anggota FAJY, kami melakukan berbagai ekspedisi sungai-sungai di berbagai daerah di Indonesia. Biasanya, kami melakukan arung jeram di sungai berarus deras. Tingkat kesulitan dibagi menjadi 6 tingkat: dari tingkat 1 hingga tingkat 6. Untuk para pemula disarankan untuk melakukan arung jeram di sungai dengan tingkat kesulitan 1 hingga 3. Untuk kelompok ahi dan profesional bisa melakukan arung jeram di sungai dengan tingkat kesulitan 3 hingga 5. Sungai dengan tingkat kesulitan sangat berbahaya dan tidak ditujukan untuk kegiatan arung jeram. Tingkat kesulitan bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan ketinggian air, tekanan arus deras atau dipengaruhi oleh musim. Selama pengarungan di sungai, sering harus berhenti  berkali-kali untuk melakukan pemantauan (scouting) kondisi sungai. Ini dilakukan dari perahu atau dari tepi sungai untuk mengetahui sisi berbahaya dan memutuskan jalur mana yang akan dilalui.
Peralatan penting untuk melakukan olah raga ini terdiri dari perahu karet, dayung, pelindung kepala, pelampung, tas tahan air, dan pompa. Jumlah penumpang dalam satu perahu biasanya 6 orang: 5 pendayung dan 1 pemandu (skipper) yang berfungsi sebagai kapten perahu. Olah raga ini adalah olah raga tim karena seluruh anggota tim harus bekerja sama dan mendengarkan arahan dari sang kapten. Singkatnya, sang kaptenlah yang mengatur jalannya perahu. Itulah mengapa dia ditempatkan di bagian belakang dengan posisi sedikit lebih tinggi dari yang lain supaya bisa melihat dengan jelas arus sungai. Tiga pendayung yang duduk di sisi kanan perahu dan dua di sisi kiri. Tugas para pendayung ini adalah untuk membuat perahu semakin bergerak maju. Saya bisa gunakan peribahasa berikut: kapten adalah kemudinya dan para pendayung adalah baling-balingnya.
Arung jeram adalah salah satu olah raga yang beresiko. Selama lima tahun saya menggeluti olah raga ini, sudah lima orang meninggal karena kecelakaan selama kegiatan. Mereka jatuh ke dalam jeram dengan arus yang deras dan terjebak dalam putaran air seperti dalam mesin cuci pakaian. Mereka tenggelam dalam air keruh. Ketika seseorang meninggal dalam salah satu jeram, biasanya nama mereka dijadikan sebagai nama jeram tersebut sebagai kenang-kenangan. 
Pada akhirnya arung jeram bagiku adalah pelajaran nyata dalam hidup. Perjalanan menyusuri sungai dari titik keberangkatan hingga titik akhir, dipenuhi dengan masa bahagia tetapi juga masa sulit: saat terjatuh, harus naik lagi ke perahu, lelah mendayung, tetapi kita belajar bagaimana berkomunikasi dengan anggota tim, saling bekerja sama, mengikuti arahan kapten supya tidak terbalik. Semua orang harus bekerja bersama-sama dan saling berkoordinasi supaya perahu tetap berada di arah yang pas. Arung jeram mengajarkanku bagaimana hidup bersama dengan orang lain.




Merayakan cinta (lagi) di Gletser Trient

Setelah berhasil merayakan ulang tahun pertama pernikahan kami di Gletser Aletsch pertengahan bulan September tahun lalu, tahun ini lagi-lagi Patrick memunculkan ide untuk pergi mendaki ke pegunungan Alpen. Memang pertengahan bulan September sangat ideal untuk melakukan pendakian ke gunung, karena tepat akhir musim panas cuaca sangat bagus dan pemandangan pegunungan Alpen akan sangat indah. Ide kali ini adalah mendaki ke gletser Trient di barisan pegunungan "Mont Blanc" tepatnya di kabupaten Valais. Asal nama gletser ini diambil dari nama desa yang berada di di bawah lembah pegunungan ini. Untuk menuju ke sana kami menggunakan mobil kira-kira satu jam perjalanan dari kota Lausanne. Setelah memarkir mobil di parkiran umum, kami membeli tiket angkutan "mobil kabel" (yang biasanya dipakai para penggiat olah raga ski) untuk naik hingga awal pendakian kami menuju puncak Trient. Sebenarnya kami bisa mengawali pendakian dari parkiran hingga ke puncak namun akan membutuhkan waktu satu hari hingga tiba di puncak. Niat itu kami simpan untuk perjalanan pulang nanti.
Seperti biasanya, awan kabut menutupi pegunungan saat kami tiba di titik awal pendakian. Saat itu sudah pukul 12 siang, kemana matahari? Kami coba bertanya kepada orang yang sudah turun dari puncak mengenai keadaan cuaca di puncak, mereka bilang memang kabut, namun keadaan mungkin akan berubah. Kami akhirnya putuskan makan piknik yang sudah kami siapkan dari rumah. Sambil memperhatikan gerakan awan yang semakin naik dan naik, dan...setelah selesai kami putuskan memulai perjalanan.

Udara masih terasa dingin, namun matahari perlahan menampakkan wujudnya. Sepertinya dia malu-malu kucing melihat kami :P. Hal unik yang kami temukan adalah bebatuan yang berwarna hijau karena dilapisi oleh lumut. Mungkin karena ini daerah lembah dan lembab sehingga lumut suka hidup. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan banyak orang termasuk anak-anak yang suka mendaki bersama orangtua mereka. Ini memberikan semangat bagiku saat jalur mulai agak sulit dan melelahkan. Hal lain yang membuattku tercengang adalah ketika berpapasan dengan seeorang lelaki dengan tongkat penyanggah, karena dia hanya memiliki satu kaki. Dia dengan timnya melakukan perjalanan turun. Aku memperhatikan gerakannya, dasar mataku ini ga bisa beralih (soalnya baru pertama kali melihat orang seperti itu). Aku takjub dengan semangatnya dan usahanya. Dia sangat menginspirasiku!
Setelah tiga jam mendaki dan melewati lembah, kami akhinya menemukan ujung sungai gletser, tandanya sebentar lagi kami akan tiba. Gletser di Trient ini berbeda dengan gletser Aletsch, tempat dimana tahun lalu kami pergi juga. Kuantitas gletser sudah berkurang, yang kami lihat hanya genangan es yang mencair dan mengalir menuju lembah curam. Sejauh mata memandang, kami akhirnya berhasil melihat awal sungai gletser, terhampar putih memukau. Samar-samar juga kulihat satu rumah gunung di sisi tebing kanan dan berhadapan tepat dengan sungai gletser. Itulah tujuan kami? Ternyata benar, kami akan menginap di rumah itu, namanya Cabane d'Orny. Rumah ini adalah salah satu rumah gunung tujuan para pendaki dan pemanjat.                      

Tiba di penginapan kami manfaatkan untuk menikmati sinar matahari di teras dengan pemandangan danau kecil di sebelah kanan dan hamparan sungai gletser dan puncak cadasnya. Tidak disangka kami bertemu dengan teman kuliah Patrick dan teman pendakiannya, yang sudah tiba di tempat ini satu hari sebelumnya. Karena dia adalah pecinta panjat, dia mengajak kami untuk melakukan latihan panjat di tebing belakang penginapan. Aku sangat semangat tapi juga takut karena sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan panjat di tebing. Kami memilih jalur yang tidak terlalu sulit karena aku dan Patrick bukanlah pemanjat yang handal. Hingga matahari hampir terbenam, kami selesaikan kegiatan panjat dan kembali ke penginapan untuk makan malam. Ga pake mandi karena airnya sangat dingin persis kayak air es batu yang baru mencair. Maklum di gunung ini tidak ada aliran listrik dari negara, pemilik penginapan hanya menggunakan mesin untuk mengaliran listrik. Ccuci muka dan sikat gigi aja rasanya menderita karena menyentuh dinginnya air es,brrrrrr......
Kami melewati malam yang ga terlalu nyaman, dua-duanya tidak tidur pulas. Sampe-sampe berspekulasi jangan-jangan karena kita berada di ketinggian jadi tidak terbiasa. Oh ya rumah gunung Cabane d'Orny ini sudah berada di ketinggian 2831 mdpl, dan merupakan satu-satunya penginapan yang masih beroperasi di akhir musim panas ini. Kata pemiliknya, minggu itu adalah minggu terakhir aktivitas di sini, karena setelah menjelang musim gugur, udara akan sangat dingin. Setelah sarapan pagi dengan baik, kami bersiap untuk melanjutkan pendakian ke rumah gunung yang lebih tinggi yaitu Cabane de Trient di ketinggian 3170 mdpl. Jalur yang harus kami lewati lebih sulit dengan jenis bebatuan kristal yang sangat indah. Kami sempatkan mencari batu kristal selama 30 menit dan kami menyembunyikannya di satu tempat dan mengambilnya saat perjalanan turun. 


Pemandangan hamparan gletser semakin indah didukung dengan sinarmatahari pagi itu sangat bersahabat. Pukul 11 siang kami tiba di rumah gunung Trient yang tidak berpenghuni lagi Tepat di belakang rumah ini ada bukit yang memungkinkan untuk didaki lagi untuk melihat pemandangan gletser dengan leluasa. 

Kami menghabiskan waktu selama tiga puluh menit di sana dan karena angin sudah mulai kencang, kami putuskan untuk turun. Perjalanan turun kali ini akan sangat panjang, karena kami akan berjalan kaki menyusuri pegunungan gingga tempat parkiran mobil. Seperti anggapan pada umumnya, perjalanan naik memang melelahkan tapi lebih menyebalkan lagi perjalanan turun karena harus menahan lutut agak kaki tidak terpeleset. Kami mengambil jalur yang berbeda dengan perjalanan saat kami naik kemarin. Sedikit memotong jalur namun tingkat kecuraman tebingnya sangat tinggi. Sehingga akusempat pusing karena darah rendah yang kambuh. Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan panjang menuruni tebing bebatuan hijau. Sambil bercerita dan menahan lutut yang sakit semakin terasa, kamipun tibda di parkiran mobil pukul 6 sore. Ohhh, akhrnya kami tiba dengan senyuman indah mengingat jejak langkah yang sudah kami lewati di hari bersejarah kami. Alam selalu memeberikan keindahan bagi pasangan yang mencintainya.

  

Minggu, 13 Desember 2015

Merayakan cinta di Gletser Aletsch

Aku adalah tipe perempuan melankolis dan nostalgis tapi tidak menyukai keromatisan. Suka mengingat tanggal-tanggal bersejarah yang berhubungan dengan pasangan. Misalnya, tanggal pertama bertemu, tanggal jadian sebagai kekasih, tanggal dilamar, tanggal menikah (pastinya), dan tanggal lahir (wajib). Tapi tidak suka membuat kejutan kepada pasangan, karena saya bukan tipe orang romatis. Kontradiktif memang, harusnya ya orang yang suka mengingat-ingat tanggal bersejarah pastinya suka membuat kejutan atau rencana-rencana romantis untuk pasangan. Entahlah, yang jelas aku lebih suka mengucapkan selamat tanggal jadian atau selamat ulang tahun pernikahan, tanpa embel-embel. Nah, sebaliknya Patrick adalah orang yang sama sekali tidak mengingat tanggal-tanggal penting dalam hubungan, namun suka merencanakan sesuatu yang menarik saat dia tau bocoran tanggal dariku. Jadi klop kan, aku yang ingat tanggal, dia yang buat rencana. Soalnya dia suka beraktivitas di alam. Sebenarnya kami sama, tapi tingkat kesukaan dia lebih banyak dibanding saya yang sering punya masalah malas dan sakit.
Cerita soal aktivitas di alam, kami berdua memiliki ritual yang bisa dibilang tidak disengaja karena setiap merayakan ualng tahun pernikahan, Patrick akan mengajakku untuk pergi mendaki ke pegunungan alpen yang dipenuhi dengan gletser. Aku sih oke-oke saja karena kami berdua suka mendaki tapi selalu membayangkan dinginnya gletser, langsung menyerah duluan. Namun dia selalu meyakinkan, di puncak sana matahari akan terik jadi dinginnya tidak terasa. Dan juga pendakian ini kami lakukan setiap pertengahan bulan September. Dengan persiapan peralatan mendaki seperti pakaian hangat, sepatu yang kuat dan niat yang bulat akupun mencoba menikmati perayaan ini.
Ulang tahun pertama pernikahan pada pertengahan bulan September 2014, kami rayakan dengan mendaki hingga ke Gletser Aletsch, di kabupaten Valais, Swiss. Dibutuhkan 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari kota Lausanne menuju desa Bettmeralp. Saat kami tiba, cuaca agak mendung. Kami ambil angkutan "mobil kabel" menuju titik awal pendakian. Sambil menunggu cuaca cerah, kami makan siang di restoran yaang berada tepat di tepi tebing. Seandainya cuaca cerah, pasti pemandangan dari restoran ini akan menakjubkan.
Setelah cuaca semakin terang, kamipun memulai perjalanan menuju lokasi gletser. Kami berpapasan dengan beberapa orang yang melakukan perjalanan berlawanan arah. Karena untuk menuju lokasi gletser ini bisa juga diawali dari desa Fiescheralp, tempat dimana kami akan mengakhiri pendakian ini. Kami menyusuri tepian bukit dan di sebelah kiri kami sudah terhampar gletser yang berbentuk aliran sungai. Sangat indah!
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya, mengiringi pendakian kami hingga lembah pertigaan, ke kiri menuju gletser dan ke kanan menuju desa Fiescheralp. Kamipun mengikuti arah menuju gletser karena memang Patrick ingin sekali menunjukkan kepadaku bagaimana bentuk gletser dari jarak dekat.


Saking terlalu larut dalam euforia kebahagiaan, sayapun beraksi bak peloncat indah di atas batu-batu. Oh ya, sebagai informasi, sangat disarankan untuk menggunakan kacamata hitam saat dekat dengan gletser, karena pantulan cahaya lewat putihnya es sangat tidak baik untuk retina mata, sangat berbahaya!Itu sebabnya kalau lihat atau nonton para penggiat ski, mereka selalu menggunakan kaca mata hitam. Jadi kacamata hitam bukan selama-lamanya untuk "gaya" saja ya :P

Setelah puas menikmati keindahan gletser, kami melanjutkan perjalanan pulang. Melewati danau-danau kecil di pegunungan, terowongan, dengan pemandangan pegunungan Alpen yang sudah dipenuhi dengan salju putih di puncaknya. Bagaimana aku tidak bersyukur dengan kehidupan di negara ini, pemandangan yang luar biasa indahnya bisa didapatkan di setiap sudut, hanya dibutuhkan keinginan untuk bergerak sedikit dari rumah. Bagaimana aku tidak bersyukur dengan ulang tahun pernikahan yang kami rayakan dengan menghabiskan waktu yang luar biasa di alam, tempat yang sama-sama kami cintai bersama dengan orang yang kami cintai, hanya dibutuhkan usaha untuk selalu berbahagia dengan pasanganmu. Selalu mencintaimu dan alam kita :*

Aku cinta olah raga kayak

Kayak adalah olah raga air yang paling aku suka. Sebagai anak yang lahir dan besar di pinggiran danau Toba, Sumatera Utara, tidaklah aneh kalau aku sangat menggilai olahraga yang satu ini. Walaupun sebenarnya kecintaanku terhadap kayak diawali dengan kejadian yang lucu dan menakutkan bagiku saat itu. Saat itu aku berumur 7 tahun. Di kampungku banyak orang yang berprofesi sebagai nelayan sehingga mereka memiliki sampan kayu untuk mencari ikan. Sedangkan bapakku adalah seorang petani yang tidak memiliki bakat mencari ikan. Temanku yang sangat cantik, Sumi adalah anak kepala desa. Kebetulan mereka memiliki sampan. Dia mengajakku untuk ikut dalam sampan yang dia kayuh. Saat itu aku penasaran bagaimana rasanya naik sampan apalagi bersama teman. Dia mengayuh sampan hingga sedikit menjauh dari tepian, aku mulai gemetar ketakutan. Aku minta Sumi untuk membawaku kembali ke tepian, namun dia tidak menghiraukanku. Aku akhirnya menangis sambil membayangkan sampan terbaik, aku yang belum bisa berenang pasti akan tenggelam dengan mudah. Mendengar tangisanku, temanku Sumipun mengayuh sampan menuju tepi. Kami sempat tidak saling menyapa beberapa waktu karena dia membuatku trauma dengan sampan. Cerita masa kecil yang lucu namun kini membuatku cinta akan olahraga ini dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Kecintaanku semakin mendalam semasa perkuliahan. Saya bergabung dalam kelompok pecinta alam fakultas filafat UGM dan mendalami divisi air. Saat itu saya sering melakukan latihan kayak di depan lembah UGM, petualangan kayak ke Imogiri dan juga kadang di selokan Mataram. Sedikit ekstrim hingga akhirnya cinta dengan olah raga arung jeram yang akan aku bahas di tulisan lain. Sabar ya :). 
Begitu pula saat aku bekerja di pulau Papua, aku sempatkan mengayuhkan dayungku di danau Sentani, Jayapura. Sangat jelas kuingat, saat itu saya, Patrick, Kika dan Reni menyewa satu sampan panjang milik nelayan di salah satu pulau di Danau Sentani. Kika yang tidak bisa berenang ikut juga dalam sampan. kami berempat mengayuh perahu ke tengah danau terkadang Kika berteriak agar kami tidak terlalu jauh dari tepian. Pengalaman itu mengingatkanku akan masa kecil. Lucu sekali, aku seperti balas dendam :P
Pengalaman kayak di Indonesia tidak terlupa begitu saja. Setelah pindah ke benua Eropa pada tahun 2013, saya juga ingin menikmati olah raga ini seperti dulu. Bagaimana tidak semangat, kami tinggal di kota Lausanne Swiss, tidak jauh dari danau Leman (danau Jenewa). Saya semakin bernostalgia dengan kehidupan saya di masa kecil, saat tinggal di tepi danau Toba. Di danau Leman ini, kegiatan olah raga air sangat diminati termasuk olah raga kayak. Namun sayangnya kegiatan ini hanya bisa dilakukan antara bulan april hingga bulan september. Tidak jauh dari kota Lausanne, terdapat juga danau Neuchatel yang menjadi tempat olah raga air semasa musimnya. 
Pada bulan Agustus 2013, saya mengawali pengalaman kayak pertama di benua Eropa tepatnya di sungai Dordogne, Perancis. Petualangan ini merupakan salah satu bagian acara pernikahan teman dari suamiku, Patrick. Jalur sungai yang kami lalui sangat panjang namun kami tidak bosan karena sepanjang tepi sungai kami lewati pemandangan bangunan tua yang luar biasa. Di jalur sungai sendiri kami sering melewati kapal-kapal turis, juga lumut-lumut sungai yang sangat artistik. Sambil sesekali kami berhenti untuk berenang bersama tim dan istirahat makan siang sambil berdiskusi. Matahari sangat terik, terkadang tangan sudah lelah untuk mengayuh dayung. 

Ditambah lagi Patrick yang menjadi teman saya di satu perahu, tidak terlalu memahami teori dayung maju, dayung mundur, dayung tarik dll. Sambil bercanda saya katakan bahwa mendayung berdua dalam perahu itu seperti halnya menjalani kehidupan pasangan, komunikasi dan kerja sama yang baik akan membawa perahu semakin maju dan lurus ke depan. Walaupun pada kenyataannya, akan mengalami banyak rintangan, seperti lumut tebal yang berbelit-belit, arus sungai yang tidak menentu, panas terik yang membuat lelah, jalur panjang yang kita tidak tau dimana ujungnya. Diapun setuju dan kami semakin semangat mengayuh dayung sambil sesekali menggangu teman yang sedang berada di perahu lain.


Selasa, 24 November 2015

Labirin Kehidupan/Labyrinthe de la vie

Musim gugur ketiga menjelang
Tanah dan rumput basah bergairah
Cacing-cacing menggeliat indah
Burung-burung berhenti berdendang

Hei, lihat dedaunan berganti warna
perlahan bergelayut manja menyambutku
berbaur mesra bersama harum mawar
air mancur masih setia menari.

Sinar mentari kembali menyapa
hangat menyeruak tulang rusukku
awan putih mencumbu langit biru
pertanda hari ini akan bersahabat.

Kurasakan derap langkah kakiku
berjalan semu dan tak berarah
aku masih terus di sini
terjebak dalam labirin kehidupan.


L`automne approche pour la troisième fois
la terre et les herbes sont mouillées
les vers de terre dansent parfaitement
les oiseaux s’arrêtent de chanter.

Regardez, les feuilles changent de couleurs
m`accueillent gentiment comme si jetais une petite fille
mélangées intimement à l`odeurs des rose
la fontaine encore danse en fidèle.

Le soleil me redit bonjour
la chaleur entre dans mes cotes
des nuages blancs embrassent le ciel bleu
signifiant qu`aujourd’hui va être radieux.

J’entends le son de mes pas
qui marchent sans connaitre leur destination
je suis encore ici
bloquée dans la labyrinthe de la vie.

Sakitnya ditinggal pesawat

Kejadian ini berlangsung pada akhir bulan juli 2013. Bulan tersebut saya sedang sibuk mengurus kebutuhan pernikahan dan agak bosan menunggu visa tinggal saya disetujui oleh pihak pemerintah Swiss. Setelah visa selesai dan saya mengambilnya di kedutaan Swiss di Jakata. Patrick (tunangan saya waktu itu) langsung membeli tiket lewat internet. Saya sampaikan kepadanya, saya ingin berangkat hari minggu sehingga saya masih bisa menyampaikan ucapan perpisahan kepada anggota gereja di Cikarang. Dengan senang hati dia memberitahu bahwa tiket sudah dibeli dan dia mengirimnya lewat e-mail. Saya cetak tiket dan melihat tanggal dan hari keberangkatan dengan antusias. Sabtu terakhir bulan itu, setelah selesai ibadah di gereja, saya dan kakak-kakak saya mengunjungi sepupu-sepupu kami di Bekasi. Kamipun memanfaatkan waktu bersama dengan makan malam dan bercerita hingga larut malam. Saya kembali ke rumah kakak di Cikarang. Tepat pukul satu malam (pukul satu pagi), Patrick mengirim pesan, menanyakan kabar, apakah siap terbang?Saya jawab dengan santai bahwa kami baru kembali dari rumah sepupu, terbang besok jadi sekarang mau istirahat. Melihat jawaban saya, dia heran dan bertanya. Belum masuk pesawat? Kenapa masih di rumah? Sayapun mulai gundah, apa ini? Cepat saya cari cetakan tiket saya dan melihat tanggal keberangkatan. Saya amati dan saya sadar bahwa saya salah melihat jam. TIDAKKKKKKK, saya ditinggal pesawat!saya tidak sanggup menahan geram. Geram atas kebodohan saya, geram karena tidak memperhatikan dengan teliti jam keberangkatan, geram karena saya selalu pikir bahwa saya berangkat hari minggu malam. Saya menangis dan minta maaf ke Patrick yang sedang marah besar terhadap kelalaian saya. Saat itu saya bingung mau melakukan apa. Saya hanya bisa tersedu-sedu sambil berusaha menelpon kantor maskapai penerbangan tersebut di bandara. Saya coba dan coba, tak seorangpun mengangkat telepon saya. Saya mulai mencari informasi tiket berangkat minggu malam (senin pagi), masih ada kursi. Saya melihat perbedaan harga dengan harga tiket saya tidak terlalu jauh. Berharap keesokan paginya ada keajaiban!Pagi sekali kakak saya datang ke kamar dan mengetahui masalah saya, dia menenangkan saya dan kami berdoa semoga ada jalan keluar. Pagi itu saya diantar oleh keluarga kecil kakak saya ke bandara. Sepanjang perjalanan, saya berusaha tenang dengan berbincang dengan keponakan-keponakan saya. Setibanya kami di bandara saya langsung melapor ke kantor maskapai penerbangan dan menjelaskan masalah saya. Oh memang saya selalu disayang Tuhan, petugas kantor yang ramah menenangkan saya dan meminta saya membayar selisih harga tiket pesawat untuk malam itu. Tiket pesawat saya tidak hangus!Akhirnya saya bisa tersenyum lega. Keluarga kakak saya kembali ke rumah dan saya menunggu sahabat saya Kika yang akan memberangkatkan saya malam itu. Pelajaran penting dari kejadian ini adalah saya harus lebih teliti dengan angka yang tertulis di kertas. Selain itu konsep jam satu malam dan jam satu pagi yang masih rancu dalam pikiran saya. Semoga ini menjadi pelajaran juga buat para pembaca ;)NB:hal yang lebih lucu bagi saya adalah mengetahui bahwa keluarga Patrick berpikir bahwa saya takut memulai hidup baru di Swiss sehingga saya dengan sengaja membiarkan pesawat meninggalkan saya. Hahahaha....ngakak beneran nih kalau ingat kejadian itu :D