Selasa, 24 November 2015

Sakitnya ditinggal pesawat

Kejadian ini berlangsung pada akhir bulan juli 2013. Bulan tersebut saya sedang sibuk mengurus kebutuhan pernikahan dan agak bosan menunggu visa tinggal saya disetujui oleh pihak pemerintah Swiss. Setelah visa selesai dan saya mengambilnya di kedutaan Swiss di Jakata. Patrick (tunangan saya waktu itu) langsung membeli tiket lewat internet. Saya sampaikan kepadanya, saya ingin berangkat hari minggu sehingga saya masih bisa menyampaikan ucapan perpisahan kepada anggota gereja di Cikarang. Dengan senang hati dia memberitahu bahwa tiket sudah dibeli dan dia mengirimnya lewat e-mail. Saya cetak tiket dan melihat tanggal dan hari keberangkatan dengan antusias. Sabtu terakhir bulan itu, setelah selesai ibadah di gereja, saya dan kakak-kakak saya mengunjungi sepupu-sepupu kami di Bekasi. Kamipun memanfaatkan waktu bersama dengan makan malam dan bercerita hingga larut malam. Saya kembali ke rumah kakak di Cikarang. Tepat pukul satu malam (pukul satu pagi), Patrick mengirim pesan, menanyakan kabar, apakah siap terbang?Saya jawab dengan santai bahwa kami baru kembali dari rumah sepupu, terbang besok jadi sekarang mau istirahat. Melihat jawaban saya, dia heran dan bertanya. Belum masuk pesawat? Kenapa masih di rumah? Sayapun mulai gundah, apa ini? Cepat saya cari cetakan tiket saya dan melihat tanggal keberangkatan. Saya amati dan saya sadar bahwa saya salah melihat jam. TIDAKKKKKKK, saya ditinggal pesawat!saya tidak sanggup menahan geram. Geram atas kebodohan saya, geram karena tidak memperhatikan dengan teliti jam keberangkatan, geram karena saya selalu pikir bahwa saya berangkat hari minggu malam. Saya menangis dan minta maaf ke Patrick yang sedang marah besar terhadap kelalaian saya. Saat itu saya bingung mau melakukan apa. Saya hanya bisa tersedu-sedu sambil berusaha menelpon kantor maskapai penerbangan tersebut di bandara. Saya coba dan coba, tak seorangpun mengangkat telepon saya. Saya mulai mencari informasi tiket berangkat minggu malam (senin pagi), masih ada kursi. Saya melihat perbedaan harga dengan harga tiket saya tidak terlalu jauh. Berharap keesokan paginya ada keajaiban!Pagi sekali kakak saya datang ke kamar dan mengetahui masalah saya, dia menenangkan saya dan kami berdoa semoga ada jalan keluar. Pagi itu saya diantar oleh keluarga kecil kakak saya ke bandara. Sepanjang perjalanan, saya berusaha tenang dengan berbincang dengan keponakan-keponakan saya. Setibanya kami di bandara saya langsung melapor ke kantor maskapai penerbangan dan menjelaskan masalah saya. Oh memang saya selalu disayang Tuhan, petugas kantor yang ramah menenangkan saya dan meminta saya membayar selisih harga tiket pesawat untuk malam itu. Tiket pesawat saya tidak hangus!Akhirnya saya bisa tersenyum lega. Keluarga kakak saya kembali ke rumah dan saya menunggu sahabat saya Kika yang akan memberangkatkan saya malam itu. Pelajaran penting dari kejadian ini adalah saya harus lebih teliti dengan angka yang tertulis di kertas. Selain itu konsep jam satu malam dan jam satu pagi yang masih rancu dalam pikiran saya. Semoga ini menjadi pelajaran juga buat para pembaca ;)NB:hal yang lebih lucu bagi saya adalah mengetahui bahwa keluarga Patrick berpikir bahwa saya takut memulai hidup baru di Swiss sehingga saya dengan sengaja membiarkan pesawat meninggalkan saya. Hahahaha....ngakak beneran nih kalau ingat kejadian itu :D

Tidak ada komentar: