Kejadian
ini berlangsung pada akhir bulan juli 2013. Bulan tersebut saya sedang sibuk
mengurus kebutuhan pernikahan dan agak bosan menunggu visa tinggal saya
disetujui oleh pihak pemerintah Swiss. Setelah visa selesai dan saya
mengambilnya di kedutaan Swiss di Jakata. Patrick (tunangan saya waktu itu) langsung membeli tiket lewat
internet. Saya sampaikan kepadanya, saya ingin berangkat hari minggu sehingga
saya masih bisa menyampaikan ucapan perpisahan kepada anggota gereja di
Cikarang. Dengan senang hati dia memberitahu bahwa tiket sudah dibeli dan dia
mengirimnya lewat e-mail. Saya cetak tiket dan melihat tanggal dan hari
keberangkatan dengan antusias. Sabtu terakhir bulan itu, setelah selesai ibadah di gereja, saya
dan kakak-kakak saya mengunjungi sepupu-sepupu kami di Bekasi. Kamipun
memanfaatkan waktu bersama dengan makan malam dan bercerita hingga larut malam. Saya kembali ke rumah kakak di Cikarang. Tepat pukul satu malam (pukul satu
pagi), Patrick mengirim pesan, menanyakan kabar, apakah siap terbang?Saya
jawab dengan santai bahwa kami baru kembali dari rumah sepupu, terbang besok
jadi sekarang mau istirahat. Melihat
jawaban saya, dia heran dan bertanya. Belum masuk pesawat? Kenapa masih di
rumah? Sayapun mulai gundah, apa ini? Cepat saya cari cetakan tiket saya dan melihat tanggal keberangkatan. Saya amati
dan saya sadar bahwa saya salah melihat jam. TIDAKKKKKKK, saya ditinggal pesawat!saya tidak sanggup menahan geram. Geram atas kebodohan saya, geram
karena tidak memperhatikan dengan teliti jam keberangkatan, geram karena saya
selalu pikir bahwa saya berangkat hari minggu malam. Saya menangis dan minta maaf ke
Patrick yang sedang marah besar terhadap kelalaian saya. Saat itu saya bingung
mau melakukan apa. Saya hanya bisa tersedu-sedu sambil berusaha menelpon kantor
maskapai penerbangan tersebut di bandara. Saya coba dan coba, tak seorangpun
mengangkat telepon saya. Saya mulai mencari informasi tiket berangkat minggu malam (senin
pagi), masih ada kursi. Saya melihat perbedaan harga dengan harga tiket saya
tidak terlalu jauh. Berharap keesokan paginya ada keajaiban!Pagi sekali kakak
saya datang ke kamar dan mengetahui masalah saya, dia menenangkan saya dan kami
berdoa semoga ada jalan keluar. Pagi itu saya diantar oleh keluarga kecil kakak
saya ke bandara. Sepanjang
perjalanan, saya berusaha tenang dengan berbincang dengan keponakan-keponakan
saya. Setibanya kami di bandara saya langsung melapor ke kantor maskapai
penerbangan dan menjelaskan masalah saya. Oh memang saya selalu disayang Tuhan,
petugas kantor yang ramah menenangkan saya dan meminta saya membayar selisih
harga tiket pesawat untuk malam itu. Tiket pesawat saya tidak hangus!Akhirnya saya
bisa tersenyum lega. Keluarga kakak saya kembali ke rumah dan saya menunggu
sahabat saya Kika yang akan memberangkatkan saya malam itu. Pelajaran penting
dari kejadian ini adalah saya harus lebih teliti dengan angka yang tertulis di
kertas. Selain itu konsep jam satu malam dan jam satu pagi yang masih rancu
dalam pikiran saya. Semoga ini menjadi pelajaran juga buat para pembaca ;)NB:hal yang lebih lucu bagi saya adalah mengetahui bahwa keluarga Patrick berpikir bahwa saya takut memulai hidup baru di Swiss sehingga saya dengan sengaja membiarkan pesawat meninggalkan saya. Hahahaha....ngakak beneran nih kalau ingat kejadian itu :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar