Bertemu kembali dalam petualangan
Raja Ampat Part 3 setelah dua minggu rehat dan berpetualang ke kota Madrid dan
Barcelona. Saya berharap pembaca setia tidak kehilangan alur cerita yang
sebenarnya. Hari selasa tanggal 20 Maret 2012 saya putuskan untuk meminjam sepeda
motor seorang tukang ojek supaya saya bisa bebas mengeksplor sendiri daerah
Waisai, setelah harga disetujui kunci motor sudah di tangan saya. Tanpa curiga dengan
keadaan motor, dengan penuh semangat saya segera mengawali jalan-jalan bersama
sepeda motor rental. Perjalanan awal saya turun ke pelabuhan ferry untuk
sekedar melihat kembali tempat kapal bersandar kemarin sore. Kemudian putar balik menuju ke utara kota Waisai, sambil bernyanyi kecil
di atas motor saya mencoba menikmati pemandangan alam semi hutan. Saya melihat
banyak pembukaan lahan baru, pohon-pohon ditebang, dinding tebing berlobang
karena tanah di atasnya sudah dikeruk. Hutan hijau beranjak coklat karena yang
mendominasi adalah pemandangan tanah berwarna coklat akibat adanya pembangunan
jalan raya, perumahan, perkantoran yang sedang berlangsung di kota ini. Hutan yang
tadinya rimba akan berubah menjadi kota wisata kepulauan, pikir saya. Dari utara
saya berpindah ke arah selatan, pantai!Sepanjang perjalanan tidak banyak
kendaraan yang berpapasan dengan saya. Sepi dan lengang!
Saya tiba di suatu pantai yang
menyerupai teluk, banyak nyiur melambai seiring hembusan angin dari arah
selatan. Saya menuju satu pelabuhan tua dan kini sepertinya tidak digunakan lagi. Saya juga bertemu sepasang
kekasih yang sedang kasmaran namun malu-malu ketika mata kami saling bertatap.
Saya lihat sekeliling dan jauh di depan sana ada hutan yang masih sangat hijau.
Hanya sebentar saja saya tinggal, kemudian saya beranjak dan mengendarai sepeda
motor dengan niat menemukan hutan yang masih sangat hijau itu. Kembali saya
bernyanyi dan sesekali bersiul untuk sekedar memecah kesunyian sepanjang
perjalanan. Jalan yang saya lalui semakin jauh semakin berbatu dan menanjak.
Beberapa tanjakan sudah saya lalui dan di depan saya ada jalan turunan dan
upss, rem motor sepertinya tidak berfungsi baik. Oke cukup sampai di sini saja,
pikir saya.
Saya berhenti dalam posisi jalan
yang miring dan mencoba memutar balik arah sepeda motor. Jantung saya sudah
mulai berdetak kencang karena yang saya ingat bahwa tanjakan terakhir yang saya
lalui tadi sangat tajam dan panjang. Dengan perlahan dan sambil berdoa agar
Tuhan menyertai saya, saya hidupkan mesin sepeda motor. Sepeda motor turun
dengan gigi 1 pada posisi turunan yang sangat tajam, saya coba injak rem namun sepertinya
tidak berpengaruh. Sepeda motor turun semakin laju, saya semakin tegang ketika
saya lihat ada belokan tajam di depan, apa yang harus saya lakukan dengan
belokan itu? Laju sepeda motor membuat ban terpeleset persis di belokan tajam dan
brukkkkkkkkkk brakkkkkkk, saya terjatuh ke sebelah kiri, helm di kepala saya
terpental jauh, dengan cepat saya lepas pegangan pada stang dan motor pun
berguling di turunan. Ouhhh saya ngeri
seketika saya melihat darah segar mengalir dari lutut dan jempol kaki kiri,
gesekan kaki kiri ke jalanan kering berbatu membuat lecet parah di sepanjang
kaki kiri saya. Ada rasa sakit di tulang dada saya, saya coba ingat apa yang
terjadi tadi. Ya, tulang dada terbentur ke badan stang sepeda motor. Segera
saya buka tas tenteng yang juga ikut tersobek, dengan gemetaran saya ambil
botol air mineral dan saya siramkan air ke sepanjang lutut hingga jempol kaki
kiri yang berdarah dan bercampur debu tanah kering. Air mata menetes saat saya
mencoba mengingat kembali kejadian yang berlangsung begitu cepat. Saya lihat ke
sekeliling, yang ada hanya sepeda motor yang tergeletak di tengah jalan, helm
yang terpelanting ke selokan, sandal jepit hijauku dengan bercak darah di
atasnya dan hutan rimba di jurang sebelah kanan jalan. Ingin rasanya berteriak
minta tolong, namun rasa perih dan sakit di kaki kiri membuatku tidak berdaya. Oh
bagaimana bisa semua ini bisa terjadi?? Saya hanya menangis sambil membersihkan
luka dengan tisu.
Beberapa saat kemudian saya mendengar
ada suara dari kejauhan, seorang bapak berjalan ke arah saya sambil bertanya
ade kenapa? Dia mendekat dan melihat keadaan saya. Bapak berinisial S membantu saya
untuk berjalan menuju ke lokasi suatu gedung yang sudah tidak digunakan lagi. Saya
duduk di emperan gedung sambil menunggu bapak S yang sedang mengambil sepeda
motor dari tengah jalan. Dengan segera dia pergi mengambil daun-daun mujarab di
hutan. Saya kunyah daun-daunan tersebut dan meletakkannya di atas sepanjang
kaki kiri saya sebagai obat P3K ala orang kampung. Perih yang sangat menusuk, namun benar
daun-daunan ini sangat membantu di kala itu.
Sambil saya mengobati luka, bapak S pun memberondong saya dengan
berbagai pertanyaan, sayapun menjawab sesekali saja sambil meringis kesakitan.
Kenapa bisa jatuh, kenapa ade sendiri jalan-jalan ke hutan, ade dari mana, ade
bikin apa di Waisai, ade orang apa, ade sudah menikah, dan pertanyaan yang luar
biasa menggelikan namun menjengkelkan bagi saya saat itu, ade maukah menikah
dengan saya?Saya punya kebun banyak, saya ini belum menikah, saya orang asli di
kampung ini dan blablabla..dengan kesal dan menahan tekanan suara, saya jawab: “bapak
tidak taukah saya sedang kesakitan dan bapak bertanya hal yang tidak masuk
akal?” Rasa takut timbul dalam diri saya, takut apabila dia tiba-tiba pergi karena
kecewa dan meninggalkan saya sendirian di tengah hutan ini. Jujur, saya masih
perlu dia dan saya sangat menghargai dia yang sudah datang menolong saya. Bapak
S pun langsung minta maaf dan melanjutkan pertanyaan yang lebih lebih tidak
masuk akal lagi:”ya sudah kalo ade tidak mau, ade punya temankah untuk saya” Ingin
rasanya tertawa ngakak namun saya coba bertingkah normal agar bapak S tidak
tersinggung.
Setelah berbincang sejenak akhirnya bapak S bersedia untuk mengantar saya ke rumah sakit umum daerah kota
Waisai dengan sepeda motor miliknya. Saya membalut luka di kaki kiri dengan
pashmina hitam pemberian seorang teman di Wamena sebagai hadiah perpisahan saat
itu. Kami meninggalkan sepeda motor yang saya pinjam karena saat itu saya sama
sekali tidak mungkin untuk mengendarainya turun ke kota. Setibanya kami di RS, dua
orang perawat dengan kesal membersihkan luka karena mereka harus bekerja lebih
banyak untuk membersihkan daun-daunan di atas luka saya. Seorang perawat
lagi-lagi menanyakan beberapa pertanyaan yang menyudutkan saya sebagai pasien,
kenapa lukanya ditutupi pakai daun dan kain?saya jawab sambil merintih menahan
sakit, “hanya itu yang saya bisa buat untuk menghentikan darah mba”, asalnya
dari mana, kerja dimana, bikin apa di Waisai, kenapa datang sendiri, berani
sekali datang sendiri dan blablabla...dan telepon genggam saya berbunyi, M (kenalan
dari seorang teman di Wamena) menanyakan kabar saya. Dia sangat kaget ketika
saya informasikan kejadian yang saya alami dan sore itu dia berjanji akan
datang menemui saya. Saat itu juga saya langsung menghubungi Pdt. Mayai di
Sorong dan menginformasikan keadaan saya. Luka sudah dibersihkan saya diperbolehkan
pulang. Saya menerima beberapa jenis obat untuk diminum, saya tanya apakah ada
obat untuk luka, mereka hanya bilang beli di apotik kalau mau bungkus luka.
Jujur saja informasi yang saya terima sangat tidak membantu, malah membuat saya
semakin bingung.
Sebelum kembali ke penginapan
saya ajak bapak S untuk makan siang. Di perjalanan menuju warung makan, kami
bertemu dengan abang ojek A, diapun terheran-heran melihat keadaan kaki saya.
Dia mendatangi kami, bapak S dengan baik hati menceritakan kejadian yang saya
alami. Abang ojek A menyayangkan kenapa saya tidak menghubungi dia untuk minta
bantuan pinjam motor dan menjadi “guide” seperti usulannya kemarin saat saya
baru tiba di Waisai. Sore itu kamipun sepakat bahwa saya akan diantar kembali
ke penginapan, kemudian bapak S dan abang ojek A akan pulang bersama ke lokasi kejadian
dimana saya jatuh. Sepeda motor yang ditinggal di lokasi kejadian akan dibawa
pulang oleh abang ojek A. Saya mengucapakan terimakasih kepada mereka yang
dengan baik hati menolong dan tidak lupa saya berikan imbalan kepada mereka. Tanpa
menolak mereka menerimanya.
> Pembaca setia saya mohon ijin
untuk kembali bernafas karena jantung saya tidak berhenti berdetak kencang saat
hal yang paling saya takutkan sepanjang liburan di Waisai harus saya tuangkan
dalam tulisan..saya janji episode 4 nanti adalah menjadi penutup dari cerita panjang perjalanan
saya ini. Sampai jumpa lagi...



