Sabtu, 30 Maret 2013

Petualangan Raja Ampat Episode 3


Bertemu kembali dalam petualangan Raja Ampat Part 3 setelah dua minggu rehat dan berpetualang ke kota Madrid dan Barcelona. Saya berharap pembaca setia tidak kehilangan alur cerita yang sebenarnya. Hari selasa tanggal 20 Maret 2012 saya putuskan untuk meminjam sepeda motor seorang tukang ojek supaya saya bisa bebas mengeksplor sendiri daerah Waisai, setelah harga disetujui kunci motor sudah di tangan saya. Tanpa curiga dengan keadaan motor, dengan penuh semangat saya segera mengawali jalan-jalan bersama sepeda motor rental. Perjalanan awal saya turun ke pelabuhan ferry untuk sekedar melihat kembali tempat kapal bersandar kemarin sore.  Kemudian putar balik menuju  ke utara kota Waisai, sambil bernyanyi kecil di atas motor saya mencoba menikmati pemandangan alam semi hutan. Saya melihat banyak pembukaan lahan baru, pohon-pohon ditebang, dinding tebing berlobang karena tanah di atasnya sudah dikeruk. Hutan hijau beranjak coklat karena yang mendominasi adalah pemandangan tanah berwarna coklat akibat adanya pembangunan jalan raya, perumahan, perkantoran yang sedang berlangsung di kota ini. Hutan yang tadinya rimba akan berubah menjadi kota wisata kepulauan, pikir saya. Dari utara saya berpindah ke arah selatan, pantai!Sepanjang perjalanan tidak banyak kendaraan yang berpapasan dengan saya. Sepi dan lengang!

Saya tiba di suatu pantai yang menyerupai teluk, banyak nyiur melambai seiring hembusan angin dari arah selatan. Saya menuju satu pelabuhan tua dan kini sepertinya tidak  digunakan lagi. Saya juga bertemu sepasang kekasih yang sedang kasmaran namun malu-malu ketika mata kami saling bertatap. Saya lihat sekeliling dan jauh di depan sana ada hutan yang masih sangat hijau. Hanya sebentar saja saya tinggal, kemudian saya beranjak dan mengendarai sepeda motor dengan niat menemukan hutan yang masih sangat hijau itu. Kembali saya bernyanyi dan sesekali bersiul untuk sekedar memecah kesunyian sepanjang perjalanan. Jalan yang saya lalui semakin jauh semakin berbatu dan menanjak. Beberapa tanjakan sudah saya lalui dan di depan saya ada jalan turunan dan upss, rem motor sepertinya tidak berfungsi baik. Oke cukup sampai di sini saja, pikir saya.
Saya berhenti dalam posisi jalan yang miring dan mencoba memutar balik arah sepeda motor. Jantung saya sudah mulai berdetak kencang karena yang saya ingat bahwa tanjakan terakhir yang saya lalui tadi sangat tajam dan panjang. Dengan perlahan dan sambil berdoa agar Tuhan menyertai saya, saya hidupkan mesin sepeda motor. Sepeda motor turun dengan gigi 1 pada posisi turunan yang sangat tajam, saya coba injak rem namun sepertinya tidak berpengaruh. Sepeda motor turun semakin laju, saya semakin tegang ketika saya lihat ada belokan tajam di depan, apa yang harus saya lakukan dengan belokan itu? Laju sepeda motor membuat ban terpeleset persis di belokan tajam dan brukkkkkkkkkk brakkkkkkk, saya terjatuh ke sebelah kiri, helm di kepala saya terpental jauh, dengan cepat saya lepas pegangan pada stang dan motor pun berguling di turunan. Ouhhh  saya ngeri seketika saya melihat darah segar mengalir dari lutut dan jempol kaki kiri, gesekan kaki kiri ke jalanan kering berbatu membuat lecet parah di sepanjang kaki kiri saya. Ada rasa sakit di tulang dada saya, saya coba ingat apa yang terjadi tadi. Ya, tulang dada terbentur ke badan stang sepeda motor. Segera saya buka tas tenteng yang juga ikut tersobek, dengan gemetaran saya ambil botol air mineral dan saya siramkan air ke sepanjang lutut hingga jempol kaki kiri yang berdarah dan bercampur debu tanah kering. Air mata menetes saat saya mencoba mengingat kembali kejadian yang berlangsung begitu cepat. Saya lihat ke sekeliling, yang ada hanya sepeda motor yang tergeletak di tengah jalan, helm yang terpelanting ke selokan, sandal jepit hijauku dengan bercak darah di atasnya dan hutan rimba di jurang sebelah kanan jalan. Ingin rasanya berteriak minta tolong, namun rasa perih dan sakit di kaki kiri membuatku tidak berdaya. Oh bagaimana bisa semua ini bisa terjadi?? Saya hanya menangis sambil membersihkan luka dengan tisu.
Beberapa saat kemudian saya mendengar ada suara dari kejauhan, seorang bapak berjalan ke arah saya sambil bertanya ade kenapa? Dia mendekat dan melihat keadaan saya. Bapak berinisial S membantu saya untuk berjalan menuju ke lokasi suatu gedung yang sudah tidak digunakan lagi. Saya duduk di emperan gedung sambil menunggu bapak S yang sedang mengambil sepeda motor dari tengah jalan. Dengan segera dia pergi mengambil daun-daun mujarab di hutan. Saya kunyah daun-daunan tersebut dan meletakkannya di atas sepanjang kaki kiri saya sebagai obat P3K ala orang kampung.  Perih yang sangat menusuk, namun benar daun-daunan ini sangat membantu di kala itu.  Sambil saya mengobati luka, bapak S pun memberondong saya dengan berbagai pertanyaan, sayapun menjawab sesekali saja sambil meringis kesakitan. Kenapa bisa jatuh, kenapa ade sendiri jalan-jalan ke hutan, ade dari mana, ade bikin apa di Waisai, ade orang apa, ade sudah menikah, dan pertanyaan yang luar biasa menggelikan namun menjengkelkan bagi saya saat itu, ade maukah menikah dengan saya?Saya punya kebun banyak, saya ini belum menikah, saya orang asli di kampung ini dan blablabla..dengan kesal dan menahan tekanan suara, saya jawab: “bapak tidak taukah saya sedang kesakitan dan bapak bertanya hal yang tidak masuk akal?” Rasa takut timbul dalam diri saya, takut apabila dia tiba-tiba pergi karena kecewa dan meninggalkan saya sendirian di tengah hutan ini. Jujur, saya masih perlu dia dan saya sangat menghargai dia yang sudah datang menolong saya. Bapak S pun langsung minta maaf dan melanjutkan pertanyaan yang lebih lebih tidak masuk akal lagi:”ya sudah kalo ade tidak mau, ade punya temankah untuk saya” Ingin rasanya tertawa ngakak namun saya coba bertingkah normal agar bapak S tidak tersinggung.

Setelah berbincang sejenak akhirnya bapak S bersedia untuk mengantar saya ke rumah sakit umum daerah kota Waisai dengan sepeda motor miliknya. Saya membalut luka di kaki kiri dengan pashmina hitam pemberian seorang teman di Wamena sebagai hadiah perpisahan saat itu. Kami meninggalkan sepeda motor yang saya pinjam karena saat itu saya sama sekali tidak mungkin untuk mengendarainya turun ke kota. Setibanya kami di RS, dua orang perawat dengan kesal membersihkan luka karena mereka harus bekerja lebih banyak untuk membersihkan daun-daunan di atas luka saya. Seorang perawat lagi-lagi menanyakan beberapa pertanyaan yang menyudutkan saya sebagai pasien, kenapa lukanya ditutupi pakai daun dan kain?saya jawab sambil merintih menahan sakit, “hanya itu yang saya bisa buat untuk menghentikan darah mba”, asalnya dari mana, kerja dimana, bikin apa di Waisai, kenapa datang sendiri, berani sekali datang sendiri dan blablabla...dan telepon genggam saya berbunyi, M (kenalan dari seorang teman di Wamena) menanyakan kabar saya. Dia sangat kaget ketika saya informasikan kejadian yang saya alami dan sore itu dia berjanji akan datang menemui saya. Saat itu juga saya langsung menghubungi Pdt. Mayai di Sorong dan menginformasikan keadaan saya. Luka sudah dibersihkan saya diperbolehkan pulang. Saya menerima beberapa jenis obat untuk diminum, saya tanya apakah ada obat untuk luka, mereka hanya bilang beli di apotik kalau mau bungkus luka. Jujur saja  informasi yang saya terima sangat tidak membantu, malah membuat saya semakin bingung.
Sebelum kembali ke penginapan saya ajak bapak S untuk makan siang. Di perjalanan menuju warung makan, kami bertemu dengan abang ojek A, diapun terheran-heran melihat keadaan kaki saya. Dia mendatangi kami, bapak S dengan baik hati menceritakan kejadian yang saya alami. Abang ojek A menyayangkan kenapa saya tidak menghubungi dia untuk minta bantuan pinjam motor dan menjadi “guide” seperti usulannya kemarin saat saya baru tiba di Waisai. Sore itu kamipun sepakat bahwa saya akan diantar kembali ke penginapan, kemudian bapak S dan abang ojek A akan pulang bersama ke lokasi kejadian dimana saya jatuh. Sepeda motor yang ditinggal di lokasi kejadian akan dibawa pulang oleh abang ojek A. Saya mengucapakan terimakasih kepada mereka yang dengan baik hati menolong dan tidak lupa saya berikan imbalan kepada mereka. Tanpa menolak mereka menerimanya.
> Pembaca setia saya mohon ijin untuk kembali bernafas karena jantung saya tidak berhenti berdetak kencang saat hal yang paling saya takutkan sepanjang liburan di Waisai harus saya tuangkan dalam tulisan..saya janji episode 4 nanti adalah menjadi penutup dari cerita panjang perjalanan saya ini. Sampai jumpa lagi...

Tidak ada komentar: