Senin, 14 Desember 2015

Merayakan cinta (lagi) di Gletser Trient

Setelah berhasil merayakan ulang tahun pertama pernikahan kami di Gletser Aletsch pertengahan bulan September tahun lalu, tahun ini lagi-lagi Patrick memunculkan ide untuk pergi mendaki ke pegunungan Alpen. Memang pertengahan bulan September sangat ideal untuk melakukan pendakian ke gunung, karena tepat akhir musim panas cuaca sangat bagus dan pemandangan pegunungan Alpen akan sangat indah. Ide kali ini adalah mendaki ke gletser Trient di barisan pegunungan "Mont Blanc" tepatnya di kabupaten Valais. Asal nama gletser ini diambil dari nama desa yang berada di di bawah lembah pegunungan ini. Untuk menuju ke sana kami menggunakan mobil kira-kira satu jam perjalanan dari kota Lausanne. Setelah memarkir mobil di parkiran umum, kami membeli tiket angkutan "mobil kabel" (yang biasanya dipakai para penggiat olah raga ski) untuk naik hingga awal pendakian kami menuju puncak Trient. Sebenarnya kami bisa mengawali pendakian dari parkiran hingga ke puncak namun akan membutuhkan waktu satu hari hingga tiba di puncak. Niat itu kami simpan untuk perjalanan pulang nanti.
Seperti biasanya, awan kabut menutupi pegunungan saat kami tiba di titik awal pendakian. Saat itu sudah pukul 12 siang, kemana matahari? Kami coba bertanya kepada orang yang sudah turun dari puncak mengenai keadaan cuaca di puncak, mereka bilang memang kabut, namun keadaan mungkin akan berubah. Kami akhirnya putuskan makan piknik yang sudah kami siapkan dari rumah. Sambil memperhatikan gerakan awan yang semakin naik dan naik, dan...setelah selesai kami putuskan memulai perjalanan.

Udara masih terasa dingin, namun matahari perlahan menampakkan wujudnya. Sepertinya dia malu-malu kucing melihat kami :P. Hal unik yang kami temukan adalah bebatuan yang berwarna hijau karena dilapisi oleh lumut. Mungkin karena ini daerah lembah dan lembab sehingga lumut suka hidup. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan banyak orang termasuk anak-anak yang suka mendaki bersama orangtua mereka. Ini memberikan semangat bagiku saat jalur mulai agak sulit dan melelahkan. Hal lain yang membuattku tercengang adalah ketika berpapasan dengan seeorang lelaki dengan tongkat penyanggah, karena dia hanya memiliki satu kaki. Dia dengan timnya melakukan perjalanan turun. Aku memperhatikan gerakannya, dasar mataku ini ga bisa beralih (soalnya baru pertama kali melihat orang seperti itu). Aku takjub dengan semangatnya dan usahanya. Dia sangat menginspirasiku!
Setelah tiga jam mendaki dan melewati lembah, kami akhinya menemukan ujung sungai gletser, tandanya sebentar lagi kami akan tiba. Gletser di Trient ini berbeda dengan gletser Aletsch, tempat dimana tahun lalu kami pergi juga. Kuantitas gletser sudah berkurang, yang kami lihat hanya genangan es yang mencair dan mengalir menuju lembah curam. Sejauh mata memandang, kami akhirnya berhasil melihat awal sungai gletser, terhampar putih memukau. Samar-samar juga kulihat satu rumah gunung di sisi tebing kanan dan berhadapan tepat dengan sungai gletser. Itulah tujuan kami? Ternyata benar, kami akan menginap di rumah itu, namanya Cabane d'Orny. Rumah ini adalah salah satu rumah gunung tujuan para pendaki dan pemanjat.                      

Tiba di penginapan kami manfaatkan untuk menikmati sinar matahari di teras dengan pemandangan danau kecil di sebelah kanan dan hamparan sungai gletser dan puncak cadasnya. Tidak disangka kami bertemu dengan teman kuliah Patrick dan teman pendakiannya, yang sudah tiba di tempat ini satu hari sebelumnya. Karena dia adalah pecinta panjat, dia mengajak kami untuk melakukan latihan panjat di tebing belakang penginapan. Aku sangat semangat tapi juga takut karena sudah lama sekali tidak melakukan kegiatan panjat di tebing. Kami memilih jalur yang tidak terlalu sulit karena aku dan Patrick bukanlah pemanjat yang handal. Hingga matahari hampir terbenam, kami selesaikan kegiatan panjat dan kembali ke penginapan untuk makan malam. Ga pake mandi karena airnya sangat dingin persis kayak air es batu yang baru mencair. Maklum di gunung ini tidak ada aliran listrik dari negara, pemilik penginapan hanya menggunakan mesin untuk mengaliran listrik. Ccuci muka dan sikat gigi aja rasanya menderita karena menyentuh dinginnya air es,brrrrrr......
Kami melewati malam yang ga terlalu nyaman, dua-duanya tidak tidur pulas. Sampe-sampe berspekulasi jangan-jangan karena kita berada di ketinggian jadi tidak terbiasa. Oh ya rumah gunung Cabane d'Orny ini sudah berada di ketinggian 2831 mdpl, dan merupakan satu-satunya penginapan yang masih beroperasi di akhir musim panas ini. Kata pemiliknya, minggu itu adalah minggu terakhir aktivitas di sini, karena setelah menjelang musim gugur, udara akan sangat dingin. Setelah sarapan pagi dengan baik, kami bersiap untuk melanjutkan pendakian ke rumah gunung yang lebih tinggi yaitu Cabane de Trient di ketinggian 3170 mdpl. Jalur yang harus kami lewati lebih sulit dengan jenis bebatuan kristal yang sangat indah. Kami sempatkan mencari batu kristal selama 30 menit dan kami menyembunyikannya di satu tempat dan mengambilnya saat perjalanan turun. 


Pemandangan hamparan gletser semakin indah didukung dengan sinarmatahari pagi itu sangat bersahabat. Pukul 11 siang kami tiba di rumah gunung Trient yang tidak berpenghuni lagi Tepat di belakang rumah ini ada bukit yang memungkinkan untuk didaki lagi untuk melihat pemandangan gletser dengan leluasa. 

Kami menghabiskan waktu selama tiga puluh menit di sana dan karena angin sudah mulai kencang, kami putuskan untuk turun. Perjalanan turun kali ini akan sangat panjang, karena kami akan berjalan kaki menyusuri pegunungan gingga tempat parkiran mobil. Seperti anggapan pada umumnya, perjalanan naik memang melelahkan tapi lebih menyebalkan lagi perjalanan turun karena harus menahan lutut agak kaki tidak terpeleset. Kami mengambil jalur yang berbeda dengan perjalanan saat kami naik kemarin. Sedikit memotong jalur namun tingkat kecuraman tebingnya sangat tinggi. Sehingga akusempat pusing karena darah rendah yang kambuh. Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan panjang menuruni tebing bebatuan hijau. Sambil bercerita dan menahan lutut yang sakit semakin terasa, kamipun tibda di parkiran mobil pukul 6 sore. Ohhh, akhrnya kami tiba dengan senyuman indah mengingat jejak langkah yang sudah kami lewati di hari bersejarah kami. Alam selalu memeberikan keindahan bagi pasangan yang mencintainya.

  

Tidak ada komentar: