Terjebak, sudah tiga setengah jam menunggu akhirnya jam
2 siang seorang tukang ojek mengajak saya untuk ikut menumpang ke Megapura.
Dengan hati yang senang saya naik dan menuju Megapura. Tiba di jembatan
Megapura kami berhenti dan bapak tukang ojek memarkirkan motornya di depan
rumah penduduk.
Perjalananku kali ini benar-benar mendebarkan karena ada
perang suku di desa Megapura. Perang tersebut disebabkan oleh meninggalnya
seorang warga yang bekerja sebagai tukang ojek karena ditabrak oleh supir
angkutan pedesaan. Peristiwa tersebut menyulut kemarahan dan emosi masyarakat
Megapura. Mereka tidak dapat menerima kejadian tersebut dan bermaksud perang
dengan warga asal supir agkot. Warga masyarakat Megapura menebang pohon di
pinggir jalan dan menutup akses jalan yang menghubungkan Wamena-Kurima dan
desa-desa lainnya. Hal ini sangatlah merugikan warga Kurima dan sekitarya yang
ingin melakukan perjalanan ke kota Wamena dan
sebaliknya dari kota
Wamena ke desa Kurima. Saat menunggu teman-teman menjemput di kali Yetni, saya
menyaksikan bagaimana terlantarnya warga masyarakat yang sudah membawa hasil
panen mereka untuk dijual di kota .
Anak-anak yang dibawa oleh orangtua mereka mulai resah dan menangis
karena sudah tidak merasakan kenyamanan lagi. Saya mencoba berbincang-bincang dengan mama-mama dan bapak-bapak yang sama-sama menunggu disana . Mereka juga mengeluhkan tindakan warga
Megapura yang tidak adil terhadap mereka. Mereka merasa korban yang tidak mengerti akan
permasalahan yang sebenarnya terjadi.
karena sudah tidak merasakan kenyamanan lagi. Saya mencoba berbincang-bincang dengan mama-mama dan bapak-bapak yang sama-sama menunggu di
Hingga pada akhirnya bapak
tukang ojek menyeberangkan motornya melalui kali Yetni dan berniat baik
mengantarkan saya hingga ke desa Megapura, dimana teman-teman sudah menunggu di
sana. Tiba di jembatan Megapura bapak tukang ojek menyampaikan bahwa beliau
tidak berani untuk mengantarkan saya hingga ke desa Megapura, dimana
teman-teman saya saat itu menunggu di SMP 3 Megapura. Akhirnya dua orang anak
di sana berniat baik mengantarkan saya dan melewati massa yang penuh dengan
konflik. Saya hanya bisa menyapa dengan ucapan selamat siang dan tersenyum
sambil berjalan cepat karena sebagai orang awam dan baru di kota ini saya
memiliki ketakutan dalam hati saya. Saya dapat melihat wajah-wajah seram yang
penuh kebencian, kesedihan, emosi dan kegeraman. Saya juga melihat ada kumpulan
orang-orang yang sedang berunding di halaman rumah warga yang ternyata adalah
musyawarah yang sampai melibatkan Bupati, kepolisian, tokoh adat, tokoh gereja.
Dari kejauhan saya melihat
mobil dinas WVI Kurima sedang diparkir dan saya spontan melambaikan tangan
dengan bahagia ke arah teman-teman yang bersembunyi di dalam mobil. Mobil
mundur perlahan mendekat ke arah saya, saya naik dan bersyukur bertemu dengan
teman-teman yang dengan sabar telah menunggu saya. Saya lolos dari daerah konflik
tersebut dan tidak tahu pasti kapan bisa kembali lagi ke desa Seima.
Pelajaran penting yang saya dapat dari kejadian
ini adalah bahwa masalah tidak seharusnya diselesaikan dengan membuat masalah
baru. Solidaritas masyarakat Papua terhadap sesama warga memang sangat sangat
tinggi hingga rela perang untuk berjuang melawan ketidakadilan yang menurut
mereka harus segera diselesaikan. Namun kadang emosi yang lebih banyak
berperan, hingga apa yang dilakukan tidak selamanya logis dan masuk akal.
Hingga hitungan bulan masalah
tersebut masih dalam proses penyelesaian di pengadilan kota Wamena, berharap
masalah tersebut segera selesai dan membuahkan keputusan yang adil untuk orang
banyak dan tidak hanya memberatkan orang lain yang tidak bersalah.
*tulisan ini saya buat bulan November 2009 ketika saya tinggal di Wamena-Papua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar