Rabu, 31 Oktober 2012

Berdamai dengan Konflik


Terjebak, sudah tiga setengah jam menunggu akhirnya jam 2 siang seorang tukang ojek mengajak saya untuk ikut menumpang ke Megapura. Dengan hati yang senang saya naik dan menuju Megapura. Tiba di jembatan Megapura kami berhenti dan bapak tukang ojek memarkirkan motornya di depan rumah penduduk.
Perjalananku kali ini benar-benar mendebarkan karena ada perang suku di desa Megapura. Perang tersebut disebabkan oleh meninggalnya seorang warga yang bekerja sebagai tukang ojek karena ditabrak oleh supir angkutan pedesaan. Peristiwa tersebut menyulut kemarahan dan emosi masyarakat Megapura. Mereka tidak dapat menerima kejadian tersebut dan bermaksud perang dengan warga asal supir agkot. Warga masyarakat Megapura menebang pohon di pinggir jalan dan menutup akses jalan yang menghubungkan Wamena-Kurima dan desa-desa lainnya. Hal ini sangatlah merugikan warga Kurima dan sekitarya yang ingin melakukan perjalanan ke kota Wamena dan sebaliknya dari kota Wamena ke desa Kurima. Saat menunggu teman-teman menjemput di kali Yetni, saya menyaksikan bagaimana terlantarnya warga masyarakat yang sudah membawa hasil panen mereka untuk dijual di kota. Anak-anak yang dibawa oleh orangtua mereka mulai resah dan menangis
karena sudah tidak merasakan kenyamanan lagi. Saya mencoba berbincang-bincang dengan mama-mama dan bapak-bapak yang sama-sama menunggu di sana. Mereka juga mengeluhkan tindakan warga Megapura yang tidak adil terhadap mereka. Mereka merasa korban yang tidak mengerti akan permasalahan yang sebenarnya terjadi.
Hingga pada akhirnya bapak tukang ojek menyeberangkan motornya melalui kali Yetni dan berniat baik mengantarkan saya hingga ke desa Megapura, dimana teman-teman sudah menunggu di sana. Tiba di jembatan Megapura bapak tukang ojek menyampaikan bahwa beliau tidak berani untuk mengantarkan saya hingga ke desa Megapura, dimana teman-teman saya saat itu menunggu di SMP 3 Megapura. Akhirnya dua orang anak di sana berniat baik mengantarkan saya dan melewati massa yang penuh dengan konflik. Saya hanya bisa menyapa dengan ucapan selamat siang dan tersenyum sambil berjalan cepat karena sebagai orang awam dan baru di kota ini saya memiliki ketakutan dalam hati saya. Saya dapat melihat wajah-wajah seram yang penuh kebencian, kesedihan, emosi dan kegeraman. Saya juga melihat ada kumpulan orang-orang yang sedang berunding di halaman rumah warga yang ternyata adalah musyawarah yang sampai melibatkan Bupati, kepolisian, tokoh adat, tokoh gereja.
Dari kejauhan saya melihat mobil dinas WVI Kurima sedang diparkir dan saya spontan melambaikan tangan dengan bahagia ke arah teman-teman yang bersembunyi di dalam mobil. Mobil mundur perlahan mendekat ke arah saya, saya naik dan bersyukur bertemu dengan teman-teman yang dengan sabar telah menunggu saya. Saya lolos dari daerah konflik tersebut dan tidak tahu pasti kapan bisa kembali lagi ke desa Seima.
Pelajaran penting yang saya dapat dari kejadian ini adalah bahwa masalah tidak seharusnya diselesaikan dengan membuat masalah baru. Solidaritas masyarakat Papua terhadap sesama warga memang sangat sangat tinggi hingga rela perang untuk berjuang melawan ketidakadilan yang menurut mereka harus segera diselesaikan. Namun kadang emosi yang lebih banyak berperan, hingga apa yang dilakukan tidak selamanya logis dan masuk akal.
Hingga hitungan bulan masalah tersebut masih dalam proses penyelesaian di pengadilan kota Wamena, berharap masalah tersebut segera selesai dan membuahkan keputusan yang adil untuk orang banyak dan tidak hanya memberatkan orang lain yang tidak bersalah.

*tulisan ini saya buat bulan November 2009 ketika saya tinggal di Wamena-Papua

Tidak ada komentar: