Pagi
ini sekitar pukul 11 waktu Lausanne untuk kedua kalinya saya bermain sepatu
luncur bersama teman yang juga sudah lima tidak bermain olahraga ini. Untuk
hari ini kami sama-sama pemula, walaupun sebenarnya dia sudah melakukan
olahraga ini pada waktu kecil, di Arizona, Amerika Serikat. Saya pribadi, semasa
SD mengenal permainan ini lewat kompetisi Olimpik yang selalu disiarkan oleh
saluran televisi, saat itu saya terkagum-kagum dengan penampilan indah para
atlet sepatu luncur. Untuk pertama kalinya saya mencoba melakukan permainan ini
sekitar 2 minggu yang lalu dan karena menyukainya, kali ini saya mengajak teman
untuk mencoba lagi sekaligus menikmati masa liburan sekolah yang panjang. Lokasi
permainan sepi, kami merupakan pegunjung pertama hari ini. Setelah memesan
sepatu sesuai ukuran kaki masing-masing kamipun terjun langsung ke lantai es.
Perasaan takut di awal permainan sangat wajar, sembari tertawa kami mulai melangkahkan
kaki ala seorang peluncur yang sudah mahir.
Ouh,
sedikit licin, kami harus berhati-hati. Selangkah, dua langkah seterusnya
semakin penasaran dan timbul keinginan untuk lebih mahir. Oh, ternyata kami
tidak akan selamanya menguasai lantai es ini, ada tiga orang yang baru turun
dan bergabung dengan kami. Saya perhatikan ternyata dua orang di antara mereka
juga pemula seperti kami, satu orang yang lain dengan sabar mendampingi mereka. Sambil
bercerita saya dan teman saya mencoba menyeimbangkan kecepatan dan semakin
cepat kemudian timbul rasa takut lagi, sehingga kami berusaha melambat dan
mencoba seimbang dan bukkk sayapun jatuh dengan pantat menghantam lantai es nan keras
dan dingin kemudian disusul oleh kedua telapak tangan saya yang mencoba menahan
berat badan saya yang akhir-akhir ini sedikit lebih berat dari sebelumnya. Saya
berusaha bangun namun dasar sepatu luncur yang runcing tidak berhasil membuat
saya bangun dengan sempurna dan akhirnya teman saya mengulurkan tangan dan berhasil.
Saya kembali semangat untuk melanjutkan permainan ini dan mulai
lancar melangkah lebih cepat dan ooo..oo harus perhatikan keseimbangan. Sambil
berbagi cerita kami mengitari lantai es berulang kali dan akhirnya diinterupsi
oleh kehadiran hujan. Kami putuskan untuk mengakhir permainan ini karena
bermain di bawah hujan tidaklah seindah adegan dalam film “dancing in the rain”,
yang mungkin terjadi adalah kami akan jatuh sakit di tengah musim nan dingin
ini.
Kami
melanjutkan makan siang bersama di sebuah restoran di pusat kota Lausanne, Swiss
dan berbagi cerita kehidupan, hingga akhirnya menyinggung soal suka-duka
belajar bahasa Perancis. Kami adalah teman satu kelas di Université de Lausanne
dan sama-sama baru enam bulan hidup di negara ini. Saya kembali ke rumah dengan
rasa sakit yang mulai terasa di kedua telapak tangan dan pantat saya. Dari
pertemuan selama selama 3 jam tersebut, saya mencoba merenung dan memaknai
bahwa kesulitan dalam belajar sepatu luncur (yang notabene baru buat saya) sama
dengan kesulitan mempelajari bahasa Perancis yang sok seksi dan romantis ini. Melalui
proses yang penuh dengan turbulensi, ketakutan, rasa penasaran, semangat yang
naik turun, terjatuh, menangis, tertawa, mengalah, bangkit lagi dan mungkin
masih akan berlanjut entah sampai kapan, saya tidak tahu pun teman saya. Untuk
hidup di negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya,
kami memang harus mengalah dan memulai semua hal dari dasar termasuk belajar
bahasa. Memilih untuk tinggal dan hidup di negara lain sudah diawali dengan
pertimbangan dan dalam perjalanannya melewati banyak proses yang kadang
menyenangkan dan sebaliknya membuat letih jiwa dan raga. Banyak hal yang
membutuhkan adaptasi dan kompromi dari diri sendiri, hanya kesabaran yang harus
terus dipupuk dan tentunya selalu bersyukur dengan keadaan apapun yang sedang
dijalani, teringat dengan motto seorang filsuf dari Yunani, kakek EpikurosJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar