Kamis, 16 Januari 2014

Hidup seperti bermain sepatu luncur

Pagi ini sekitar pukul 11 waktu Lausanne untuk kedua kalinya saya bermain sepatu luncur bersama teman yang juga sudah lima tidak bermain olahraga ini. Untuk hari ini kami sama-sama pemula, walaupun sebenarnya dia sudah melakukan olahraga ini pada waktu kecil, di Arizona, Amerika Serikat. Saya pribadi, semasa SD mengenal permainan ini lewat kompetisi Olimpik yang selalu disiarkan oleh saluran televisi, saat itu saya terkagum-kagum dengan penampilan indah para atlet sepatu luncur. Untuk pertama kalinya saya mencoba melakukan permainan ini sekitar 2 minggu yang lalu dan karena menyukainya, kali ini saya mengajak teman untuk mencoba lagi sekaligus menikmati masa liburan sekolah yang panjang. Lokasi permainan sepi, kami merupakan pegunjung pertama hari ini. Setelah memesan sepatu sesuai ukuran kaki masing-masing kamipun terjun langsung ke lantai es. Perasaan takut di awal permainan sangat wajar, sembari tertawa kami mulai melangkahkan kaki ala seorang peluncur yang sudah mahir.
Ouh, sedikit licin, kami harus berhati-hati. Selangkah, dua langkah seterusnya semakin penasaran dan timbul keinginan untuk lebih mahir. Oh, ternyata kami tidak akan selamanya menguasai lantai es ini, ada tiga orang yang baru turun dan bergabung dengan kami. Saya perhatikan ternyata dua orang di antara mereka juga pemula seperti kami, satu orang yang lain dengan sabar mendampingi mereka. Sambil bercerita saya dan teman saya mencoba menyeimbangkan kecepatan dan semakin cepat kemudian timbul rasa takut lagi, sehingga kami berusaha melambat dan mencoba seimbang dan bukkk sayapun jatuh  dengan pantat menghantam lantai es nan keras dan dingin kemudian disusul oleh kedua telapak tangan saya yang mencoba menahan berat badan saya yang akhir-akhir ini sedikit lebih berat dari sebelumnya. Saya berusaha bangun namun dasar sepatu luncur yang runcing tidak berhasil membuat saya bangun dengan sempurna dan akhirnya teman saya mengulurkan tangan dan berhasil. Saya kembali semangat untuk melanjutkan permainan ini dan mulai lancar melangkah lebih cepat dan ooo..oo harus perhatikan keseimbangan. Sambil berbagi cerita kami mengitari lantai es berulang kali dan akhirnya diinterupsi oleh kehadiran hujan. Kami putuskan untuk mengakhir permainan ini karena bermain di bawah hujan tidaklah seindah adegan dalam film “dancing in the rain”, yang mungkin terjadi adalah kami akan jatuh sakit di tengah musim nan dingin ini.
Kami melanjutkan makan siang bersama di sebuah restoran di pusat kota Lausanne, Swiss dan berbagi cerita kehidupan, hingga akhirnya menyinggung soal suka-duka belajar bahasa Perancis. Kami adalah teman satu kelas di Université de Lausanne dan sama-sama baru enam bulan hidup di negara ini. Saya kembali ke rumah dengan rasa sakit yang mulai terasa di kedua telapak tangan dan pantat saya. Dari pertemuan selama selama 3 jam tersebut, saya mencoba merenung dan memaknai bahwa kesulitan dalam belajar sepatu luncur (yang notabene baru buat saya) sama dengan kesulitan mempelajari bahasa Perancis yang sok seksi dan romantis ini. Melalui proses yang penuh dengan turbulensi, ketakutan, rasa penasaran, semangat yang naik turun, terjatuh, menangis, tertawa, mengalah, bangkit lagi dan mungkin masih akan berlanjut entah sampai kapan, saya tidak tahu pun teman saya. Untuk hidup di negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya, kami memang harus mengalah dan memulai semua hal dari dasar termasuk belajar bahasa. Memilih untuk tinggal dan hidup di negara lain sudah diawali dengan pertimbangan dan dalam perjalanannya melewati banyak proses yang kadang menyenangkan dan sebaliknya membuat letih jiwa dan raga. Banyak hal yang membutuhkan adaptasi dan kompromi dari diri sendiri, hanya kesabaran yang harus terus dipupuk dan tentunya selalu bersyukur dengan keadaan apapun yang sedang dijalani, teringat dengan motto seorang filsuf dari Yunani, kakek EpikurosJ

Tidak ada komentar: