Apakah anda pernah mendengar acara
adat bakar batu? Mungkin sebagian pernah baca di internet, mendengar dari
teman, menonton di televisi atau bahkan sudah pernah melihat dengan langsung
acara ini berlangsung. Di sini saya mau berbagi pengalaman budaya dengan anda.
Bakar batu merupakan acara resmi yang diadakan oleh masyarakat secara
bersama-sama untuk merayakan suatu hal yang penting, misalnya pernikahan, damai
setelah perang, penamatan anak sekolah, peresmian gereja dan acara ulangtahun.
Satu bulan berada di Wamena, saat itu tanggal 12 Desember 2010 saya tinggal bersama masyarakat di Seima. Sebagai orang baru saya akan dengan senang hati berkenalan dengan masyarakat, alam dan budaya yang mereka miliki. Saat itu bertepatan dengan peresmian satu gereja baru yang sudah selesai pembangunannya. Acara tersebut dirayakan secara besar-besaran dan sangat meriah dan dihadiri oleh orang-orang penting serta masyarakat dari kampung dan gereja lain. Ada juga tentara dengan jumlah besar ditugaskan untuk berjaga-jaga lengkap dengan senjata laras panjang di tangan mereka. Hmmm...saya sempat bertanya sebenarnya kenapa mereka harus diturunkan untuk berjaga-jaga, jawaban yang saya terima adalah bahwa itu memang sudah menjadi tugas mereka berjaga-jaga di tempat dimana ada sejumlah besar orang berkumpul dalam satu acara. Terimakasih bapak tentara sudah baik dan bersedia berjaga untuk masyarakat:)
Bagi anda yang belum pernah melihat
proses bakar batu berlangsung, berikut saya paparkan proses yang saya ikuti
saat itu:
-
Batu disusun rapi dan bertingkat di dalam satu lahan sepanjang 50 meter. Di tepinya kayu sudah disusun rapi dan di atas batu diletakkan rumput-rumput dan
ranting-ranting kering.
- Tidak jauh
dari tempat pembakaran batu, dilakukan penggalian tanah dan menjadi lobang
secara terpisah dalam jumlah yang banyak.
Lobang-lobang inilah yang nantinya dipakai untuk tempat
pembakaran makanan (Ubi, sayur-sayuran, keladi dan babi)
- Jam enam pagi masyarakat sudah
berkumpul di lapangan menyanyikan lagu-lagu daerah khas pegunungan tengah, Papua.
- Rombongan babi dikumpulkan di lapangan sejumlah 90 ekor yang akan dibunuh untuk acara
tersebut.
- Sebagian masyarakat mengambil
rumput-rumput hijauh ke bukit-bukit sambil menyanyikan lagu-lagu daerah.
- Setelah tempat pembakaran siap,
babi-babi
mulai dibunuh dengan cara dipanah di bagian perut.
- Babi-babi yang sudah tidak bernyawa
disusun berjejer di lapangan. Setiap keluarga menyiapkan lobang pembakaran khusus
untuk babi-babi mereka.
- Babi-babi yang telah tersusun
rapi dibagi kepada masing-masing keluarga untuk dibakar dan setelah itu isi perut dan
usus dikeluarkan dan disimpan untuk acara keesokan harinya.
- Batu-batu yang sebelumnya
sudah dimasukkan dalam tempat pembakaran dibakar hingga menjadi panas, kemudian dilakukan
pemindahan batu panas ke lobang-lobang yang
sudah disiapkan. Di atas batu panas diletakkan rumput hijau, kemudian daging babi, ubi,
jagung, keladi dan sayur-sayuran disusun secara berlapis memenUhi lobang
- Lobang tersebut ditutup hingga
rapat dengan menggunakan terpal
plastik, selama 3 jam, kemudian pada sore hari dibuka dan
dilakukan pembongkaran makanan yang
sudah menjadi masak oleh batu panas
- Makanan
dikeluarkan, daging dipotong-potong dan tim pengantar makanan sudah bersiap
menyambut dengan tarian mereka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar